Love Through a Prism: Romansa Anime Netflix yang Bersiap Hadapi Perang Dunia I
Baca dalam 60 detik
- Serial anime Netflix Love Through a Prism mengangkat kisah cinta di sekolah seni London menjelang Perang Dunia I, diproduksi Wit Studio dan digarap kreator Boys Over Flowers, Yoko Kamio.
- Dengan 20 episode dan alur yang bergeser tiap lima episode, serial ini menawarkan slow-burn romance yang matang, bukan sekadar drama sekolah biasa.
- Kehadiran perang sebagai bayang-bayang mengubah lanskap emosional dan visual cerita, menjadikannya refleksi tentang cinta, seni, dan kehilangan.

Serial anime terbaru Netflix, Love Through a Prism, mungkin tampak seperti tontonan nyaman: romansa periode dengan cahaya hangat, pemandangan indah, dan akting yang tenang namun meyakinkan. Namun di balik keindahan London awal abad ke-20, ada tenggat waktu yang tak terhindarkan—Perang Dunia I semakin dekat, dan para seniman muda ini belum menyadarinya.
Kisahnya mengikuti Lili Ichijoin, perempuan Jepang berusia 20 tahun yang datang ke London untuk belajar di Saint Thomas Art Academy. Ibunya yang ambisius memberinya waktu enam bulan untuk menjadi murid terbaik, atau ia harus pulang ke Yokohama dan bekerja di bisnis kimono keluarga. Di sana ia bertemu Kit Church, seniman berbakat dengan rambut pirang dan mata cerah, yang langsung memikatnya dengan kemampuannya menggambar—meski sikapnya yang tertutup sempat membuat Lili kesal.
Dinamika mereka mengingatkan pada banyak romansa anime populer: heroine ceria dan gigih berhadapan dengan pria pendiam yang lebih nyaman mengekspresikan diri lewat kanvas. Namun yang membedakan, Kit adalah murid terbaik di sekolah, sehingga ia menjadi saingan utama Lili. Jika Lili tidak mampu melampauinya, karier seninya bisa berakhir sebelum dimulai.
Namun itu baru arc pertama. Dalam 20 episode, cerita berkembang jauh melampaui drama sekolah biasa. Setiap lima episode, ada kejutan atau lapisan baru yang mengubah arah narasi. Tanpa membocorkan detail, Love Through a Prism bergerak menjadi kisah yang lebih menggugah—kadang mengejutkan, kadang menghancurkan hati.
Keindahan dan seni tetap menjadi inti cerita, baik dari segi naratif maupun visual. Animasi Wit Studio memanjakan mata dengan bidikan luas taman, rumah megah, dan panorama London. Penonton diajak melihat dunia melalui perspektif seniman berbakat, di mana keindahan terasa seperti oksigen emosional. Ketika keindahan itu hilang, hidup tidak hanya menjadi sedih—tetapi kehilangan warna.
“Serial ini tidak menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang mudah ditemukan. Ia menawarkan perspektif matang yang berakar pada tekad, pengorbanan, dan pentingnya tetap setia pada diri sendiri bahkan ketika dunia luar membuatnya sangat sulit.”
London sendiri seperti karakter dengan arc-nya sendiri. Serial ini sadar bahwa dunia idealnya hidup dalam waktu pinjaman. Keindahan ada di mana-mana, sementara masa depan diam-diam mendekat. Ketegangan itu menjadi tulang punggung emosional cerita. Apa yang dimulai sebagai kompetisi antara dua pelukis ambisius perlahan berubah menjadi kisah tentang mempertahankan cinta dan keindahan saat sejarah mengancam keduanya.
Perang bukan sekadar latar dramatis yang ditempelkan pada hubungan Lili dan Kit. Konflik yang mendekat mengubah kemungkinan yang tersedia bagi mereka dan bahasa visual serial itu sendiri. Setiap taman damai, studio yang diterangi matahari, dan momen curian bersama terasa semakin rapuh. Inilah yang membuat Love Through a Prism terasa lebih dari sekadar romansa sejarah biasa.
Bagi penonton yang menyukai slow-burn romance dan latar sejarah, serial ini adalah pilihan tepat. Banyak romansa anime bisa menjadi konyol, tetapi Love Through a Prism jauh lebih serius dalam nada, meski tetap menemukan kelembutan dan pesona untuk menjaga babak awalnya tidak terlalu muram. Lebih penting lagi, serial ini menunjukkan bahwa cinta tidak selalu mudah, dan keindahan tidak abadi—justru itulah yang membuat tindakan mencipta, mencintai, dan benar-benar melihatnya menjadi semakin penting.
Dengan pendekatan yang matang dan visual memukau, Love Through a Prism berpotensi menjadi salah satu romansa anime paling berkesan tahun ini. Apakah penonton Indonesia siap menerima kisah cinta yang tidak hanya manis, tetapi juga pahit dan penuh pengorbanan?



