Evolusi Hubungan: Dari Boikot hingga Aliansi Terbuka
Perdana Menteri India, Narendra Modi, bersiap memulai kunjungan kerja dua hari ke Israel pada akhir Februari ini. Langkah ini merupakan kelanjutan dari kunjungan bersejarahnya pada 2017, yang memecahkan tabu diplomatik puluhan tahun di mana pemimpin India sebelumnya enggan menginjakkan kaki di Tel Aviv. Hubungan kedua negara telah mengalami transformasi radikal: dari penolakan keras terhadap pendirian negara Israel pada 1948, hingga menjadi mitra strategis di mana Israel kini menjadi pemasok utama alutsista bagi New Delhi.
Perkembangan ini menandai era "pelukan terbuka" yang menggantikan hubungan rahasia di masa lalu. Pada dekade 1960-an hingga 1990-an, India secara sembunyi-sembunyi menerima bantuan intelijen dan senjata dari Israel selama konflik perbatasan, sambil secara vokal mendukung perjuangan Palestina di panggung PBB. Sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1992, nilai perdagangan bilateral melonjak drastis dari 200 juta USD hingga menyentuh angka 6,5 miliar USD pada 2024.
Analisis: Kalkulasi Strategis di Tengah Polarisasi
Di bawah kepemimpinan Modi, India menerapkan kebijakan strategic balancing yang kompleks. Di satu sisi, kerja sama militer dengan perusahaan seperti Elbit Systems dan Rafael terus diperkuat melalui kemitraan dengan konglomerat domestik seperti Adani dan Tata. Di sisi lain, India tidak dapat mengabaikan hubungan ekonominya dengan negara-negara Arab di Teluk yang merupakan sumber utama ketahanan energi dan tempat bernaungnya jutaan tenaga kerja migran India.
Kunjungan ini dipandang sebagai ujian bagi kredibilitas India sebagai pemimpin Global South. Sementara banyak pemimpin Barat telah mengunjungi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pasca-serangan 7 Oktober 2023, Modi mengambil jalan tengah dengan mengutuk krisis kemanusiaan namun sering kali abstain dalam resolusi gencatan senjata di PBB. Para analis menilai India berupaya mengurangi hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah dengan membangun hubungan mandiri dengan semua aktor regional, termasuk Iran, guna memastikan stabilitas jangka panjang.
Masa Depan Relasi India-Palestina
Meskipun hubungan dengan Tel Aviv kian mesra, New Delhi secara resmi tetap mendukung solusi dua negara (two-state solution). Namun, intensitas dukungan tersebut kini bersifat lebih administratif daripada aktivisme politik. Kritik domestik dari oposisi menuduh pemerintah mengkhianati sejarah solidaritas anti-kolonial demi keuntungan pertahanan jangka pendek. Kendati demikian, keterlibatan India dalam mengecam aneksasi di Tepi Barat baru-baru ini menunjukkan bahwa India masih menyisakan ruang bagi hukum internasional untuk membatasi ambisi teritorial sekutu terdekatnya tersebut.
Proyeksi Diplomasi: Netralitas Tinggi
Kunjungan pekan depan diprediksi akan sangat sarat dengan retorika "kerjasama teknologi dan kewirausahaan." Modi kemungkinan besar akan menghindari pernyataan publik yang kontroversial terkait Gaza dan lebih memilih gaya diplomasi netral. Fokus utama tetap pada integrasi ekonomi regional dan transfer teknologi militer yang vital bagi program Make in India. Di tengah ketegangan Washington-Tehran yang meningkat, India memposisikan dirinya sebagai entitas yang mampu berbicara dengan semua pihak tanpa kehilangan keuntungan bilateral yang krusial.




