Russell Akui Kesalahan Sendiri di Sprint Singapura, Kualifikasi Terganggu
Baca dalam 60 detik
- George Russell menyebut kecelakaan di sprint Singapura murni akibat kesalahannya sendiri.
- Mobil Mercedes yang dibangun ulang darurat diduga tak kembali ke performa optimal, membuatnya hanya finis keenam di kualifikasi.
- Dengan penalti power unit, Russell harus start dari belakang dan hanya berharap bisa meraih poin di balapan utama.

Pembalap Mercedes George Russell mengakui bahwa dirinya menjadi penyebab utama insiden yang membuatnya gagal finis di sprint race Grand Prix Singapura. Kesalahan itu berbuntut panjang: mobilnya harus dirakit ulang secara terburu-buru, dan performa di sesi kualifikasi pun ikut terdampak.
Insiden terjadi saat lintasan Marina Bay basah. Russell, yang start dari baris depan, melesat ke posisi terdepan berkat akselerasi lebih baik dibandingkan pole sitter Max Verstappen. Namun, ia kehilangan kendali setelah sedikit melebar di tikungan terakhir, berputar, dan menabrak dinding bagian dalam. Ia pun terpaksa mengakhiri balapan lebih awal.
Padahal, kecepatan Russell sudah terlihat sejak kualifikasi sprint, di mana ia menempati posisi kedua. Sayangnya, di kualifikasi utama ia hanya mampu menempati urutan keenam. Ia menduga hal itu terjadi karena mekaniknya harus bekerja cepat merakit ulang mobil Silver Arrow setelah kecelakaan.
“Jelas ini hari yang sangat buruk secara keseluruhan, dan bersumber dari kesalahan saya sendiri,” ujar Russell. “Mobil tidak terasa sama. Saya kesulitan dengan bagian belakang, lalu ban menjadi terlalu panas, dan itu menjadi lingkaran setan. Kemarin semuanya berjalan lancar, jadi kami perlu menyelidiki penyebabnya.”
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut bukan hal yang mengejutkan mengingat seluruh tim harus menyatukan kembali mobil yang baru saja menghantam dinding. “Kemarin kami kompetitif di setiap lap, hari ini tidak,” tegasnya.
Teori Russell diamini oleh principal Mercedes, Toto Wolff. Meski tim masih perlu melakukan investigasi lebih lanjut, Wolff menilai mobil Russell dirakit pada menit-menit terakhir sehingga performanya tidak maksimal. “Dengan George, mobil baru selesai tepat sebelum batas waktu. Lantai mobil mungkin tidak sepenuhnya sempurna. Jadi secara keseluruhan, itu performa yang bagus,” kata Wolff kepada Sky Germany.
Menghadapi balapan utama, Russell tidak bisa memastikan target realistis. Penalti power unit akibat kegagalan mesin di Sepang menempatkannya di posisi paling belakang. Ia menyadari bahwa comeback dari posisi tersebut sangat bergantung pada dinamika balapan, seperti yang dialami rekan setimnya, Kimi Antonelli. Di Grand Prix Italia, Antonelli mampu menang dari posisi ke-19, tetapi di Azerbaijan ia butuh 17 lap hanya untuk masuk 10 besar dari posisi ke-16.
“Ini akan sangat menantang,” tambah Russell. “Kimi punya satu balapan start dari posisi 19 dan menang, lalu balapan lain start dari 16 dan hanya bisa mencapai P10 dengan 10 lap tersisa. Pembalap yang sama, mobil yang sama, tetapi hasilnya sangat berbeda. Jadi untuk menjawab pertanyaan Anda, saya benar-benar tidak tahu.”
Dengan Mercedes yang terus ditekan Red Bull dan Ferrari sepanjang akhir pekan ini, Russell hanya berharap bisa mengamankan poin. Balapan utama Singapura akan menjadi ujian berat bagi tim yang harus memulihkan performa mobil setelah insiden sprint. Apakah Russell mampu bangkit dari keterpurukan, ataukah kesalahan kecil di lintasan basah akan terus membayangi langkahnya?



