Dana Nasabah Rp58 Triliun Mengalir Keluar dari Binance, Bitcoin Tertekan ke US$77.900
Baca dalam 60 detik
- Binance mencatat arus keluar bersih US$3,64 miliar dalam sehari setelah pembukaan penarikan bertahap, memicu kekhawatiran likuiditas di exchange terbesar dunia.
- Harga Bitcoin turun tipis 0,4% ke US$77.900, sementara ETF spot Bitcoin AS kehilangan US$643 juta pada Jumat—arus keluar harian terbesar sejak Juni.
- FBI secara resmi menuduh kelompok TraderTraitor dari Korea Utara sebagai pelaku pencurian US$6,3 miliar, dan Binance baru menutup sekitar 95% kerugian.

Arus dana keluar dari Binance kembali mencuat setelah bursa kripto terbesar itu membuka layanan penarikan secara bertahap. Dalam satu hari, platform tersebut memproses penarikan senilai US$4,65 miliar, sementara setoran hanya US$1,01 miliar—menghasilkan defisit bersih US$3,64 miliar (sekitar Rp58 triliun). Langkah ini menjadi ujian kepercayaan bagi exchange yang tengah berjuang memulihkan operasi pasca-insiden keamanan besar.
Harga Bitcoin langsung merespons. Pada perdagangan Senin (2/11/2026), mata uang digital terdepan itu melemah 0,4% ke kisaran US$77.900 setelah sempat menyentuh US$78.700 pada sesi Asia. Ether justru menguat 0,5%, sedangkan indeks memecoin CoinDesk merosot 1,9%, mencerminkan selera risiko yang belum pulih sepenuhnya.
Tekanan bukan hanya dari Binance. Data Farside Investors menunjukkan ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat kehilangan US$643 juta pada Jumat lalu—arus keluar harian terbesar sejak Juni—yang menghapus empat hari berturut-turut aliran masuk. Kombinasi penarikan besar di exchange dan aksi jual institusional menciptakan lapisan tekanan ganda pada pasar.
Di sisi lain, FBI secara resmi menuding kelompok TraderTraitor yang berbasis di Korea Utara sebagai dalang pencurian senilai US$6,3 miliar. Binance mengklaim telah menanggung sekitar 95% dari total kerugian, namun pertanyaan tentang tata kelola risiko dan transparansi masih membayangi. Sejumlah analis menilai kecepatan pemulihan operasional akan menentukan apakah kepercayaan pengguna dapat kembali pulih dalam waktu dekat.
"Pasar sedang menguji seberapa dalam likuiditas Binance mampu menahan gelombang penarikan. Jika arus keluar berlanjut hingga akhir pekan, tekanan pada harga Bitcoin bisa semakin besar," ujar seorang analis pasar kripto yang memantau data on-chain.
Sentimen global juga tidak sepenuhnya mendukung aset berisiko. Futures Nasdaq-100 naik 0,8% setelah sebelumnya anjlok 2% sepanjang pekan, sementara harga minyak Brent turun 4% ke sekitar US$109 per barel setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Presiden Donald Trump ingin menyelesaikan konflik Iran secara damai. Pasar kini menanti rilis laba Apple, pemilihan midterm AS pada Selasa, dan laporan tenaga kerja AS pada Jumat.
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi dan pemahaman risiko aset kripto. Meski Binance bukan platform utama di Tanah Air, efek domino terhadap likuiditas global bisa memengaruhi harga di bursa lokal seperti Indodax dan Pintu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah mengingatkan bahwa volatilitas kripto tetap tinggi dan investor perlu memantau perkembangan exchange global.
Ke depan, fokus pasar tertuju pada apakah Binance mampu menstabilkan arus kas dan memulihkan kepercayaan dalam beberapa hari mendatang. Jika penarikan mereda, harga Bitcoin berpotensi menemukan titik support di sekitar US$77.000. Namun, jika tekanan berlanjut, skenario penurunan lebih dalam ke US$75.000 bisa terbuka. Pertanyaannya: akankah kepercayaan pada exchange terbesar kembali pulih, atau justru menjadi awal migrasi dana ke platform yang lebih kecil namun dianggap lebih aman?



