Kabut Asap Karhutla Selimuti Balikpapan, BMKG Peringatkan Potensi Hujan Minim
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat kabut asap di Balikpapan berasal dari akumulasi karhutla di Kalteng, Kalsel, Paser, dan PPU yang terbawa angin ke utara.
- Kepekatan asap meningkat pada pagi hari karena suhu rendah memaksa partikel turun ke permukaan, meski jarak pandang masih dalam batas normal.
- Potensi tutupan awan dalam beberapa hari ke depan dinilai belum cukup memicu hujan yang bisa mengurangi kabut asap.

Kabut asap kembali menyelimuti Balikpapan, Kalimantan Timur, pada awal pekan ini. Udara di kota minyak itu terlihat lebih pekat dibandingkan hari-hari sebelumnya, akibat akumulasi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah daerah sekitar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi ini turut membatasi jarak pandang, meski masih dalam ambang normal.
Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan bahwa kepekatan asap paling terasa pada pagi hari. Menurutnya, suhu udara yang rendah pada waktu tersebut memaksa asap turun ke permukaan, sehingga kabut di sekitar permukaan bumi menjadi lebih tebal.
"Suhu udara pada pagi hari cenderung rendah, sehingga asap akan dipaksa turun ke permukaan dan membuat kondisi kabut asap di sekitar permukaan semakin pekat," ujar Huda, Senin (12/10), dikutip dari detikKalimantan.
Huda menambahkan, perubahan posisi matahari yang bergeser ke selatan meningkatkan potensi panas di wilayah selatan Kalimantan. Kondisi tersebut memperbesar risiko terjadinya karhutla di sejumlah wilayah. "Ini membuat potensi panas yang diterima, khususnya wilayah selatan Kalimantan meningkat. Sehingga memudahkan risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat," jelasnya.
Dalam beberapa hari terakhir, karhutla terpantau terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Asap dari kebakaran tersebut terbawa pergerakan angin ke utara hingga mencapai Kalimantan Timur. Selain dari kedua provinsi itu, kebakaran di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU) dilaporkan semakin intens, menambah sumber asap di wilayah selatan Kaltim.
Akumulasi asap dari berbagai wilayah tersebut kemudian bergerak ke utara, termasuk menuju Balikpapan. Pergerakan ini membuat asap terkumpul dan menyebabkan kabut terlihat semakin pekat. "Beberapa hal tersebut membuat kabut asap terakumulasi dan semakin tebal bergerak secara umum ke utara, seperti ke wilayah Balikpapan," ungkap Huda.
BMKG memprakirakan terdapat potensi tutupan awan di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut belum tentu memicu terjadinya hujan yang dapat membantu mengurangi kabut asap. "Untuk beberapa hari ke depan menunjukkan adanya potensi tutupan awan, namun masih sulit sampai pada akhirnya turun menjadi hujan," katanya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Balikpapan merupakan salah satu kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) yang tengah dibangun. Kualitas udara yang memburuk dapat berdampak pada aktivitas warga, penerbangan, dan kesehatan. Meski jarak pandang masih normal, potensi penurunan kualitas udara perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Secara lebih luas, karhutla di Kalimantan menjadi persoalan tahunan yang kerap dipicu oleh kombinasi cuaca kering dan aktivitas manusia. Upaya pencegahan dan penegakan hukum dinilai belum cukup menekan titik api. Tanpa perbaikan tata kelola lahan dan penguatan sistem deteksi dini, kabut asap diperkirakan akan terus berulang dan meluas ke wilayah lain.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pemerintah daerah dan pusat akan memperkuat koordinasi lintas provinsi untuk menangani sumber asap, atau justru kembali bergantung pada hujan sebagai solusi utama. Jika hujan tak kunjung turun, Balikpapan dan kota-kota lain di Kalimantan berpotensi menghadapi episode kabut asap yang lebih panjang.



