Bupati Situbondo: Jalur Anyer-Panarukan 3R Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
Baca dalam 60 detik
- Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo meluncurkan program Anyer-Panarukan 3R yang mencakup aspek Road, Route, dan Root untuk mengoptimalkan potensi sejarah dan ekonomi jalur pesisir.
- Inisiatif ini dinilai mampu mendorong pariwisata, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sepanjang jalur Anyer hingga Panarukan, bukan hanya untuk Serang dan Situbondo.
- Pemerintah daerah berharap program ini menjadi katalisator pembangunan yang berdampak nasional, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur dan identitas budaya.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai program Anyer-Panarukan 3R berpotensi menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar proyek pelestarian sejarah. Peluncuran program bertajuk Road, Route, Root itu digelar pada Minggu (11/10) dan langsung disosialisasikan melalui talkshow yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Menurut Rio, gagasan ini berangkat dari fakta bahwa Jalur Anyer-Panarukan merupakan urat nadi yang menghubungkan kawasan pesisir barat hingga timur Pulau Jawa. Nilai historisnya kuat, tetapi ia melihat ada peluang ekonomi yang belum tergarap maksimal. "Sejak awal kami berpikir bahwa Situbondo dan Serang memiliki aset sejarah yang bisa menjadi katalisator pembangunan daerah," ujarnya dalam acara tersebut.
Rio menegaskan bahwa manfaat program ini tidak akan terbatas pada dua kabupaten penyelenggara. Menurutnya, seluruh wilayah yang dilalui jalur tersebut berpotensi merasakan dampak positif, terutama dari sektor pariwisata dan usaha mikro. "Harapannya Anyer-Panarukan bukan hanya artefak sejarah, tapi bisa kita kapitalisasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Dalam konteks pembangunan nasional, pendekatan 3R ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pemerataan ekonomi melalui pengembangan destinasi wisata berbasis warisan budaya. Jalur Anyer-Panarukan sendiri memiliki nilai strategis karena melintasi sejumlah kabupaten/kota di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Jika dikelola serius, jalur ini bisa menjadi alternatif rute wisata sejarah yang menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
"Jadi ini bukan hanya kepentingan Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo. Ini kepentingan Indonesia," tegas Rio.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah konkret, seperti perbaikan infrastruktur jalan, penataan kawasan bersejarah, dan pelibatan pelaku usaha lokal. Tanpa eksekusi yang terkoordinasi, gagasan besar ini berisiko berhenti sebagai wacana. Dukungan lintas sektor, termasuk kementerian dan pemerintah provinsi, menjadi prasyarat agar program 3R tidak jalan di tempat.
Ke depan, keberhasilan Anyer-Panarukan 3R akan bergantung pada kemampuan daerah menarik investasi dan menjaga konsistensi kebijakan. Apakah program ini mampu mengubah wajah ekonomi pesisir Jawa, atau justru tenggelam dalam birokrasi? Publik menanti bukti nyata, bukan sekadar seremoni peluncuran.



