Bloodaxe, Serial Viking Terbaru dari Kreator Vikings, Tayang Januari 2027 di Prime Video
Baca dalam 60 detik
- Prime Video menetapkan 20 Januari 2027 sebagai tanggal tayang perdana Bloodaxe, serial delapan episode yang seluruhnya rilis sekaligus.
- Michael Hirst kembali mengeksplorasi sejarah Norse melalui kisah Erik Bloodaxe dan Gunnhild, dengan konflik perebutan takhta Norwegia abad ke-10.
- Produksi musim kedua telah berjalan di Irlandia, menandakan kepercayaan platform terhadap potensi serial ini sebelum musim pertamanya mengudara.

Prime Video resmi mengumumkan bahwa Bloodaxe, serial drama aksi sejarah garapan Michael Hirst—kreator di balik Vikings—akan tayang perdana pada 20 Januari 2027. Seluruh delapan episode musim pertama akan dirilis serentak pada hari yang sama, sebuah strategi yang kian umum di platform streaming untuk memicu maraton tontonan dan percakapan daring secara instan.
Pengumuman ini disampaikan dalam panel di New York Comic Con, Jumat lalu, yang menghadirkan Hirst bersama co-showrunner Horatio Hirst serta para pemeran seperti Xavier Molyneux, Jessica Madsen, dan Levi Miller. Teaser perdana juga diperlihatkan, memberi gambaran awal tentang atmosfer keras dan intrik politik yang akan mendominasi cerita.
Berlatar Norwegia abad ke-10, Bloodaxe mengikuti perjalanan Erik Bloodaxe (Molyneux), seorang perampok Norse yang berambisi merebut takhta Norwegia. Ia tidak sendirian—Gunnhild, Mother of Kings (Madsen), istrinya, menjadi sekutu sekaligus kekuatan politik yang tak bisa diabaikan. Kisah mereka terjalin dalam pusaran persaingan antar-klan, aliansi yang mudah goyah, dan pengkhianatan berdarah, dengan raja-raja dari seluruh Skandinavia serta seorang raja Inggris yang kuat turut terseret ke dalam konflik.
Bagi Hirst, Bloodaxe bukan sekadar proyek baru, melainkan kelanjutan dari obsesinya terhadap dunia Norse. Ia menciptakan Vikings yang tayang enam musim di Netflix (2013–2020) dan kemudian menjabat sebagai produser eksekutif pada sekuelnya, Vikings: Valhalla. Pola yang sama terlihat: menggabungkan tokoh sejarah dengan legenda, lalu menempatkan pertarungan kekuasaan dan kekerasan sebagai inti narasi. Kali ini, ia menggandeng putranya, Horatio, sebagai co-showrunner—sebuah estafet kreatif yang menarik untuk dicermati.
“Kami ingin menghadirkan era yang keras, di mana loyalitas diuji oleh ambisi dan darah,” ujar Hirst dalam panel tersebut, menggambarkan pendekatan serial ini terhadap sejarah.
Keputusan Prime Video memberikan lampu hijau untuk musim kedua sebelum musim pertama tayang adalah sinyal kuat. Praktik ini biasanya menunjukkan keyakinan platform terhadap kualitas produksi dan basis penggemar yang sudah terbentuk dari waralaba sebelumnya. Produksi musim kedua yang kini berjalan di Irlandia juga menegaskan komitmen jangka panjang, sekaligus memanfaatkan infrastruktur industri film yang mumpuni di sana.
Dari sisi pasar, Bloodaxe berpotensi mengisi ceruk penggemar drama sejarah yang selama ini setia pada Vikings dan The Last Kingdom. Namun, tantangannya tidak ringan: ekspektasi tinggi dari basis penggemar lama harus diimbangi dengan pembaruan naratif agar tidak terasa repetitif. Kehadiran sejumlah aktor Eropa seperti Jesper Christensen (yang dikenal lewat film James Bond) dan Rune Temte menambah bobot akting yang bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Di Indonesia, serial bertema Viking memang tidak sepopuler drama Korea atau Barat kontemporer, tetapi komunitas penggemar sejarah dan fantasi cukup aktif di platform streaming. Keberhasilan Vikings di layanan Netflix sebelumnya menunjukkan bahwa judul semacam ini bisa menemukan audiens loyal, terutama di kalangan penonton dewasa yang menyukai narasi kompleks dan produksi megah. Prime Video, yang terus memperkuat katalog lokalnya, mungkin melihat Bloodaxe sebagai tawaran global yang dapat memperkaya pilihan genre di pasar Indonesia.
Dengan tanggal tayang yang masih lebih dari satu tahun, Prime Video memiliki waktu untuk membangun antisipasi melalui trailer lanjutan dan kehadiran di berbagai konvensi. Pertanyaannya, akankah Bloodaxe mampu mengulang kesuksesan Vikings, atau justru tenggelam di tengah banjir konten sejarah yang kian padat? Publik akan menantikan jawabannya pada awal 2027.



