BlackRock Tegaskan Strategi Kripto Tak Terpengaruh Hasil Pemilu AS, Fokus pada Adopsi
Baca dalam 60 detik
- Robert Mitchnick dari BlackRock menyatakan hasil pemilu paruh waktu AS tidak akan mengubah rencana produk dan aliran investasi kripto perusahaan.
- Regulasi yang sudah memadai untuk bitcoin dan ether dinilai cukup untuk mendukung produk investasi, meski legislasi kripto lebih luas masih tertahan di Kongres.
- Industri perlu membuktikan nilai ekonomi agar kripto tidak menjadi isu politik partisan dan tetap diminati lintas pemerintahan.

Hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada Selasa (3/11) tidak akan menggoyang strategi kripto BlackRock, menurut Robert Mitchnick, kepala aset digital perusahaan manajer investasi terbesar dunia itu. Dalam forum ETF Investor di New York, ia menegaskan bahwa peluncuran produk dan arus investasi tidak akan terpengaruh oleh hasil pemilu.
Pernyataan itu muncul ketika pasar kripto sedang dilanda ketidakpastian menjelang pemilu. Bitcoin mencatat kerugian mingguan kelima berturut-turut, sebagian akibat kekhawatiran atas hasil pemilu dan peringatan dari Apple yang membebani sentimen pasar secara keseluruhan. Namun, bagi BlackRock, gejolak jangka pendek tidak mengubah rencana jangka panjang.
Mitchnick menilai bitcoin dan ether sudah memiliki cukup kejelasan regulasi untuk memungkinkan perusahaan menawarkan produk investasi, meskipun undang-undang kripto yang lebih luas masih terkatung-katung di Kongres. Ia menyebut Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) telah proaktif bekerja sama dengan industri. "Bitcoin sudah memiliki banyak yang dibutuhkan," ujarnya, seperti dikutip CoinDesk.
Lebih jauh, Mitchnick menekankan perlunya industri membuktikan nilai ekonomi agar kripto tidak menjadi bola politik yang mudah dipermainkan saat pemerintahan berganti. "Semakin Anda mendorong adopsi, semakin Anda mendorong kasus penggunaan yang benar-benar bernilai tambah, semakin itu menjadi isu bipartisan," tuturnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa adopsi yang luas akan mengurangi risiko regulasi yang berubah-ubah seiring pergantian rezim.
Bagi investor Indonesia, sikap BlackRock ini bisa menjadi sinyal bahwa raksasa keuangan global tetap serius menggarap aset digital meski lanskap politik AS tidak menentu. Dengan total aset kelolaan ETF kripto mencapai US$75 miliar, BlackRock memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan pasar. Di dalam negeri, minat terhadap kripto juga meningkat, dan kejelasan regulasi dari otoritas seperti Bappebti dan OJK akan sangat menentukan apakah Indonesia dapat menarik investasi serupa.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah adopsi kripto dapat benar-benar menjadi isu bipartisan di AS, atau justru semakin terpolitisasi menjelang pemilu presiden. Jika industri mampu menunjukkan nilai ekonomi yang nyata, tekanan politik terhadap kripto mungkin akan mereda. Namun, jika tidak, regulasi yang tidak pasti dapat terus menghantui pasar.



