AQI Palembang Tembus 700, Pemkot Sebar 15 Ribu Masker Hadapi Karhutla OKI
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Kota Palembang menggelontorkan 15 ribu masker sebagai respons atas memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla dari Kabupaten Ogan Komering Ilir.
- Indeks Kualitas Udara (AQI) di sejumlah titik Palembang tercatat melampaui 500 hingga 700, masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
- Operasi modifikasi cuaca dengan 2,4 ton dry ice belum mampu meredam asap karena masih ada 473 titik panas di OKI, 16 di antaranya berkategori high confidence.

Warga Palembang kembali menghirup udara beracun. Pada Minggu (18/10), Pemerintah Kota Palembang menyalurkan 15 ribu masker ke masyarakat setelah kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menaikkan indeks kualitas udara (AQI) ke level ekstrem, bahkan menembus angka 700 di beberapa lokasi.
Langkah pembagian masker itu diakui sebagai respons darurat, bukan solusi permanen. Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menegaskan bahwa masker diperlukan agar warga tidak langsung terpapar partikel polutan yang pekat. “Pembagian masker ini bertujuan agar masyarakat tidak terpapar langsung oleh partikel pencemaran udara yang semakin buruk oleh kabut asap,” ujarnya, Minggu.
Namun, angka AQI di atas 500 sudah masuk kategori berbahaya menurut standar internasional. Paparan partikel halus (PM2.5) dalam konsentrasi tinggi dapat memicu gangguan pernapasan akut, memperparah penyakit jantung, dan meningkatkan risiko stroke—terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis. Kota Palembang yang berpenduduk lebih dari 1,6 juta jiwa kini berada di garis depan krisis lingkungan tahunan yang belum terselesaikan.
Upaya rekayasa cuaca pun belum membuahkan hasil signifikan. Sebelumnya, Pemkot bersama BMKG menebar 2,4 ton dry ice untuk memicu hujan. Harapan itu pupus karena jumlah hotspot di OKI tetap tinggi—473 titik panas, dengan 16 titik berkategori high confidence. Artinya, sumber asap masih aktif dan pasokan polutan ke Palembang belum terputus.
Kondisi ini memperlihatkan pola lama: karhutla di lahan gambut OKI menjadi penyumbang asap lintas kabupaten/kota, sementara pemerintah daerah di hilir hanya bisa menanggulangi dampak. Koordinasi lintas wilayah, penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar, serta restorasi gambut masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Tanpa penanganan di hulu, masker hanya menjadi penawar sementara.
“Kami akan terus memantau kualitas udara dan menambah bantuan masker jika kondisi asap semakin memburuk,” kata Aprizal, mengisyaratkan bahwa status darurat bisa diperpanjang.
Pemkot juga mengimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan, mengenakan masker, dan menutup pintu serta jendela jika asap masuk ke rumah. Imbauan itu penting, tetapi tidak semua warga mampu membeli masker N95 yang efektif menyaring partikel halus. Masker bedah yang dibagikan memang lebih baik daripada tidak sama sekali, namun perlindungannya terbatas.
Dari sisi kebijakan, krisis ini menguji efektivitas anggaran penanggulangan bencana dan kesiapan layanan kesehatan setempat. Rumah sakit dan puskesmas perlu bersiap menerima lonjakan pasien ISPA, sementara sekolah mungkin harus menerapkan pembelajaran jarak jauh jika kualitas udara tak kunjung membaik. Pemerintah provinsi dan pusat dituntut mengambil langkah lebih tegas, bukan sekadar menunggu hujan turun.
Ke depan, pertanyaannya sederhana: sampai kapan warga Palembang harus bergantung pada masker setiap kali musim kemarau tiba? Jika karhutla di OKI tidak ditangani secara struktural, distribusi masker akan menjadi ritual tahunan yang mahal dan tidak menyelesaikan akar masalah.



