Raul Fernandez Finis Kedua di MotoGP Indonesia dengan Dua Jari Patah: 'Saya Tak Tahu Bagaimana Melakukannya'
Baca dalam 60 detik
- Raul Fernandez mengamankan podium kedua di Mandalika meski mengalami patah dua jari tangan kanan, termasuk jari telunjuk yang biasa digunakan untuk mengerem.
- Bersama tim Trackhouse Aprilia, ia mengubah posisi tuas rem agar bisa dioperasikan dengan jari tengah, lalu menyesuaikan gaya berkendara hanya dalam sesi pemanasan.
- Hasil ini menegaskan kedalaman performa Aprilia yang mendominasi empat posisi teratas, sekaligus menambah tekanan pada pebalap pabrikan jelang putaran berikutnya.

Raul Fernandez menorehkan salah satu penampilan paling heroik musim ini di Sirkuit Mandalika, Minggu, dengan finis runner-up di Grand Prix Indonesia meski menuntaskan balapan dalam kondisi dua jari tangan kanan patah. Pebalap Trackhouse Aprilia itu harus mengubah teknik mengerem secara total setelah cedera yang didapat pada sesi sprint sehari sebelumnya.
Cedera pertama terdeteksi usai sprint, namun pemeriksaan pada Minggu pagi mengungkap adanya patah kedua. Masalah utamanya bukan rasa nyeri, melainkan jari telunjuk kananโjari yang lazim ia gunakan untuk mengerem. Tanpa solusi teknis, mustahil baginya turun ke lintasan.
Bersama timnya, Fernandez melakukan modifikasi pada posisi tuas rem dan penempatan tangan sehingga ia bisa mengerem dengan jari tengah. Penyesuaian itu hanya diuji dalam sesi pemanasan, yang berarti ia harus mempelajari teknik baru sekaligus membangun ulang referensi pengereman dan titik masuk tikungan di sepanjang balapan.
Dalam wawancara usai balapan, Fernandez mengaku tak sepenuhnya memahami bagaimana ia bisa bertahan di barisan depan. "Saya tidak tahu! Pagi ini saya bangun dengan kondisi jari yang sangat buruk. Masalahnya bukan nyeri, tapi jari yang patah adalah jari yang saya pakai untuk mengerem," ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim mengubah posisi tangan dan sedikit menyesuaikan tuas rem agar ia bisa tetap kompetitif.
"Setelah 13-14 lap saya hampir hancur. Rasanya sangat sakit... menjaga fokus pada setang dan tidak membuat kesalahan itu sangat sulit. Tapi akhirnya kami bisa menyelesaikan balapan dan meraih podium yang luar biasa."
Fernandez juga memberikan apresiasi khusus kepada staf medis MotoGP, termasuk Direktur Medis Dr. Angel Charte. Menurutnya, pemasangan perban khusus untuk menjaga posisi jari di setang membuatnya bisa lebih rileks mengendarai motor. "Tanpa mereka, mungkin saya tidak bisa balapan hari ini," tegasnya.
Hasil 1-2 untuk Bezzecchi dan Fernandez, yang menjadi bagian dari 1-2-3-4 Aprilia, tampaknya meredakan ketegangan antara keduanya setelah insiden di sprint. Meski tidak sepenuhnya akrab, kedua pebalap terlihat saling menghormati seusai balapan dan saat menuju podium.
Bagi publik Indonesia, penampilan Fernandez di Mandalika menjadi pengingat bahwa sirkuit ini kerap melahirkan drama di luar perhitungan. Keberaniannya membalap dengan kondisi cedera serius menambah daya tarik MotoGP di mata penggemar tanah air, sekaligus menegaskan bahwa Mandalika bukan sekadar venue, melainkan panggung bagi aksi-aksi heroik yang jarang terjadi di trek lain.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh batas ketahanan fisik seorang pebalap dapat diuji sebelum cedera mengubah peta persaingan. Jika Fernandez mampu tampil sekuat ini dengan dua jari patah, tekanan terhadap para pebalap pabrikan yang tampil tanpa hambatan fisik akan semakin besar. MotoGP musim ini tampaknya masih menyimpan banyak kejutan di luar nalar.



