Paris Jadi Tuan Rumah EVO 2027, Ajang Game Fighting Terbesar Dunia Pindah dari Nice
Baca dalam 60 detik
- EVO 2027 akan digelar di Paris pada 22-24 Oktober, menandai perpindahan dari Nice yang menjadi lokasi dua edisi sebelumnya.
- Langkah ini bertujuan mempercepat ekspansi EVO di Eropa, memanfaatkan ekosistem esports Paris yang sudah mapan.
- EVO juga akan menggelar event di Singapura, Maroko, dan Brasil pada 2027, memperluas jangkauan global turnamen fighting game.

Paris terpilih sebagai tuan rumah EVO 2027, turnamen game fighting terbesar di dunia, setelah dua edisi sebelumnya digelar di Nice. Keputusan ini diumumkan pada Minggu (8/12) saat EVO Prancis 2024 di Nice resmi ditutup. Ajang bergengsi yang mempertandingkan game seperti Street Fighter dan Tekken itu akan berlangsung pada 22-24 Oktober 2027, meski venue spesifiknya belum diumumkan.
Perpindahan ke ibu kota Prancis ini bukan sekadar pergantian lokasi. Penyelenggara menilai Paris memiliki infrastruktur esports yang lebih matang, termasuk pengalaman menjadi tuan rumah Esports World Cup musim panas ini. Langkah tersebut diharapkan mempercepat pengembangan EVO di pasar Eropa, yang selama ini terpusat di kawasan Mediterania. Dengan populasi penggemar game fighting yang besar dan aksesibilitas internasional, Paris dinilai mampu mendongkrak skala acara.
Keputusan ini juga mencerminkan strategi EVO untuk memperluas basis penggemar di luar Amerika Serikat dan Jepang, dua pasar utama fighting game. Dengan menggelar event di empat benua berbeda pada 2027, EVO ingin menciptakan ekosistem kompetisi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan tren esports global yang semakin mengandalkan turnamen internasional untuk menjangkau audiens baru.
"Paris adalah pusat esports Eropa, dan kami yakin EVO 2027 akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah," ujar seorang perwakilan penyelenggara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi sinyal positif. Komunitas fighting game Tanah Air, yang selama ini aktif di turnamen regional seperti EVO Japan dan EVO Singapura, berpotensi mendapatkan lebih banyak akses ke kompetisi tingkat dunia. Jika EVO Singapura 2027 sukses, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi kandidat tuan rumah di masa depan, mengingat infrastruktur esports yang terus berkembang dan basis pemain yang besar.
Namun, tantangan tetap ada. EVO harus memastikan bahwa ekspansi ke banyak negara tidak mengorbankan kualitas penyelenggaraan. Selain itu, persaingan dengan turnamen fighting game lain seperti Capcom Cup dan Tekken World Tour semakin ketat. Keberhasilan EVO 2027 di Paris akan menjadi tolok ukur apakah model multi-lokasi ini efektif atau justru memecah perhatian.
Dengan Paris sebagai tuan rumah, EVO 2027 diprediksi menarik puluhan ribu penonton langsung dan jutaan penonton streaming. Apakah ajang ini mampu mempertahankan pamornya sebagai kiblat fighting game dunia? Waktu yang akan membuktikan, tetapi langkah berani ini menunjukkan EVO tidak ingin berpuas diri.



