Googlebook Dibanderol Rp14 Juta, Ini 4 Laptop Alternatif yang Lebih Hemat
Baca dalam 60 detik
- Googlebook resmi dipasarkan mulai 899 dolar AS, memicu perdebatan soal nilai ekonomis bagi pengguna kasual.
- Empat laptop pesaing menawarkan spesifikasi setara dengan harga lebih rendah, mulai dari MacBook Neo hingga Asus Vivobook 14 Copilot+.
- Pilihan sistem operasi dan daya tahan baterai menjadi pertimbangan utama sebelum membeli laptop baru tahun ini.

Googlebook hadir sebagai evolusi Chromebook dengan spesifikasi lebih mumpuni, integrasi Gemini, dan positioning sebagai laptop premium. Namun, harga mulai 899 dolar AS atau sekitar Rp14 juta membuat sebagian calon pembeli berpikir ulang, terutama mereka yang hanya membutuhkan perangkat untuk aktivitas harian seperti mengetik, menjelajah internet, dan streaming.
Selisih harga itu menjadi relevan di pasar Indonesia. Dengan kurs saat ini, 899 dolar AS setara Rp14 juta lebih, angka yang sudah mendekati kelas laptop Windows mumpuni atau MacBook Air generasi lama. Bagi pelajar, pekerja lepas, dan karyawan yang bekerja dari rumah, pertanyaan utamanya bukan lagi soal fitur tercanggih, melainkan seberapa besar nilai yang didapat per rupiah yang dikeluarkan.
Sejumlah produsen menawarkan alternatif yang secara spesifikasi tidak jauh berbeda dari Googlebook, tetapi dengan banderol lebih ramah kantong. Berikut empat opsi yang layak dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli perangkat baru.
Pilihan pertama adalah MacBook Neo. Laptop ini menawarkan akses ke ekosistem Apple dengan harga sekitar 699 dolar AS, atau 200 dolar AS lebih murah dari Googlebook. Spesifikasinya mencakup layar Liquid Retina 13 inci, chip A18 Pro, memori terpadu 8GB, dan SSD 256GB. Apple mengklaim daya tahan baterai hingga 16 jam untuk pemutaran video. Bagi mahasiswa yang butuh perangkat ringan untuk mobilitas tinggi, kombinasi ini cukup menarik. Namun, kapasitas RAM dan penyimpanan tersebut terbatas untuk pekerjaan berat seperti editing video 4K atau menjalankan game modern.
Untuk pengguna yang enggan berpindah dari Windows, HP OmniBook 5 14 inci bisa menjadi opsi. Harganya sekitar 760 dolar AS, lebih murah dari Googlebook, dengan prosesor Snapdragon X, RAM 16GB, dan SSD 512GB. Layar 2K OLED menjadi nilai tambah, begitu pula dukungan fitur AI Copilot. Klaim daya tahan baterai hingga 34 jam menjadikannya salah satu laptop dengan ketahanan terbaik di kelasnya pada 2026. Bagi pekerja mobile yang sering berada di luar ruangan tanpa akses colokan listrik, angka ini sulit diabaikan.
Pilihan ketiga, Samsung Galaxy Chromebook Plus, cocok bagi yang sudah nyaman dengan ChromeOS dan ingin tetap menikmati integrasi Gemini. Harganya sekitar 775 dolar AS, lebih murah dari Googlebook. Perangkat ini mengusung layar AMOLED 15,6 inci, prosesor Intel Core 3 100U, RAM 8GB, dan penyimpanan 256GB. Bobotnya relatif ringan dengan bodi logam yang memberi kesan premium. ChromeOS dikenal hemat daya dan efisien untuk perangkat berspesifikasi menengah, sehingga cocok untuk pengguna yang bergantung pada aplikasi Google.
Opsi keempat adalah Asus Vivobook 14 Copilot+. Laptop ini mengusung layar 14 inci, sistem operasi Windows, dan fitur AI Copilot+ yang terintegrasi. Harga resminya di Asus Store mencapai 899 dolar AS, tetapi sering didiskon sehingga lebih murah dari Googlebook. Spesifikasinya mencakup prosesor Snapdragon X, RAM 16GB, dan SSD hingga 1TB tergantung konfigurasi. Layar WUXGA IPS memang tidak sebaik panel OLED Googlebook, tetapi memadai untuk pekerjaan dokumen dan menonton konten.
Pemilihan laptop sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan riil, bukan sekadar mengejar spesifikasi tertinggi. Selisih harga ratusan dolar AS bisa dialihkan untuk kebutuhan lain seperti paket data atau perangkat pendukung.
Dalam konteks Indonesia, tren laptop berharga di bawah 15 juta rupiah terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan kerja hybrid dan pembelajaran jarak jauh. Distributor resmi biasanya menawarkan cicilan tanpa bunga, yang membuat selisih harga antar model terasa lebih ringan. Namun, konsumen perlu mencermati garansi resmi dan ketersediaan suku cadang, karena tidak semua merek memiliki jaringan servis luas di kota-kota tier dua.
Ke depan, persaingan di segmen laptop produktivitas akan semakin ketat. Kehadiran chip berbasis ARM seperti Snapdragon X dan Apple Silicon mendorong efisiensi daya yang lebih baik, sementara ChromeOS dan Windows terus menyematkan fitur AI. Pertanyaannya, apakah Googlebook mampu mempertahankan daya tariknya di tengah gempuran alternatif yang lebih murah, atau justru harga premiumnya akan menjadi penghalang utama di pasar negara berkembang seperti Indonesia?



