Kendal Tornado FC Kirim Dua Pemain ke TC Timnas U-20, Nova Arianto Punya Stok Baru
Baca dalam 60 detik
- Kendal Tornado FC melepas Er Deva Aulia Egon dan Camara Ousmane Maiket ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-20 di Antalya, Turki, 8-17 November 2026.
- Keduanya merupakan produk pembinaan klub yang tampil reguler di kompetisi musim ini, dengan Ousmane mencetak empat gol dan Deva mencatat empat clean sheet.
- Pemanggilan ini menjadi indikasi bahwa klub kecil pun bisa menyuplai talenta ke level internasional, sekaligus ujian bagi Nova Arianto dalam meracik skuad untuk Piala Asia U-20 2027.

Kendal Tornado FC memastikan dua pemain mudanya, Er Deva Aulia Egon dan Camara Ousmane Maiket, mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-20 di Antalya, Turki, pada 8-17 November 2026. Pemanggilan ini tertuang dalam surat PSSI bernomor 6416/AGB/1003/X-2006 yang ditandatangani pelatih Nova Arianto, dan menjadi sinyal bahwa klub-klub non-elite mulai diperhitungkan dalam rantai pasok talenta Garuda Muda.
Bagi Kendal Tornado, keputusan PSSI ini bukan sekadar kebanggaan administratif. Klub yang berbasis di pantura Jawa Tengah itu selama ini dikenal sebagai tim pengembang pemain muda, dan keberhasilan mereka menempatkan dua nama di skuad U-20 membuktikan bahwa kompetisi domestik—betapapun terbatasnya sorotan—masih bisa menjadi lahan subur bagi pemain berusia belasan tahun untuk menembus level internasional.
Pelatih Stefan Keeltjes menyebut pemanggilan tersebut sebagai validasi atas kerja pembinaan yang dilakukan timnya. Menurutnya, keberhasilan dua pemain itu menampilkan performa terbaik di kompetisi tidak lepas dari proses pengembangan yang berjalan di klub. “Ini kebanggaan bagi kami. Artinya, kami berhasil mengembangkan mereka hingga bisa tampil maksimal,” ujarnya seperti dikutip Sabtu (31/10/2026).
Ousmane Camara menjadi sorotan utama. Striker berusia 19 tahun itu telah mengoleksi empat gol dan satu assist dari tujuh penampilan, menjadikannya pencetak gol terbanyak klub. Konsistensi di level domestik itulah yang membuat namanya masuk radar Nova Arianto, yang tengah menyusun kerangka tim untuk Piala Asia U-20 2027. Sementara Er Deva, kiper 18 tahun, mencatat enam penampilan dengan empat laga sebagai starter dan empat clean sheet—sebuah rasio yang menjanjikan bagi kiper muda yang baru menembus tim utama.
Pemanggilan ini juga memperlihatkan pergeseran pola rekrutmen timnas usia muda. Jika sebelumnya skuad Garuda Muda didominasi pemain dari akademi klub besar atau tim yang berlaga di Liga 1, kini Nova Arianto mulai melirik pemain dari klub yang bersaing di kompetisi lapis kedua. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan memperluas basis pemain menjelang turnamen kontinental, sekaligus memberi pesan bahwa performa reguler di klub—bukan hanya nama besar—menjadi kriteria utama.
“Harapannya mereka bisa makin berkembang di Timnas Indonesia U-20 dan bisa memberikan kebanggaan untuk bangsa. Secara pribadi saya turut bangga dengan pemanggilan kedua pemain ini,” kata Stefan.
Bagi Kendal Tornado, konsekuensi dari pemanggilan ini tidak ringan. Kedua pemain akan absen membela klub selama periode TC, dan Stefan harus menyiapkan skema pengganti untuk sementara waktu. Namun, ia memilih melihatnya sebagai investasi jangka panjang: pengalaman berlatih di bawah Nova Arianto dan menghadapi tim sekelas Yordania serta Amerika Serikat akan mempercepat pendewasaan keduanya, yang pada akhirnya menguntungkan klub saat mereka kembali.
Di sisi lain, TC di Turki menjadi ujian awal bagi Nova Arianto untuk mengukur kedalaman skuad. Dua laga uji coba melawan Yordania U-20 dan Amerika Serikat U-20 akan menjadi parameter sejauh mana pemain dari klub non-unggulan mampu beradaptasi dengan intensitas dan taktik level internasional. Jika Ousmane dan Deva mampu menunjukkan performa menjanjikan, bukan tidak mungkin pintu timnas akan semakin terbuka bagi talenta dari kompetisi yang selama ini kurang terekspos.
Pertanyaannya kini: akankah pemanggilan ini menjadi awal dari tren baru, di mana klub-klub pengembang seperti Kendal Tornado mendapat tempat permanen dalam peta pembinaan timnas? Ataukah ini hanya episode sporadis yang bergantung pada keberuntungan seorang pelatih? Jawabannya akan terlihat dari bagaimana kedua pemain memanfaatkan sepuluh hari di Antalya—dan apakah Nova Arianto memberi mereka menit bermain di laga uji coba nanti.



