Trump Desak Ukraina Ganti Presiden, Kyiv Balas Serang Jantung Data Rusia
Baca dalam 60 detik
- Zelenskyy menegaskan hanya Moskow yang bertanggung jawab atas perang dan siap menghentikan serangan kilang minyak jika Rusia berhenti menghantam jaringan energi Ukraina.
- Serangan drone Ukraina melumpuhkan pusat data Yandex di Vladimir, serangan ketiga dalam empat hari yang mengganggu layanan digital di puluhan kota Rusia dan negara tetangga.
- Ketegangan AS-Ukraina memanas setelah Trump menuding Zelenskyy penyebab mahalnya solar di AS dan menjalin kesepakatan diesel dengan Putin menjelang pemilu sela.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa Rusia adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas perang di negaranya, seraya menawarkan penghentian serangan terhadap kilang minyak Rusia jika Moskow menghentikan penghancuran jaringan energi Ukraina. Pernyataan itu muncul sebagai respons langsung terhadap desakan Presiden AS Donald Trump yang menilai Kyiv perlu kepemimpinan baru dan menuding Zelenskyy sebagai biang keladi mahalnya harga solar di Amerika Serikat.
"Ukraina siap menghentikan serangan ke kilang minyak Rusia jika Rusia berhenti menyerang infrastruktur energi kami," tulis Zelenskyy di platform X, seraya menambahkan bahwa de-eskalasi harus bersifat timbal balik dan disertai jaminan nyata. Ia menyebut gencatan senjata di sektor energi bisa dimulai hari itu juga, namun menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin tidak memiliki keinginan ke arah sana.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha ikut membantah pernyataan Trump. Menurutnya, Zelenskyy memimpin perjuangan kemerdekaan negaranya dan mendapatkan mandat dari rakyat Ukraina. "Dukungan rakyat Ukraina adalah hak mereka untuk menentukan pemimpin, dan pernyataan dari luar hanya menegaskan bahwa ia menjalankan tugasnya dengan baik," ujar Sybiha seperti dikutip dari pernyataannya di X.
Ketegangan diplomatik ini berjalan seiring dengan eskalasi perang udara jarak jauh. Pada Minggu, serangan drone Ukraina mematikan operasional pusat data milik raksasa teknologi Rusia, Yandex, di kota Vladimir, sebelah timur Moskow. Insiden itu merupakan serangan ketiga terhadap fasilitas Yandex dalam empat hari, setelah sebelumnya pusat data di Ryazan dan Kaluga juga dilumpuhkan. Akibatnya, layanan pencarian, transportasi daring, dan perbankan digital di lusinan kota Rusia serta di Kazakhstan, Belarus, dan Armenia terganggu.
Yandex, yang sering disebut sebagai "Google-nya Rusia", merupakan tulang punggung ekosistem digital dan pengembangan kecerdasan buatan di negara itu. Serangan terhadap pusat datanya menandai babak baru dalam perang: Ukraina tidak lagi hanya menyasar kilang minyak atau gudang amunisi, tetapi juga infrastruktur komputasi yang menopang ekonomi digital Rusia. Langkah ini merupakan balasan atas serangan Rusia terhadap pusat data di Ukraina.
"Infrastruktur pusat data Yandex di Vladimir rusak akibat serangan drone. Operasional dihentikan total. Tidak ada korban luka," demikian pernyataan kanal Telegram Yandex Cloud.
Sementara itu, korban jiwa terus berjatuhan. Zelenskyy mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di Zaporizhzhia telah berakhir setelah bom Rusia menghantam kota itu pada Sabtu. Sebanyak 23 orang tewas, termasuk empat anak, dan lebih dari 30 lainnya luka-luka. Di sisi lain, seorang pria tewas dan dua perempuan terluka dalam serangan drone Ukraina di wilayah perbatasan Bryansk, Rusia.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar tontonan geopolitik. Ketegangan di Eropa Timur berdampak langsung pada harga energi global, termasuk minyak mentah dan gas, yang menjadi acuan APBN. Ketika AS memilih membeli diesel dari Rusia untuk menstabilkan harga domestiknya, pasar energi dunia berpotensi terfragmentasi lebih jauh. Negara-negara berkembang seperti Indonesia menghadapi dilema: mengejar harga murah atau tetap setia pada tatanan sanksi internasional. Pilihan itu akan memengaruhi biaya subsidi energi dan daya beli masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan, perang siber dan serangan infrastruktur digital memperlihatkan bahwa konflik modern tidak lagi terbatas pada medan tempur. Serangan terhadap pusat data Yandex adalah preseden bahwa infrastruktur digital sipil bisa menjadi target sah dalam perang. Bagi Indonesia yang tengah membangun pusat data nasional dan ekonomi digital, pelajaran ini menuntut penguatan keamanan siber dan redundansi sistem agar tidak lumpuh jika terjadi eskalasi geopolitik.
Ke depan, poros Washington-Kyiv berada di titik terendah. Desakan Trump agar Ukraina mengganti pemimpin, ditambah kesepakatan diesel dengan Putin, menempatkan Zelenskyy pada posisi sulit: bertahan dengan dukungan rakyatnya atau menyesuaikan diri dengan tekanan sekutu terbesarnya. Sementara itu, Moskow tampaknya belum siap menghentikan serangan energinya. Jika kedua belah pihak terus saling menghantam infrastruktur vital, bukan tidak mungkin perang ini memasuki fase baru yang lebih merusak dan sulit dikendalikan.



