Lundy di Ambang Krisis Air: Musim Kering Ekstrem Ancam 28 Penduduk dan Pariwisata
Baca dalam 60 detik
- Pulau Lundy di Selat Bristol dilanda kekeringan parah sejak Mei, memaksa pembatasan air, penutupan toilet pub, dan pembatasan jumlah pengunjung.
- Tingkat air di tangki utama sempat menyusut ke 13%—hanya cukup untuk sepekan—sebelum pasokan darurat dari kolam Pondsbury menaikkannya ke 22,5%, namun kolam itu kini mulai mengering.
- Pihak pengelola memesan tangki penampung 300.000 liter dan mempertimbangkan desalinasi, sementara para penduduk dan wisatawan beradaptasi dengan pola hidup hemat air.

Pulau Lundy, permata terpencil di Selat Bristol sekitar 16 kilometer dari pantai Devon Utara, Inggris, berada di ujung tanduk akibat musim kemarau ekstrem yang melanda sejak awal Mei. Kekurangan air yang kritis telah memaksa pengelola membatasi kunjungan wisatawan, menutup fasilitas umum, dan bahkan menimbulkan wacana evakuasi terhadap 28 penduduk tetapnya.
Pulau granit sepanjang lima kilometer yang terkenal dengan burung puffin dan sejarah bajak lautnya ini sepenuhnya bergantung pada air hujan dan lima sumur bor. Sistem penampungan utama berada di selatan pulau, mengalirkan air ke tangki dekat pelabuhan sebelum dipompa ke instalasi pemurnian di dekat mercusuar tua. Namun, sejak Mei, langit di atas Lundy tak kunjung menurunkan hujan signifikan. Manajer pulau, Matt Scantlebury, mengungkapkan bahwa dua pekan lalu kapasitas tangki hanya tersisa 13%—cukup untuk bertahan sekitar sepekan. Air pun didatangkan berton-ton dengan kontainer 1.000 liter menggunakan kapal MS Oldenburg.
Langkah darurat diambil: area perkemahan ditutup, toilet di pub Marisco Tavern tidak diizinkan digunakan, dan sumbat bak mandi di rumah-rumah liburan disingkirkan. Para penghuni dan staf diminta berpikir dua kali sebelum menyiram toilet. "Kami harus mencari cara untuk memproteksi diri di masa depan," ujar Scantlebury, seperti dikutip dari laporan The Guardian.
Krisis ini bukan sekadar ujian logistik, melainkan cermin dari dampak perubahan iklim yang kian nyata di wilayah kepulauan. Tom Carr, peternak konservasi yang telah tinggal lebih dari 20 tahun di Lundy, menilai kombinasi darurat iklim dan topografi pulau menjadi biang keladi. "Perubahan iklim nyata, musim panas jadi lebih panas dan kering. Ketika awan hujan datang, mereka terbelah saat mendekati pulau dan kami tetap kering," tuturnya. Pola cuaca yang tidak menentu ini diperparah oleh karakteristik geografis Lundy yang menjulang dari laut, sering kali menghalau awan hujan sebelum sempat menurunkan air.
Meski demikian, secercah harapan muncul ketika kolam air tawar Pondsbury dinyatakan layak digunakan. Sejak itu, sekitar 12.000 liter air disedot setiap hari, mengerek level tangki ke 22,5%. Sayangnya, kolam itu kini mulai mengering dan prakiraan cuaca tidak menunjukkan tanda-tanda hujan lebat. Opsi desalinasi sempat dipertimbangkan, tetapi Scantlebury menilai teknologi itu terlalu mahal dan membutuhkan energi jauh melebihi kapasitas pulau. Sebagai gantinya, sebuah tangki penampung berkapasitas 300.000 liter telah dipesan untuk memperkuat cadangan.
"Kami sudah terbiasa mandi cepat dan menampung air di ember untuk menyiram toilet. Ini tentang bagaimana menjadi seefisien mungkin," kata Tristan Howes, insinyur pulau, menggambarkan adaptasi yang dilakukan staf dan warga.
Bagi para wisatawan, keterbatasan ini justru menjadi bagian dari petualangan. Michelle Phillips dan suaminya, Fred Bullinaria, datang untuk sehari dengan membawa 1,6 liter air, empat botol Lucozade, dan tablet hidrasi. Sementara Vick dan Ed Crane, yang merayakan ulang tahun pernikahan ke-10, menyiapkan tisu basah untuk mengurangi penggunaan air. "Kami tidak keberatan hidup sederhana. Itu bagian dari pengalaman Lundy," ujar Vick. Pulau yang dimiliki National Trust dan dikelola Landmark Trust ini memang dikenal sebagai destinasi bagi mereka yang tak masalah dengan sedikit kesulitan.
Di tengah kesulitan, penduduk tetap optimistis. Asisten warden, Tara McEvoy-Wilding, menyebut musim panas ini justru menguntungkan bagi kupu-kupu dan ngengat. Tanaman endemik Lundy cabbage pun tumbuh subur di tanah kering yang biasanya tidak cocok. "Ratusan tanaman kecil mulai tumbuh di area yang tidak biasa. Setidaknya itu positif," katanya. McEvoy-Wilding juga mengakui bahwa krisis air telah membuat warga lebih sadar akan konsumsi sehari-hari. "Anda jadi lebih bijak—mandi sebentar, tidak selalu menyiram toilet. Tidak buruk, itu membuat Anda berpikir tentang penghematan air," tambahnya.
Namun, harapan akan hujan tetap membara. "Sungguh menakjubkan betapa sedikit hujan yang turun. Kami hanya punya satu hari di Agustus ketika hujan turun selama satu jam, sangat deras, tapi tanah begitu kering sehingga air langsung mengalir ke laut," kenang McEvoy-Wilding. Ia pun kesulitan menjaga kebun sayurnya tetap hidup; labu-labunya jauh lebih kecil dari biasanya. "Hujan yang stabil dan lembut akan sempurna."
Krisis di Lundy menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada wilayah daratan luas, tetapi juga komunitas pulau kecil yang rentan. Sementara itu, di Indonesia, sejumlah daerah juga menghadapi tantangan serupa: musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa wilayah seperti Nusa Tenggara dan Jawa bagian timur kerap memicu krisis air bersih. Pelajaran dari Lundy—tentang konservasi, adaptasi teknologi, dan kesadaran kolektif—bisa menjadi cermin bagi pengelolaan sumber daya air di pulau-pulau kecil Indonesia yang menghadapi tekanan serupa. Pertanyaannya, seberapa siap kita menghadapi masa depan yang lebih kering?



