Hanya beberapa hari sebelum lampu start padam di Melbourne, perang urat syaraf di Formula 1 telah bergeser dari lintasan ke ruang sidang FIA. Tim-tim rival kini secara terang-terangan meminta federasi untuk melakukan intervensi terhadap keunggulan mesin Ferrari, sebuah langkah yang disebut banyak pihak sebagai upaya putus asa untuk menutupi kesalahan desain mereka sendiri.
Perselisihan ini bermula dari data tes pramusim yang menunjukkan bahwa mesin Ferrari mampu mencapai tekanan turbo maksimal jauh lebih cepat dibandingkan mesin lainnya. Dalam regulasi 2026 yang menghapuskan bantuan elektrik MGU-H, kemampuan ini adalah "emas murni" untuk manuver start-and-stop. Rival mengklaim bahwa keunggulan ini menciptakan ketidakseimbangan yang tidak sehat, namun bagi Ferrari, ini hanyalah hasil dari kecerdasan insinyur mereka dalam membaca celah regulasi yang sudah ada sejak dua tahun lalu.
Tuntutan Tim Rival:
- Standarisasi Map Mesin: Memaksa semua tim menggunakan profil pengiriman tenaga yang serupa saat fase start.
- Limitasi Pre-heating: Membatasi waktu di mana tim diizinkan memutar turbo sebelum balapan dimulai.
- Keseimbangan Performa (BoP): Usulan terselubung untuk memberikan sedikit kelonggaran berat bagi mobil yang tidak menggunakan mesin Ferrari.
FIA saat ini berada dalam posisi yang sangat sulit. Jika mereka mengabulkan permintaan rival, mereka berisiko merusak integritas teknis F1 di mana inovasi seharusnya dihargai. Namun, jika mereka membiarkan Ferrari mendominasi setiap start balapan dengan selisih yang mencolok, ketegangan politik di paddock dipastikan akan meledak sepanjang musim.
Fred Vasseur dilaporkan telah menyiapkan "Veto Ferrari" jika FIA mencoba mengubah parameter teknis Power Unit secara paksa di luar jendela pengembangan yang sah. Situasi ini menunjukkan bahwa musim 2026 mungkin tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki pembalap tercepat, melainkan oleh siapa yang paling piawai memenangkan perdebatan hukum di Paris.




