Kioxia Luncurkan SSD Berpendingin Cair, Solusi Panas di Pusat Data AI
Baca dalam 60 detik
- Kioxia memperkenalkan SSD NX1 dengan pendingin cair untuk pusat data AI dan hyperscale, mengklaim peningkatan performa tulis sekuensial 38%.
- Pendingin cair dianggap lebih efektif meredam panas dibandingkan udara, namun berisiko kebocoran dan membutuhkan investasi infrastruktur besar.
- Langkah ini dapat memicu adopsi pendingin cair di pusat data global, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya beban kerja AI.

Kioxia, produsen memori flash asal Jepang, resmi meluncurkan solid-state drive (SSD) berpendingin cair pertama mereka, NX1, yang dirancang khusus untuk pusat data AI dan lingkungan hyperscale. Langkah ini menandai pergeseran paradigma dalam pendinginan perangkat penyimpanan, yang sebelumnya identik dengan pendingin udara.
SSD NX1 mendukung antarmuka PCIe 5.0 dan NVMe 2.0, menawarkan bandwidth tinggi dan kecepatan akses data yang signifikan. Drive ini hadir dalam dua varian ketebalan, 9,5 mm dan 15 mm, namun hanya model 9,5 mm yang kompatibel dengan sistem pendingin cair. Kioxia mengklaim peningkatan performa tulis sekuensial hingga 38% dibandingkan generasi sebelumnya, yang sudah mencapai 5,8 GB/s. Kapasitas penyimpanan berkisar dari 1,92 TB hingga 15,36 TB, dengan rating ketahanan 1 DWPD (Drive Writes Per Day), artinya pengguna dapat menulis ulang seluruh kapasitas drive setiap hari selama masa garansi.
Panas berlebih telah lama menjadi momok di pusat data. Setiap operasi baca-tulis pada SSD menghasilkan panas, dan ketika suhu melampaui ambang batas, drive akan mengalami thermal throttling—menurunkan performa untuk mencegah kerusakan. Di lingkungan dengan puluhan ribu drive yang memproses miliaran transaksi per detik, pendinginan yang buruk tidak hanya menurunkan throughput data tetapi juga memperpendek umur perangkat. Pendingin cair menawarkan solusi dengan mengalirkan cairan pendingin melalui pelat logam yang menempel pada drive, menyerap panas secara konveksi, lalu membawanya ke radiator untuk didinginkan. Metode ini sudah lazim digunakan untuk CPU dan GPU, sehingga integrasinya ke SSD relatif mudah dan biaya tambahannya tidak signifikan.
"Pusat data modern dituntut untuk terus meningkatkan efisiensi energi, dan pendinginan cair adalah salah satu cara untuk mencapainya," ujar seorang analis infrastruktur TI yang tidak ingin disebutkan namanya.
Meski unggul dalam disipasi panas, pendingin cair bukan tanpa kelemahan. Migrasi ke sistem ini memerlukan investasi awal yang besar, dan risiko kebocoran pada loop air dapat merusak komponen lain di sekitarnya. Namun, perusahaan biasanya telah memperhitungkan biaya kegagalan tersebut dalam biaya operasional. Selain itu, konsumsi air untuk pendinginan menjadi isu lingkungan yang semakin sensitif, terutama di wilayah yang mengalami kelangkaan air. Pusat data sudah berada di bawah tekanan publik karena dianggap meningkatkan harga energi dan menguras pasokan air setempat. Argumen bahwa pusat data menggunakan air sebanyak restoran mungkin tidak lagi memadai untuk meyakinkan warga yang bergantung pada reservoir yang menyusut.
Bagi Indonesia, adopsi SSD berpendingin cair ini bisa menjadi pertanda penting. Dengan pertumbuhan pusat data domestik yang pesat—didorong oleh ekonomi digital dan layanan cloud—kebutuhan akan solusi pendinginan yang efisien akan semakin mendesak. Namun, tantangan infrastruktur dan iklim tropis yang lembap dapat memperumit implementasi. Pemerintah dan operator pusat data perlu mempertimbangkan tidak hanya performa tetapi juga dampak lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.
Ke depan, langkah Kioxia ini dapat memicu gelombang inovasi serupa dari produsen lain. Jika adopsi meluas, standar pendinginan cair untuk penyimpanan mungkin menjadi norma di pusat data generasi berikutnya. Pertanyaannya, apakah industri siap menanggung biaya dan risiko yang menyertainya, atau akankah pendingin udara tetap bertahan berkat kemajuan dalam efisiensi termal?



