Super Mario 64 Kini Berjalan di Zune HD, Media Player yang Sudah Mati 14 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengembang berhasil menjalankan Super Mario 64 secara native di Microsoft Zune HD, perangkat media player yang produksinya dihentikan pada 2011.
- Port ini memanfaatkan OpenZDK dan chip Nvidia Tegra APX 2600, dengan serangkaian solusi teknis untuk mengatasi keterbatasan driver grafis Zune.
- Proyek ini membuka diskusi tentang potensi perangkat lama dan meningkatnya porting game klasik ke perangkat non-konvensional, sebagian dibantu alat AI.

Sebuah proyek homebrew berhasil menjalankan game legendaris Nintendo 64, Super Mario 64, di Microsoft Zune HD—perangkat pemutar media yang sudah dihentikan produksinya sejak 2011. Port ini dikembangkan oleh programmer yang menggunakan nama rsheldiii dan dipublikasikan melalui repositori GitHub, seperti dilaporkan Hackaday. Keberhasilan ini mengejutkan karena Zune HD bukan perangkat gaming, melainkan pemutar musik dan video yang bersaing dengan iPod Apple pada masanya.
Zune HD, yang dirilis pada 2009, ditenagai chip Nvidia Tegra APX 2600 dan menjalankan sistem operasi berbasis Windows CE. Perangkat ini sempat dipasarkan dengan layar OLED sentuh 3,3 inci dan harga mulai dari US$219,99 hingga US$289,99 tergantung kapasitas penyimpanan. Meski produksinya dihentikan pada 2011, sebuah eksploitasi keamanan memunculkan OpenZDK, kit pengembangan tidak resmi yang memungkinkan homebrew. Inilah fondasi yang dimanfaatkan proyek porting ini.
Port Super Mario 64 untuk Zune HD dibangun di atas sm64ex, sebuah fork dari port PC tidak resmi hasil dekompilasi game yang diselesaikan penggemar pada 2019. Proyek ini menerapkan 14 patch pada versi sm64ex yang telah ditentukan dan hanya diuji pada firmware 4.5. Game berjalan secara native di perangkat keras Zune melalui kode ARM, tanpa memodifikasi firmware. Namun, pengembang memperingatkan bahwa penggunaannya dilakukan "dengan risiko sendiri", dan ROM game tidak disertakan—pengguna harus mengekstraknya dari kartrid sendiri.
Tantangan teknis yang dihadapi tidak sederhana. Driver grafis Zune tidak dapat mengompilasi shader GLSL, sehingga pengembang menggunakan renderer OpenGL ES 2 turunan Fast3D dengan varian shader yang telah dibangun sebelumnya, memanfaatkan alat cgc dan shaderfix dari Nvidia. Karena GPU tidak memiliki perangkat keras blending fixed-function, proses blending dikompilasi ke dalam fragment shader. Audio disintesis pada thread terpisah dengan prioritas lebih tinggi daripada game, sehingga tetap stabil meski frame rate menurun. Kontrol sentuh overlay menyediakan analog stick virtual serta tombol A, B, Z, R, empat tombol C, dan Start, dengan opsi kustomisasi gaya dan opasitas.
"Port ini menunjukkan apa yang seharusnya bisa dilakukan Zune HD jika Microsoft tidak terlalu membatasi pengembangan," tulis laporan Hackaday, menyoroti ironi di balik perangkat yang sebenarnya memiliki potensi besar.
Sejarah porting Super Mario 64 sendiri sudah panjang. Port PC resmi tidak pernah ada, tetapi versi tidak resmi muncul pada Mei 2020 dan langsung menuai respons hukum dari Nintendo, yang menargetkan situs-situs yang menyediakan versi terkompilasi. Meski demikian, port game ini telah hadir di berbagai platform: 3DS, Wii U, PS2, PlayStation, PS Vita, Dreamcast, Nintendo DS, DSi, web, dan kini Zune HD. Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya dekompilasi dan porting terus hidup di komunitas penggemar, terlepas dari tekanan hukum.
Menariknya, proyek ini diduga memanfaatkan alat AI dalam proses pengembangannya. Commit pertama di repositori diakhiri dengan "Co-Authored-By: Claude Opus 5.5", menandakan bahwa kecerdasan buatan turut berperan. Kemudahan akses alat AI belakangan ini memang meningkatkan jumlah proyek porting, termasuk yang ekstrem seperti port Doom ke kamera Hasselblad X2D seharga US$8.000. Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin: perangkat lama yang dianggap usang masih menyimpan potensi jika ada kemauan dan kreativitas. Komunitas pengembang lokal dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya dokumentasi perangkat keras dan sistem terbuka.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah



