Anbernic RG DDS: Handheld Layar Ganda dengan Rasio 3DS, Tantangan Baru bagi Emulator
Baca dalam 60 detik
- Anbernic resmi memperkenalkan RG DDS, perangkat genggam layar ganda yang mengusung chipset Qualcomm Snapdragon G2 Gen 2 dan baterai 6.000mAh.
- Kombinasi layar 4,7 inci (5:3) dan 4 inci (4:3) dirancang khusus untuk menghadirkan pengalaman bermain game 3DS secara autentik.
- Peluncuran ini berpotensi mengubah peta persaingan konsol retro di pasar global, termasuk Indonesia, meski harga dan tanggal rilis masih misterius.

Anbernic kembali mencuri perhatian komunitas gim genggam dengan mengumumkan RG DDS, perangkat layar ganda yang secara eksplisit menyasar penggemar emulasi Nintendo 3DS. Peluncuran ini menandai langkah agresif perusahaan asal Tiongkok tersebut, hanya setahun setelah mereka merilis RG DS yang merupakan reinterpretasi Nintendo DS. Kali ini, Anbernic tidak sekadar mendaur ulang desain lawas; mereka membenamkan chipset Qualcomm Snapdragon G2 Gen 2 yang diklaim mampu menjalankan emulasi hingga judul Nintendo Switch dan PlayStation 2.
Daya tarik utama RG DDS terletak pada konfigurasi layarnya. Layar utama berukuran 4,7 inci dengan resolusi 1.200 x 720 piksel dan rasio 5:3, sementara layar sekunder berukuran 4 inci dengan resolusi 960 x 720 piksel dan rasio 4:3. Kombinasi ini disebut-sebut sebagai rasio yang sempurna untuk game 3DS, yang memang memiliki dua layar dengan proporsi berbeda. Bagi gamer yang selama ini kesulitan menikmati koleksi 3DS di perangkat modern, RG DDS menawarkan solusi tanpa perlu bergantung pada layar sentuh ponsel atau tablet.
Dari sisi kontrol, Anbernic mengadopsi tata letak yang hampir identik dengan Nintendo 3DS, tetapi menambahkan satu analog stick ekstra di sisi kanan. Perangkat ini juga dilengkapi stylus kapasitif yang bisa ditarik dan disembunyikan saat tidak digunakan. Anbernic turut menyematkan tombol AI khusus, meski belum merinci fungsi apa yang akan diaktifkan. Kehadiran tombol AI ini mengindikasikan bahwa perusahaan ingin merambah fitur cerdas, mungkin untuk peningkatan grafis atau pengalaman pengguna, namun tanpa detail lebih lanjut, masih menjadi tanda tanya besar.
Sayangnya, Anbernic belum mengungkap harga resmi maupun jadwal peluncuran RG DDS. Sebagai perbandingan, pendahulunya, RG DS, dibanderol sekitar US$99. Diperkirakan RG DDS akan sedikit lebih mahal, tetapi mengingat reputasi Anbernic yang dikenal menjual perangkat dengan harga terjangkau, ada kemungkinan harga jualnya berada di bawah pesaing terdekatnya, Retroid Pocket Duo, yang dibanderol mulai US$149. Persaingan di segmen handheld retro memang semakin panas, dengan munculnya berbagai merek yang menawarkan spesifikasi tinggi namun tetap ramah kantong.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran RG DDS bisa menjadi angin segar. Komunitas gamer retro Tanah Air cukup besar, dan perangkat seperti ini sering menjadi incaran karena fleksibilitasnya menjalankan berbagai emulator. Namun, ada beberapa catatan. Pertama, harga jual di Indonesia biasanya lebih tinggi akibat pajak dan biaya distribusi. Kedua, belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan stok di pasar lokal. Jika Anbernic kembali mengandalkan penjualan melalui marketplace global, konsumen Indonesia harus bersiap dengan ongkos kirim dan potensi bea masuk. Meski demikian, antusiasme terhadap perangkat layar ganda ini diprediksi tetap tinggi, terutama di kalangan kolektor dan penggemar gim lawas.
"Rasio layar yang pas untuk 3DS adalah nilai jual utama. Ini menunjukkan Anbernic benar-benar mendengarkan masukan komunitas emulator," ujar seorang pengamat gim genggam yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, tantangan terbesar Anbernic bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga bagaimana mereka menyempurnakan pengalaman emulasi 3DS yang selama ini dikenal rumit. Kompatibilitas perangkat lunak, akurasi kontrol sentuh, dan dukungan komunitas akan menjadi penentu apakah RG DDS mampu menjadi standar baru di segmennya. Jika berhasil, bukan tidak mungkin perangkat ini akan memicu gelombang baru inovasi handheld layar ganda dari kompetitor. Akankah Anbernic kembali mendominasi pasar retro, atau justru tersalip oleh pemain yang lebih gesit? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: para penggemar gim klasik kini punya alasan baru untuk menabung.



