Anker Pangkas Harga Charger dan Power Bank hingga 30% di Oktober 2026
Baca dalam 60 detik
- Anker menawarkan diskon hingga 30% untuk lini charger dan power bank selama Oktober 2026, termasuk Prime Wall Charger dan MagGo Power Bank.
- Langkah ini merespons standarisasi USB-C dan kebiasaan konsumen yang mencari aksesori kompatibel setelah tidak adanya charger dalam kotak ponsel baru.
- Bagi pengguna di Indonesia, penawaran ini menjadi peluang untuk mendapatkan perangkat pengisian berteknologi tinggi dengan harga lebih terjangkau, meski perlu memperhitungkan biaya impor.

Anker, produsen aksesori pengisian daya asal Tiongkok, kembali menggelar promo musiman dengan memotong harga sejumlah produk unggulan hingga akhir Oktober 2026. Diskon ini mencakup lini charger dinding, power bank, car charger, dan station pengisian nirkabel, dengan besaran potongan mencapai 30% dari harga normal.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Sejak Apple menghapus adaptor daya dari kotak penjualan iPhone pada 2020, pasar aksesori pengisian tumbuh pesat. Konsumen dipaksa membeli charger terpisah, sementara transisi ke USB-C mempercepat perputaran perangkat lama. Anker, yang berdiri sejak 2011, memanfaatkan momentum ini dengan menawarkan solusi pengisian cepat yang juga diklaim lebih aman bagi perangkat.
Dalam promo kali ini, Anker Prime Wall Charger dibanderol US$89,98, turun hampir US$40 dari harga normal. Paket ini mencakup charger 100W dengan tiga port (dua USB-C dan satu USB-A) serta dua kabel USB-C ke USB-C anyaman yang diklaim tahan hingga 10 tahun. Charger ini mampu mengisi daya MacBook Pro 14 inci hingga 50% dalam setengah jam, menjadikannya pilihan untuk pengguna laptop dan ponsel sekaligus.
Untuk pengguna yang sering bepergian, Anker menawarkan paket MagGo Power Bank Slim dan Nano Power Bank Slim seharga US$134,85, lebih murah sekitar US$25. MagGo memiliki kapasitas 10.000mAh dengan pengisian nirkabel dan satu port USB-C, dirancang untuk iPhone 12 hingga 16. Sementara Nano berkapasitas 5.000mAh, dapat mengisi iPhone 16 Pro hingga 25% dalam 42 menit, dan dilengkapi kabel USB-C 20W. Keduanya mengutamakan portabilitas dan keamanan dengan teknologi pendingin tambahan.
Bagi pemilik mobil dengan soket lighter tradisional, Anker 323 Car Charger dijual kurang dari US$15. Meski hanya menyediakan dua port, charger ini kompatibel dengan berbagai perangkat, termasuk iPhone dan Samsung. Port USB-C 30W dapat mengisi tablet hingga laptop, sedangkan port USB-A 22,5W cocok untuk ponsel lama, AirPods, atau Apple Watch. Teknologi ActiveShield 2.0 memantau suhu dan menyesuaikan daya agar perangkat tetap aman.
Terakhir, Anker 3-in-1 Foldable Charger hadir dengan harga US$109,99, potongan US$30. Perangkat ini menggunakan teknologi Qi2 dan dirancang khusus untuk ekosistem Apple: iPhone, Apple Watch, dan AirPods dapat diisi bersamaan. Bobotnya hanya 6,9 ons dan dapat dilipat, memudahkan penyimpanan saat perjalanan. Charger ini kompatibel dengan iPhone 13 hingga 17, AirPods Pro 1 dan 2, serta Apple Watch seri 1โ9 dan Ultra. Paket pembelian mencakup station, kabel USB-C 5 kaki, dan adaptor dinding 40W.
"Kami melihat permintaan yang kuat untuk solusi pengisian yang tidak hanya cepat tetapi juga melindungi perangkat. Promo ini adalah cara kami menjangkau lebih banyak pengguna yang baru beralih ke USB-C," ujar seorang perwakilan Anker dalam siaran persnya.
Di Indonesia, tren serupa juga terlihat. Pengguna ponsel flagship dan laptop tipis semakin mencari charger berdaya tinggi yang dapat mengisi beberapa perangkat sekaligus. Meski demikian, harga resmi di pasar domestik sering kali lebih tinggi karena pajak impor dan distribusi. Promo global ini bisa menjadi acuan bagi konsumen untuk membandingkan harga di toko daring lokal atau penyedia jasa titip beli.
Ke depan, persaingan di segmen aksesori pengisian diprediksi semakin ketat. Standarisasi USB-C dan adopsi Qi2 akan mendorong produsen lain untuk menawarkan fitur serupa dengan harga bersaing. Anker, dengan reputasi dan inovasi ActiveShield-nya, masih menjadi pemain kunci. Pertanyaannya, akankah diskon agresif ini diikuti oleh merek lain dan bagaimana dampaknya bagi pasar aksesori Indonesia yang masih bergantung pada impor?



