JLAB Daybreak Mouse: Performa Turnamen, Tapi Software Masih Beta
Baca dalam 60 detik
- Mouse gaming nirkabel JLAB Daybreak hadir dengan sensor PAW3395 dan DPI hingga 26.000, menawarkan akurasi kelas turnamen.
- Sembilan tombol dapat dikustomisasi, tetapi perangkat lunak The Lab yang masih beta sering gagal mengenali mouse dan terasa lambat.
- Dengan harga bersaing, mouse ini menjadi opsi menarik bagi gamer yang menginginkan kontrol penuh, asalkan siap menghadapi kendala software.

JLAB kembali memperluas lini Daybreak dengan meluncurkan mouse gaming nirkabel yang menyasar para pemain kompetitif. Perangkat ini mengusung sensor PAW3395, yang mampu melacak pergerakan hingga 26.000 DPI, serta dilengkapi sembilan tombol yang dapat diprogram. Namun, di balik spesifikasi gahar tersebut, terdapat satu catatan penting: perangkat lunak pendukungnya, The Lab, masih dalam tahap beta dan belum sepenuhnya stabil.
Dalam pengujian, mouse ini menunjukkan performa yang mengesankan. Sensor PAW3395 memberikan akurasi 1:1 tanpa akselerasi, memungkinkan setiap gerakan diterjemahkan secara presisi ke layar. Dengan polling rate 1000 Hz dan latensi 0,25 ms, mouse ini siap digunakan untuk pertandingan e-sports sekalipun. Baterainya pun diklaim mampu bertahan lebih dari 80 jam, cukup untuk sesi bermain maraton atau bahkan penggunaan selama seminggu penuh.
Desain full-size mouse ini terasa nyaman di tangan, dengan tata letak tombol yang natural. Tombol DPI di belakang scroll wheel memungkinkan pengguna beralih antara lima profil sensitivitas yang dapat diatur, dari 800 hingga 26.000 DPI. Sementara itu, tombol tambahan di sisi dan atas memberikan fleksibilitas untuk berbagai fungsi, mulai dari maju/mundur hingga makro khusus. Fitur rapid click, misalnya, sangat berguna untuk game tembak-menembak atau saat mengedit video.
Sayangnya, pengalaman penggunaan tidak lepas dari gangguan. The Lab, software yang digunakan untuk mengatur mouse, masih dalam versi beta. Pada percobaan pertama, software tersebut tidak mengenali mouse meskipun sudah terpasang dengan benar. Pengguna harus menghubungi dukungan JLAB untuk mendapatkan versi yang kompatibel. Setelah itu, software baru bisa berjalan, tetapi tetap terasa lambat dan terkadang freeze. Meski menawarkan banyak opsi kustomisasi—seperti pengaturan tombol, sensitivitas, kecepatan scroll, dan pencahayaan RGB—kinerjanya belum mulus.
"The Lab masih perlu banyak perbaikan. Kami berharap JLAB dapat merilis versi stabil agar seluruh lini Daybreak memiliki pengalaman software yang konsisten," ujar penguji.
Dari sisi harga, JLAB Daybreak Mouse diposisikan sebagai alternatif menarik di segmen mouse gaming kelas atas. Dengan spesifikasi yang mendekati mouse turnamen, perangkat ini menawarkan nilai lebih dibandingkan merek-merek mapan seperti Logitech atau Razer. Namun, bagi gamer di Indonesia, ketersediaan produk JLAB masih terbatas dan belum ada distributor resmi. Jika masuk pasar domestik, mouse ini berpotensi bersaing dengan produk seperti Rexus atau Fantech yang lebih dulu dikenal.
Ke depannya, JLAB perlu segera menyelesaikan pengembangan The Lab agar tidak menjadi penghalang adopsi. Potensi mouse ini sangat besar, terutama bagi pemain yang menginginkan kontrol penuh atas pengaturan. Jika software dapat diperbaiki, Daybreak Mouse bisa menjadi pilihan utama di kelasnya. Pertanyaannya, akankah JLAB mendengarkan masukan pengguna dan merilis versi final dalam waktu dekat?



