Jepang Pamit pada Ponsel Lipat: Akhir Era Gara-Kei Setelah 3G Dimatikan
Baca dalam 60 detik
- NTT Docomo menghentikan layanan 3G pada Maret 2025, memaksa setengah juta pengguna dan 400 model ponsel beralih.
- Pengiriman feature phone di Jepang anjlok lebih dari 25 persen menjadi di bawah 400.000 unit pada paruh pertama tahun fiskal 2025.
- Populasi lanjut usia yang mencapai 29 persen dan program literasi digital menjadi pendorong utama migrasi ke smartphone.

NTT Docomo secara resmi menutup layanan data 3G pada Maret 2025, menandai berakhirnya riwayat ponsel lipat khas Jepang yang dikenal sebagai gara-kei. Keputusan ini memaksa sekitar 500.000 pelanggan dan lebih dari 400 model perangkat untuk beralih ke jaringan 4G/5G, sekaligus mengakhiri era perangkat yang bertahan puluhan tahun di pasar domestik.
Gara-kei, singkatan dari Galapagos keitai, adalah ponsel fitur dengan keyboard fisik yang sempat menjadi ikon teknologi Jepang. Julukan "Galapagos" merujuk pada evolusi terisolasi perangkat ini, mirip spesies endemik di kepulauan tersebut. Berbeda dari ponsel lipat biasa, gara-kei dilengkapi kemampuan menerima siaran TV One-Seg, bertukar kontak via inframerah, dan chip pembayaran untuk transportasi serta belanja. Karakter unik ini membuatnya bertahan jauh lebih lama dibandingkan pasar global.
Namun, data terbaru menunjukkan pergeseran besar. Survei Docomo mencatat kepemilikan smartphone melonjak dari 90 persen pada 2021 menjadi 98 persen pada 2025. Lembaga riset MM Research Institute melaporkan pengiriman feature phone di Jepang turun lebih dari 25 persen menjadi kurang dari 400.000 unit pada paruh pertama tahun fiskal 2025. Penurunan ini diprediksi semakin cepat setelah penutupan 3G.
Penutupan 3G oleh Docomo mengikuti langkah operator au pada 2022 dan SoftBank pada 2024. Dampaknya tidak hanya pada ponsel, tetapi juga sistem navigasi mobil dan mesin penjual otomatis yang masih mengandalkan jaringan lama. Bagi sebagian warga, terutama lansia, peralihan ini menjadi tantangan karena mereka harus mempelajari antarmuka smartphone yang sama sekali berbeda.
Faktor demografi memperkuat transisi. Data World Economic Forum menunjukkan 29 persen penduduk Jepang berusia 65 tahun atau lebih pada 2024. Pemerintah Tokyo pada 2021 membagikan 3.000 smartphone kepada warga senior untuk meningkatkan literasi digital. Docomo pun membuka kelas smartphone di gerai untuk membantu pelanggan beradaptasi dengan browser web, kontrol gestur, dan aplikasi media sosial.
"Penutupan i-mode dan 3G adalah paku terakhir bagi gara-kei. Ini bukan sekadar pergantian teknologi, tetapi pergeseran cara hidup," ujar seorang analis telekomunikasi yang tidak ingin disebutkan namanya.
Meski demikian, tidak semua pengguna meninggalkan ponsel fitur. Sebagian Gen Z justru beralih ke perangkat sederhana untuk mengurangi distraksi digital. Di pasar global, tren nostalgia ini terlihat dari kehadiran Light Flip yang menawarkan pengalaman bebas gangguan, meski bukan gara-kei sejati. Ponsel Kyocera dan Sharp masih dijual di eBay, tetapi kebanyakan tidak kompatibel dengan pita 4G LTE operator Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin. Operator Tanah Air juga tengah mendorong migrasi dari 3G ke 4G/5G, dengan potensi dampak serupa pada pengguna ponsel fitur dan perangkat IoT. Pelajaran dari Jepang menunjukkan bahwa transisi teknologi harus disertai program literasi digital, terutama bagi kelompok rentan, agar tidak ada yang tertinggal.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah ponsel lipat akan punah, melainkan bagaimana Jepang mengelola transisi ini tanpa mengorbankan konektivitas warganya. Akankah operator lain di Asia mengikuti jejak Docomo, atau justru mempertahankan jaringan lama demi inklusi digital?



