Gelombang Panas Ancam Sekolah Inggris, Serikat Guru Desak Reformasi Kalender Akademik
Baca dalam 60 detik
- Serikat guru terbesar di Inggris mengusulkan perubahan jam belajar, libur musim panas diperpanjang, dan ujian digeser dari puncak musim panas untuk mengatasi suhu ekstrem.
- Lebih dari 760.000 siswa di Inggris dan Wales kehilangan jam pelajaran akibat penutupan sekolah saat gelombang panas Juni, dengan suhu kelas menembus 40ยฐC.
- Dampak krisis iklim di ruang kelas dinilai tidak merata dan berpotensi menciptakan sistem pendidikan dua tingkat antara sekolah kaya dan miskin.

LONDON โ Serikat pendidikan terbesar di Inggris, National Education Union (NEU), mendesak pemerintah melakukan perombakan besar-besaran pada sistem persekolahan. General Secretary NEU, Daniel Kebede, menilai gelombang panas ekstrem yang melanda negara itu dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan krisis pembelajaran yang tidak bisa lagi diabaikan. Ia mengusulkan sejumlah langkah radikal, mulai dari mengubah jam masuk dan pulang sekolah, menata ulang kalender libur, hingga memindahkan jadwal ujian dari bulan-bulan terpanas.
Dalam wawancara dengan The Guardian, Kebede mengungkapkan bahwa musim panas tahun ini menjadi titik terburuk. Suhu di dalam ruang kelas dilaporkan menembus 40 derajat Celsius, memaksa ratusan ribu siswa dipulangkan. Menurut data yang dihimpun, sedikitnya 760.000 pelajar di Inggris dan Wales kehilangan kesempatan belajar akibat penutupan sekolah selama gelombang panas Juni. Angka itu setara dengan satu dari lima siswa di Inggris yang kehilangan lebih dari 15 juta jam pelajaran hanya dalam hitungan bulan.
Kebede menyoroti bahwa bangunan sekolah di Inggris dibangun untuk iklim yang berbeda. Banyak di antaranya merupakan struktur tua peninggalan era Victoria atau dibangun pada 1960-an dan 1970-an, yang tidak memiliki desain adaptif terhadap suhu tinggi. Ia menyerukan program retrofit besar-besaran dan pembangunan kapital untuk membuat sekolah "layak bagi abad yang kita jalani". Menurutnya, langkah ini tidak hanya menyelamatkan pendidikan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan apprenticeship yang terorganisir, serta merevitalisasi komunitas lokal.
"Perlu diskusi serius tentang bagaimana memastikan kesinambungan pendidikan di iklim yang berubah ini. Anda mungkin ingin mempertimbangkan menggeser tahun ajaran, atau memperpanjang libur musim panasโdi negara-negara panas mereka cenderung memiliki libur musim panas yang lebih panjang. Anda mungkin mempertimbangkan masuk lebih awal dan pulang lebih awal... dan mungkin kita tidak ingin ujian berlangsung di bagian terpanas tahun ini." โ Daniel Kebede, General Secretary NEU
Kebede mengaku dibanjiri pesan dari para guru selama gelombang panas musim panas ini. Ia menyamakan tingkat kepanikan yang dirasakan para pendidik dengan situasi pandemi Covid-19. "Saya rutin dihubungi anggota yang dalam kesulitan... mereka merasa ada risiko dan bahaya nyata bagi diri mereka sendiri dan murid-murid mereka," ujarnya. Salah satu guru sekolah dasar menggambarkan kondisi kelas yang kacau: siswa tergeletak di lantai dengan botol air, berkeringat, mengeluh pusing dan mual, sementara orang dewasa pun nyaris tidak sanggup bertahan. "Tidak ada pembelajaran, hanya bertahan hidup sebisanya," katanya.
Dampak gelombang panas ini tidak hanya terjadi di Inggris. Gelombang suhu ekstrem dan kebakaran hutan melanda sejumlah negara Eropa. Di Prancis, para pelajar turun ke jalan menuntut tindakan agar ruang kelas layak digunakan selama cuaca panas. Fenomena ini menandakan bahwa krisis iklim telah menjadi persoalan lintas negara yang mengancam hak atas pendidikan.
Yang lebih mengkhawatirkan, Kebede memperingatkan bahwa beban gelombang panas tidak terdistribusi secara adil. Anak-anak dari keluarga kurang mampu sering dipulangkan ke apartemen yang tidak dirancang untuk suhu ekstrem, dengan orang tua atau pengasuh yang tidak bisa bekerja dari rumah atau mengambil cuti. "Dampaknya sangat tidak merata dan terutama menimpa anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan terpinggirkan... akan ada sistem dua tingkat di mana sekolah di daerah lebih makmur mampu mengatasi panas ekstrem," tegasnya.
Peringatan ini muncul menjelang musim panas berikutnya yang diprediksi akan diperparah oleh fenomena El Niรฑo. Kebede menekankan bahwa apa yang terjadi tahun ini akan menjadi norma baru. "Kami benar-benar membutuhkan rencana yang ada sekarang karena [apa yang kami alami musim panas ini] akan menjadi hal biasa," pungkasnya.
Pertanyaannya kini: akankah pemerintah Inggris merespons seruan ini dengan kebijakan konkret, ataukah ruang kelas akan kembali menjadi oven pada musim panas mendatang?



