Ironi besar melanda sektor kesehatan nasional. Di saat pemerintah gencar membangun infrastruktur rumah sakit berstandar internasional, jutaan warga negara Indonesia justru memilih terbang ke negara tetangga untuk mendapatkan layanan medis. Laporan terbaru dari Tempo pada 14 Februari 2026 mengungkapkan angka yang mencengangkan: Indonesia kehilangan potensi devisa sebesar US$10 miliar (sekitar Rp155 triliun) setiap tahunnya akibat fenomena wisata medis ke luar negeri (outbound medical tourism).
Mengapa Tetangga Lebih Menarik?
Presiden Direktur Pertamedika IHC, drg. Mira Dyah Wahyuni, MARS, menyoroti bahwa faktor utama bukanlah sekadar ketersediaan alat canggih, melainkan "pengalaman pasien" (patient experience) dan kepercayaan (trust). Negara-negara tujuan favorit seperti Malaysia (Penang, Kuala Lumpur), Singapura, dan Thailand dinilai unggul dalam hal komunikasi dokter-pasien yang lebih empatik, transparansi biaya, serta kecepatan diagnosa yang akurat.
Selain itu, paket wisata medis yang terintegrasi—menggabungkan pengobatan dengan liburan dan akomodasi—menjadi daya tarik yang sulit ditolak oleh kelas menengah atas Indonesia. "Mereka tidak hanya mencari sembuh, tapi juga kenyamanan dan kepastian," ujar Mira. Kekurangan tenaga spesialis di daerah dan antrean panjang BPJS di dalam negeri juga turut mendorong pasien yang mampu secara finansial untuk mencari alternatif yang lebih efisien di seberang lautan.
Tantangan KEK Kesehatan Sanur
Pemerintah tidak tinggal diam. Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan di Sanur, Bali, yang menggandeng Mayo Clinic dari AS, diharapkan menjadi bendungan untuk menahan laju "kebocoran" devisa ini. Namun, tantangan terbesarnya adalah meyakinkan kembali masyarakat domestik bahwa kualitas layanan di tanah air sudah setara global. Tanpa perbaikan fundamental pada budaya pelayanan (hospitality culture) di rumah sakit lokal, gedung mewah saja mungkin belum cukup untuk membalikkan tren ini.




