Microsoft-Decision-1: Model AI Khusus Keputusan Kilat, 35 Kali Lebih Cepat dari GPT-6 Sol
Baca dalam 60 detik
- Microsoft meluncurkan Microsoft-Decision-1, model AI yang dirancang untuk pengambilan keputusan otomatis dengan kecepatan eksekusi 4,5 kali lipat pesaing terdekat dan 35 kali lebih cepat dari model bahasa besar seperti GPT-6 Sol.
- Model ini dibanderol $0,042 per juta token input dengan output gratis, menandai strategi Microsoft menyasar efisiensi biaya untuk alur kerja perusahaan.
- Kehadiran model khusus keputusan ini berpotensi mengubah lanskap otomasi enterprise, memaksa pesaing seperti Google dan OpenAI untuk menghadirkan solusi serupa.

Microsoft resmi meluncurkan Microsoft-Decision-1, sistem kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk mengeksekusi keputusan otomatis secara kilat. Langkah ini menandai pergeseran strategis perusahaan menuju perangkat AI berbiaya rendah yang ditargetkan untuk alur kerja perusahaan, bukan sekadar model bahasa serbaguna.
Berbeda dengan model bahasa besar yang berfokus pada percakapan teks, Microsoft-Decision-1 dibangun untuk mengevaluasi opsi yang telah ditentukan dan menghasilkan metrik terstruktur yang dapat langsung dikonsumsi perangkat lunak tanpa campur tangan manusia. Kemampuan ini menyasar tugas-tugas seperti menyortir kueri masuk, mengarahkan permintaan sistem, memverifikasi data, dan mengelola agen otonom.
Dalam pengujian yang melibatkan 36 tolok ukur buta, model ini mencatatkan eksekusi 4,5 kali lebih cepat dari pesaing terdekatnya dan sekitar 35 kali lebih cepat dibanding model bahasa besar tradisional seperti GPT-6 Sol. Microsoft juga melaporkan bahwa sistem ini hanya mengubah output keputusan pada 1,3% kasus ketika permintaan diparafrase atau urutan opsi diacak, menunjukkan stabilitas terhadap manipulasi prompt.
Model ini dibangun dengan melakukan post-training pada basis 9 miliar parameter (Qwen3.5-9B). Menurut Achint Srivastava, Vice President of Software Engineering di Office of the CTO Microsoft, sistem penilaian keputusan merupakan kategori baru yang bertujuan mengatasi hambatan latensi dalam otomasi perangkat lunak. Ia menambahkan bahwa akumulasi keterlambatan dalam operasi AI multi-langkah menjadi tantangan utama yang ingin dipecahkan.
"Sistem penilaian keputusan mewakili kategori yang sedang berkembang untuk mengatasi hambatan latensi dalam otomasi perangkat lunak," ujar Srivastava.
Microsoft-Decision-1 telah digunakan oleh beberapa tim internal. Xbox Research memanfaatkannya untuk mengategorikan lebih dari 10.000 ulasan pemain ke dalam kategori terstruktur, mencapai peningkatan kecepatan 14 kali lipat. Sementara tim Microsoft Copilot menggunakannya untuk pemeriksaan kualitas respons agen interaktif, beroperasi hingga 100 kali lebih cepat dari konfigurasi sebelumnya.
Model ini tersedia melalui Microsoft Foundry dan akan segera hadir di OpenRouter. Microsoft menyatakan iterasi mendatang akan menggabungkan fondasi model alternatif, termasuk teknologi OpenAI. Harga yang dipatok—$0,042 per juta token input dengan output gratis—menegaskan posisi Microsoft dalam pasar AI enterprise yang semakin sensitif terhadap biaya.
Langkah Microsoft ini mempertegas tren menuju AI yang lebih terspesialisasi dan efisien, di mana model tidak lagi hanya mengandalkan kemampuan generasi teks tetapi juga kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan terstruktur. Bagi perusahaan di Indonesia yang mulai mengadopsi otomasi berbasis AI, kehadiran model seperti ini dapat mempercepat digitalisasi proses bisnis, terutama di sektor keuangan, logistik, dan layanan pelanggan yang menuntut respons cepat.
Ke depan, persaingan di segmen model keputusan akan semakin ketat. Google dan OpenAI diperkirakan tidak tinggal diam. Pertanyaannya, apakah model khusus seperti ini akan menjadi standar baru dalam arsitektur AI enterprise, atau hanya pelengkap bagi model bahasa besar yang tetap dominan?



