Melissa Joan Hart Kenang Derita di Balik Episode Sabrina: Muntah-muntah hingga Nyaris Pingsan
Baca dalam 60 detik
- Melissa Joan Hart mengungkap kondisi kesehatannya yang memburuk saat syuting episode finale musim ketiga Sabrina the Teenage Witch di Hawaii.
- Meski demikian, ia tetap menyimpan kenangan manis dan kerap menguji pengetahuan penggemar soal rahasia keluarga Spellman.
- Pengalaman sebagai bintang cilik membentuk etos kerjanya, walau diakui sempat menghambat perkembangan sosialnya.

Melissa Joan Hart, aktris yang memerankan Sabrina Spellman dalam serial fantasi remaja ABC Sabrina the Teenage Witch, membuka cerita kelam di balik layar. Saat menonton kembali episode finale musim ketiga berjudul The Good, the Bad and the Luau, ia langsung teringat momen tubuhnya drop di lokasi syuting—muntah-muntah hebat dan hampir kehilangan kesadaran.
Episode yang tayang pada 1999 itu membawa Sabrina ke Hawaii untuk reuni keluarga, di mana ia mengetahui bahwa setiap anggota klan Spellman memiliki kembaran. Sabrina harus berhadapan dengan kembarannya, Katrina, untuk menentukan siapa yang baik dan siapa yang jahat. Namun, proses pengambilan gambar di bawah terik matahari justru menjadi mimpi buruk bagi Hart.
“Saya ingat betul, di atas gunung berapi itu, saya muntah-muntah parah. Saya minta key grip berdiri di belakang saya untuk berjaga-jaga kalau saya pingsan dan jatuh,” ujar Hart kepada Entertainment Weekly, seperti dikutip dari wawancara terbaru. “Saya muntah di luar kamera, tapi tetap harus berdiri dan memerankan dua versi diri saya. Jadi ketika menontonnya, saya hanya bisa bergumam, ‘Ya Tuhan, apa kamu baik-baik saja?’”
Meski kondisi fisiknya terganggu, Hart tetap mengenang episode tersebut dengan hangat. Ia bahkan memiliki cara unik untuk menguji para penggemar di berbagai ajang Comic Con. “Saya selalu bertanya ke anak-anak, ‘Apakah kamu tahu rahasia keluarga Spellman?’ Saya mengukur seberapa dalam mereka mengenal serial ini dari jawaban mereka,” tuturnya.
Bagi Hart, karakter Sabrina bukanlah sosok yang mudah diperankan. “Sabrina itu tipe orang yang berusaha menghilang, tidak suka menonjol. Tapi untungnya dia mendapat banyak sekali petualangan aneh dan gila, jadi aktingnya tetap seru,” jelasnya. Ia menyebut berbagai peran tambahan seperti menjadi kembaran jahat, Alice di Negeri Ajaib, atau artis trapeze membuatnya betah menjalani peran itu selama bertahun-tahun.
“Saya rasa itu memberi saya etos kerja yang baik. Membantu saya tumbuh lebih cepat, belajar tentang diri sendiri, dan mandiri. Tapi di sisi lain, secara sosial perkembangannya jadi terhambat,” kenang Hart tentang masa kecilnya sebagai bintang cilik.
Kendati demikian, ia tidak menyesali masa lalunya. Berkat peran orang tuanya—produser Paula Hart dan aktor William Hart—Hart tetap merasakan masa kecil yang normal. “Saya cukup normal, meski sudah akting sejak usia empat tahun. Saya ikut Girl Scouts, pergi ski bareng keluarga. Jadi ada banyak hal wajar di tengah dunia yang aneh ini,” pungkasnya.
Kisah Hart menjadi cermin bagaimana tekanan industri hiburan dapat membebani kesehatan fisik dan mental para bintang muda. Di Indonesia, sejumlah artis cilik juga menghadapi tantangan serupa ketika harus menjalani jadwal syuting padat sambil tetap menempuh pendidikan. Publik pun kian kritis terhadap perlindungan anak di dunia seni peran. Ke depan, mampukah industri hiburan—baik di Hollywood maupun Tanah Air—menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi bagi para pemain mudanya?



