Sony Hapus Disc Drive dan Stand Vertikal di PS5 Pro: Strategi 'Pilihan' atau Akal-akalan Harga?
Baca dalam 60 detik
- Sony menghilangkan disc drive dan stand vertikal dari paket PS5 Pro, menjualnya terpisah dengan alasan memberikan fleksibilitas bagi pemain.
- Langkah ini menuai kritik karena dianggap membebani konsumen dengan biaya tambahan, sementara Sony berencana menghentikan produksi cakram fisik pada 2028.
- Kebijakan tersebut berpotensi mengubah lanskap distribusi game di Indonesia, mempersempit opsi kepemilikan fisik dan memperkuat dominasi toko digital.

Keputusan Sony untuk tidak menyertakan disc drive dan stand vertikal dalam paket PlayStation 5 Pro memicu perdebatan di kalangan gamer global. Langkah ini diumumkan beberapa waktu lalu, namun baru menjadi sorotan setelah wawancara IGN dengan Toshi Aoki, Senior Principal Product Manager PlayStation, yang mengungkap alasan di baliknya: memberikan "pilihan" kepada pemain. Namun, banyak pihak menilai kebijakan ini justru membebani konsumen dengan biaya ekstra yang signifikan.
Dalam wawancara tersebut, Aoki menjelaskan bahwa pemisahan disc drive dan stand vertikal bertujuan menyeimbangkan proposisi nilai konsol. Ia menyebut bahwa sebagian pemain telah beralih ke koleksi digital, sehingga memberi opsi untuk menambahkan disc drive nanti—dengan harga $79 melalui toko resmi PlayStation—dianggap lebih adil. Stand vertikal juga dijual terpisah seharga $29. Alasan ini diperkuat dengan peningkatan spesifikasi PS5 Pro, seperti modul Wi-Fi 7 dan tambahan 1TB SSD, yang menurut Aoki turut memengaruhi harga jual.
Namun, logika tersebut menuai kritik tajam. Perbandingan harga antara PS5 Digital Edition ($599) dan Disc Edition ($649) menunjukkan selisih hanya $50, padahal disc drive dijual terpisah $79. Artinya, konsumen yang membeli PS5 Pro dan ingin menambah disc drive harus merogoh kocek lebih dalam, belum lagi stand vertikal. Fenomena ini mengingatkan pada peluncuran Xbox One yang harganya $499 karena bundel Kinect, lalu turun menjadi $399 setelah Kinect dihapus. Sony tampaknya menerapkan strategi serupa, namun dengan cara yang lebih halus.
Yang lebih kontroversial, Sony dikabarkan akan menghentikan semua produksi cakram fisik pada 2028. Keputusan ini secara langsung bertentangan dengan prinsip "memberi pilihan" yang diklaim Aoki. Jika produksi cakram dihentikan, pemain tidak lagi memiliki opsi untuk membeli game fisik, dan hanya bisa mengandalkan toko digital. Langkah ini dikhawatirkan mematikan pasar game fisik dan mengurangi hak konsumen untuk memiliki salinan fisik yang bisa dijual kembali atau dipinjamkan.
"Ini bukan lagi soal memberi pilihan, tapi memaksa pemain untuk mengikuti kehendak Sony," ujar seorang analis industri game yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Indonesia, kebijakan ini bisa berdampak besar. Pasar game fisik di Tanah Air masih cukup kuat, terutama di kota-kota besar dengan komunitas gamer yang gemar mengoleksi cakram. Jika Sony benar-benar menghentikan produksi cakram, toko-toko game fisik akan kehilangan pasokan, dan harga game digital berpotensi melonjak karena tidak ada pesaing. Selain itu, gamer Indonesia yang terbiasa membeli game bekas atau bertukar cakram akan kehilangan akses ke praktik tersebut.
Di sisi lain, Sony berdalih bahwa penghapusan disc drive dan stand vertikal adalah bagian dari efisiensi biaya produksi. Dengan komponen seperti SSD 2TB dan Wi-Fi 7, harga PS5 Pro memang lebih mahal. Namun, jika melihat perbandingan harga aksesori yang dijual terpisah, ada indikasi Sony sengaja menaikkan margin keuntungan dari penjualan aksesori. Strategi ini mirip dengan model bisnis printer yang murah, tetapi tinta mahal.
Ke depan, keputusan Sony untuk menghentikan produksi cakram pada 2028 akan menjadi ujian bagi loyalitas penggemar. Apakah mereka akan menerima sepenuhnya ekosistem digital, atau beralih ke platform lain yang masih mendukung fisik? Sementara itu, regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia, perlu mengawasi praktik ini untuk memastikan tidak terjadi monopoli yang merugikan konsumen. Pertanyaannya, apakah Sony akan mendengarkan kritik, atau tetap pada pendiriannya bahwa ini adalah demi kebaikan pemain?



