Teleskop Roman vs James Webb: Dua Raksasa di Titik L2, Misi Berbeda untuk Membaca Alam Semesta
Baca dalam 60 detik
- Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman akan tiba di Lagrange Point 2 (L2) pada akhir 2026 atau awal 2027, bergabung dengan James Webb di lokasi yang sama.
- Roman mengandalkan medan pandang superlebar untuk survei langit dan menemukan miliaran bintang baru, sementara Webb unggul dalam resolusi tinggi untuk studi detail objek yang sudah diketahui.
- Kombinasi keduanya berpotensi mengubah pemetaan galaksi dan pencarian eksoplanet, dengan Roman sebagai penemu dan Webb sebagai pemeriksa akhir.

Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA sedang menempuh perjalanan menuju titik observasi berjarak sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi. Sesampainya di sana, instrumen senilai miliaran dolar itu tidak akan sendirian: Teleskop Luar Angkasa James Webb sudah lebih dulu beroperasi di lokasi yang sama. Pertanyaannya, mengapa NASA mengirim dua teleskop canggih ke satu titik? Bukankah itu pemborosan?
Jawabannya terletak pada desain kamera dan misi yang saling melengkapi. Roman dirancang dengan medan pandang sangat luas, mampu memotret area langit yang besar dalam satu bidikan. Sebaliknya, Webb memiliki medan pandang sempit tetapi resolusi jauh lebih tinggi, sehingga bisa menangkap detail objek jauh dengan ketajaman luar biasa. Analoginya, Roman seperti melirik sekeliling untuk menemukan sesuatu yang baru, sedangkan Webb seperti mengamati objek spesifik dengan kaca pembesar super.
Perbedaan filosofi ini berdampak pada target ilmiah. Webb sangat cocok untuk mempelajari objek yang sudah diketahui ilmuwan, tetapi kurang efektif untuk penemuan baru karena jangkauan pandangnya terbatas. Roman akan melakukan survei seluruh langit dan diperkirakan menemukan miliaran bintang yang belum pernah terlihat. Jika Roman menemukan sesuatu yang menarik, NASA dapat mengarahkan Webb untuk memeriksanya lebih rinci. Keduanya bukan pesaing, melainkan mitra dalam rantai penemuan.
Secara teknis, kemampuan masing-masing teleskop ditentukan oleh cermin dan detektor. Cermin Webb yang terdiri dari 18 segmen heksagonal berdiameter total 6,5 meter—terbesar yang pernah diluncurkan ke antariksa—mengumpulkan cahaya inframerah dalam jumlah besar. Untuk mencegah radiasi panas mengganggu sinyal, cermin ini harus didinginkan hingga -220°C. Sementara itu, Roman mengandalkan cermin tunggal berdiameter 2,4 meter, setara Hubble namun hanya seperempat bobotnya. Konsekuensinya, Roman menangkap cahaya lebih sedikit, tetapi detektornya yang bernama Wide-Field Instrument (WFI) memiliki 18 sensor beresolusi 4.096 x 4.096 piksel dengan cakupan langit yang sangat luas.
Kedua teleskop ditempatkan di Lagrange Point 2 (L2) karena titik ini menawarkan stabilitas gravitasi. Di sana, gaya sentrifugal orbit teleskop diimbangi oleh tarikan gravitasi Bumi dan Matahari, sehingga koreksi posisi hanya membutuhkan sedikit bahan bakar. L2 juga relatif jauh dari silau Matahari, meskipun keduanya tetap dilengkapi pelindung termal berlapis.
Yang membedakan Roman adalah instrumen Coronagraph. Alat ini secara sengaja memblokir cahaya bintang yang sedang diamati—terdengar kontraproduktif, tetapi tujuannya untuk mengungkap planet yang mengorbit bintang tersebut. Coronagraph menggunakan kombinasi masker dan prisma, serta cermin fleksibel yang dapat berubah bentuk dengan presisi hingga setebal untaian DNA. Teknologi ini memungkinkan Roman mendeteksi eksoplanet redup yang selama ini tenggelam dalam kilau bintang induknya.
“Roman dan Webb adalah mitra dalam pekerjaan astronomi paling canggih yang pernah dilakukan,” demikian pernyataan yang menggambarkan sinergi kedua teleskop.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar berita sains internasional. Kemampuan Roman dalam survei langit luas dapat mempercepat penemuan objek langit baru yang mungkin terlewat oleh teleskop lain. Data yang terbuka untuk publik memungkinkan astronom Indonesia, termasuk dari Observatorium Bosscha dan BRIN, ikut menganalisis temuan tanpa harus memiliki teleskop luar angkasa sendiri. Ini adalah peluang untuk meningkatkan kontribusi riset antariksa nasional di kancah global.
Roman dijadwalkan tiba di L2 pada akhir 2026 atau awal 2027. Setelah itu, ia akan memetakan langit dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika ia menemukan kandidat eksoplanet atau galaksi purba, Webb akan menjadi pemeriksa akhir. Pertanyaannya, seberapa cepat kolaborasi ini akan mengubah buku teks astronomi—dan apakah Indonesia siap memanfaatkan datanya?



