Bortoleto Curi Ilmu Red Bull dari Verstappen di Sesi Gim Online
Baca dalam 60 detik
- Gabriel Bortoleto memanfaatkan obrolan santai saat bermain gim daring dengan Max Verstappen untuk mempelajari resep sukses Red Bull.
- Pembalap Audi itu menilai pengalaman Verstappen membangun tim juara bisa diadaptasi untuk mempercepat perkembangan tim pabrikan Jerman.
- Pelajaran tersebut akan diuji di Grand Prix Amerika Serikat di Austin, tempat Bortoleto dan Verstappen kembali beraksi.

Pembalap Audi, Gabriel Bortoleto, mengaku sering memanfaatkan sesi bermain gim daring bersama Max Verstappen untuk menimba ilmu tentang bagaimana Red Bull Racing tumbuh menjadi tim yang mendominasi Formula 1. Persahabatan di luar lintasan itu menjadi kanal informal bagi pembalap Brasil tersebut untuk memahami seluk-beluk tim juara.
Bortoleto, yang kini menjalani musim keduanya di F1 dan musim pertamanya bersama Audi sebagai tim pabrikan penuh, berada di peringkat 15 klasemen pembalap dengan 10 poin. Audi sendiri menempati posisi kedelapan klasemen konstruktor, dengan rekan setimnya, Nico Hulkenberg, mengoleksi 13 poin.
Dalam wawancara yang dikutip Motorsport.com, Bortoleto mengungkapkan bahwa obrolan dengan Verstappen kerap mengalir saat mereka sedang asyik bermain gim. "Saya sering bicara dengan Max. Detailnya tentu tetap di antara kami, tapi kami sering membahas bagaimana perasaan saya, perkembangan saya, apa yang saya inginkan dari Audi, dan bagaimana kami maju sebagai tim," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia sering menanyakan pengalaman Verstappen di Red Bull sebelum meraih gelar juara dunia: bagaimana kondisi tim saat itu dan cara kerja internalnya.
"Hal-hal seperti itu kadang muncul di kepala saya saat kami bermain, jadi saya tanyakan saja," kata Bortoleto.
Bagi Bortoleto, bermain gim bukan sekadar hobi, melainkan juga mekanisme untuk melepas penat. "Saya tertawa, bersenang-senang, itu bukan pekerjaan," tuturnya. Ia menilai suasana santai itu justru memudahkan diskusi teknis yang mungkin canggung jika dilakukan di lingkungan resmi tim.
Rekam jejak Bortoleto di ajang junior memang menjanjikan. Ia menjuarai Formula 3 pada 2023 dan Formula 2 pada 2024, ketika Isack Hadjar menjadi rival terdekatnya dan Kimi Antonelli finis di posisi keenam. Prestasi itu mengantarkannya ke kursi F1 bersama Sauber sebelum Audi mengambil alih penuh pada 2026.
Langkah Bortoleto mempelajari pola kerja Red Bull menunjukkan bahwa adaptasi budaya tim juara tidak selalu dilakukan lewat jalur formal. bagi Audi, yang tengah membangun fondasi sebagai tim pabrikan, wawasan dari pembalap yang telah merasakan atmosfer Red Bull bisa menjadi percepatan berarti. Namun, transfer pengetahuan semacam ini tetap menghadapi tantangan: struktur tim, sumber daya, dan filosofi teknis Audi berbeda dari Red Bull.
Verstappen sendiri dikenal sebagai pembalap yang vokal soal dinamika tim dan pengembangan mobil. Pengalaman empat gelar juara dunianya menjadi referensi berharga, terutama bagi tim yang sedang merintis seperti Audi. Bortoleto tampaknya menyadari bahwa belajar dari sang juara tidak harus selalu melalui data dan rapat teknis, tetapi bisa lewat percakapan ringan di sela pertandingan gim.
Keduanya akan kembali turun ke lintasan pada Grand Prix Amerika Serikat di Austin akhir pekan ini. Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi Bortoleto untuk membuktikan bahwa pelajaran dari Verstappen mulai membuahkan hasil, setidaknya dalam cara ia membaca performa tim dan mengelola ekspektasi.
Ke depan, publik F1 akan menantikan apakah chemistry unik ini berlanjut menjadi kemitraan yang lebih substantif, atau justru memudar seiring intensitas persaingan di lintasan. Yang jelas, bagi Audi, investasi pada pembalap muda yang haus ilmu seperti Bortoleto bisa menjadi kunci untuk mempercepat perjalanan dari tim penantang menjadi kekuatan utama.



