793 Titik Api Karhutla Kepung Indonesia, Kalimantan Tengah Jadi Episentrum
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kehutanan mendeteksi 793 hotspot karhutla nasional pada Sabtu (10/10), melonjak 356 titik dari hari sebelumnya.
- Kalimantan Tengah menyumbang 288 titik api high confidence, lebih dari separuh total enam provinsi prioritas.
- BNPB laporkan kebakaran di 10 distrik Merauke, Papua Selatan, dengan 63 hektare terbakar dan sejumlah lokasi belum tertangani.

Kementerian Kehutanan mencatat 793 titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh Indonesia pada Sabtu (10/10) pukul 21.00 WIB. Angka ini melonjak tajam—bertambah 356 titik—dibandingkan Jumat (9/10) yang hanya 437 hotspot. Lonjakan ini menandakan fase kritis musim kemarau yang masih membayangi sejumlah wilayah.
Dari pantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), ratusan titik tersebut terdeteksi sebagai hotspot high confidence oleh satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Enam provinsi prioritas mencatat total 421 hotspot high confidence, naik dari 270 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah menjadi kontributor terbesar dengan 288 titik—lebih dari separuh total provinsi prioritas. Sumatera Selatan menyusul dengan 60 titik, Kalimantan Barat 44 titik, Kalimantan Selatan 28 titik, Jambi 1 titik, dan Riau nihil.
Peningkatan ekstrem di Kalimantan Tengah memaksa otoritas memperkuat patroli, groundcheck, dan operasi pengendalian lapangan. Meski Sumatera Selatan menunjukkan penurunan, kewaspadaan tetap tinggi karena cuaca kering dan kekeringan masih berpotensi memicu kebakaran baru. Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot adalah indikasi anomali suhu permukaan yang terekam satelit, bukan angka pasti kejadian kebakaran. Satu peristiwa kebakaran bisa terdeteksi sebagai beberapa titik, sehingga verifikasi lapangan menjadi keharusan sebelum menentukan tindakan.
"Setiap indikasi harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan tindakan penanganan yang diperlukan," demikian pernyataan resmi Kementerian Kehutanan.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan karhutla di 10 distrik Kabupaten Merauke, Papua Selatan, per Jumat (9/10) pukul 18.00 WIT. Distrik terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel. Lokasi kebakaran mencakup Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik.
Dari pendataan sementara, luas lahan terbakar di sembilan lokasi mencapai sekitar 63 hektare, sementara luas di Kampung Kondo masih dihitung. Hingga Sabtu (10/10), api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun telah padam dan masuk tahap pendinginan. Kebakaran di Desa Set Agung masih ditangani, sedangkan di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe ditangani pihak perusahaan. Namun, kebakaran di Kampung Kondo, Kampung Wakai, Kampung Ihalik belum tertangani karena lokasi terpencil dan sulit dijangkau.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa kondisi geografis menjadi tantangan utama. "Pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu terus dilakukan," ujarnya. Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa akibat karhutla tersebut.
Kombinasi lonjakan hotspot di Kalimantan dan kebakaran sulit diakses di Papua Selatan memperlihatkan kerentanan Indonesia terhadap karhutla di musim kemarau. Pemerintah perlu memastikan strategi pengendalian tidak hanya bergantung pada pemantauan satelit, tetapi juga kesiapan personel dan peralatan di daerah terpencil. Tanpa penanganan cepat, asap lintas negara dan kerusakan ekosistem bisa menjadi ancaman serius dalam beberapa pekan ke depan.



