Ligue 1 Matchday 7: Lima Tim Bersaing Ketat di Puncak, Giroud Cetak Sejarah di Usia 40
Baca dalam 60 detik
- Lima klub berbagi poin identik di puncak klasemen Ligue 1 setelah tujuh pertandingan, situasi langka yang menandakan persaingan juara musim ini terbuka lebar.
- Olivier Giroud menjadi pesepakbola kelima yang mencetak gol di Ligue 1 setelah melewati usia 40 tahun, sementara Lassine Sinayoko mencatat dua gol dan dua assist dalam satu laga.
- Konsistensi Lyon dan Toulouse melawan tim promosi serta rekor Lorient atas klub-klub Eropa menjadi sinyal bahwa peta kekuatan liga Prancis mulai bergeser dari dominasi Paris Saint-Germain.

Persaingan gelar Ligue 1 musim ini memasuki fase yang belum pernah terjadi sebelumnya: untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi, lima tim menempati posisi teratas klasemen dengan koleksi poin yang sama setelah tujuh pertandingan berjalan. Situasi ini memaksa publik sepak bola Prancis meninjau ulang asumsi bahwa dominasi Paris Saint-Germain (PSG) akan berlangsung tanpa perlawanan berarti.
Kelima klub tersebut—yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam rilis resmi liga—kini terpisah hanya oleh selisih gol. Fenomena ini muncul di tengah musim yang ditandai oleh inkonsistensi tim-tim besar dan performa impresif dari klub-klub yang biasanya bersaing di papan tengah. Menurut analis liga, padatnya persaingan di pekan ketujuh mengindikasikan bahwa ambisi juara tidak lagi terkonsentrasi pada satu atau dua tim, melainkan tersebar merata di seluruh kompetisi.
Di antara sorotan individu, nama Olivier Giroud kembali mencuat. Striker Lille itu sukses mengeksekusi penalti saat timnya bermain imbang 1-1 melawan Brest, Sabtu (17/10/2026). Gol tersebut tidak hanya menyelamatkan satu poin, tetapi juga menempatkan Giroud dalam daftar elite pesepakbola yang mampu mencetak gol di Ligue 1 setelah menginjak usia 40 tahun. Ia bergabung dengan Salvador Artigas, Roger Courtois, Benjamin Nivet, dan Dante. Yang membedakan, Giroud adalah satu-satunya pemain di lima liga top Eropa yang mencetak gol setelah berusia 40 tahun pada musim ini.
Prestasi Giroud menggarisbawahi panjangnya karier profesional seorang penyerang yang mengandalkan positioning dan penyelesaian akhir, bukan sekadar kecepatan. Di usianya yang tidak lagi muda, kontribusinya bagi Lille menjadi bukti bahwa pengalaman kerap menjadi pembeda di momen-momen krusial.
“Giroud menunjukkan bahwa usia hanyalah angka ketika Anda memiliki insting mencetak gol yang tajam,” ujar seorang pengamat sepak bola Prancis, seperti dikutip dari analisis liga.
Sementara itu, Lassine Sinayoko mencuri perhatian lewat penampilan sensasional dalam kemenangan 4-3 Paris FC atas Rennes. Penyerang tersebut mencetak dua gol dan menyumbang dua assist, menjadikannya pemain pertama sejak Neymar—yang mencatat dua gol dan tiga assist untuk PSG melawan Lille pada 2020—yang menorehkan statistik serupa dalam satu pertandingan Ligue 1. Sinayoko kini terlibat dalam 16 gol dalam 14 pertandingan terakhirnya di liga (12 gol, 4 assist), menandakan konsistensi yang luar biasa.
Di kubu Rennes, Estéban Lepaul mencatat sejarah tersendiri dengan mencetak hat-trick penalti. Ia menjadi pemain pertama yang melakukannya di Ligue 1 sejak Leonardo Rodríguez untuk Toulon melawan Nancy pada Januari 1992—lebih dari 34 tahun silam. Lepaul kini telah mengoleksi 37 gol di Ligue 1, dengan 28 di antaranya tercipta dalam dua musim terakhir. Jumlah itu unggul 10 gol dari pesaing terdekatnya pada periode yang sama.
Kejutan lain datang dari Lorient. Kemenangan 1-0 atas Monaco di Stade du Moustoir, Minggu (18/10/2026), membuat mereka mengoleksi 30 poin melawan tujuh klub yang saat ini berlaga di kompetisi Eropa sejak awal musim lalu—terbanyak di Ligue 1, di atas Monaco (27 poin). Lorient juga menyamai rekor kemenangan Monaco atas tujuh tim tersebut (9 kemenangan, 3 imbang, 4 kalah). Catatan ini menegaskan bahwa Lorient bukan sekadar tim kuda hitam, melainkan penantang serius yang mampu tampil konsisten melawan tim-tim papan atas.
Di sisi lain, Marseille menunjukkan ketajaman luar biasa dengan mencetak setidaknya lima gol dalam sepuluh pertandingan Ligue 1 berbeda sejak awal musim 2024/25—empat kali lebih sering daripada tim lain pada periode yang sama. Kemenangan 5-2 atas Angers menjadi bukti bahwa lini serang OM masih menjadi salah satu yang paling produktif di Prancis.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika Ligue 1 musim ini menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya kedalaman skuad dan konsistensi. Liga Indonesia (Liga 1) kerap menghadapi masalah serupa: tim-tim besar mendominasi klasemen karena kesenjangan kualitas yang lebar. Fenomena lima tim bersaing ketat di puncak Ligue 1 bisa menjadi cermin bahwa kompetisi yang sehat membutuhkan distribusi talenta dan manajemen klub yang merata, bukan sekadar bergantung pada satu atau dua kekuatan finansial.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah persaingan lima tim ini akan bertahan hingga paruh musim atau justru pecah ketika tim-tim besar mulai menemukan ritme permainan. Dengan jadwal padat dan kompetisi Eropa yang menyita energi, konsistensi akan menjadi mata uang paling berharga. Ligue 1 musim ini tampaknya enggan memberikan juara prematurely—dan itu kabar baik bagi sepak bola Prancis.



