Phantom Blade 0 dan Rahasia Sistem Tempur Wuxia yang Belum Banyak Dipahami
Baca dalam 60 detik
- S-Game mengembangkan sistem pertarungan unik di Phantom Blade 0 yang memungkinkan pemain menyerang dan bertahan secara bersamaan, berbeda dari mekanik game aksi pada umumnya.
- Direktur Soulframe Liang mengungkap bahwa pendekatan ini terinspirasi dari film kung fu era keemasan Hong Kong, dengan bantuan Donnie Yen untuk menghadirkan otentisitas wuxia.
- Meski berpotensi menyulitkan pemain awam, sistem ini menawarkan pengalaman bertarung yang lebih cair dan mendalam, menjadikannya pembeda utama di pasar game aksi global.

Setelah menjajal Phantom Blade 0 selama enam jam di Los Angeles, banyak pengamat sepakat bahwa game ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemui dalam desain pertarungan modern. Di balik visual memukau dan musik yang memacu adrenalin, tersimpan mekanik inti yang membedakannya dari game aksi lain: kemampuan untuk menyerang dan bertahan dalam satu waktu.
Pendekatan ini bukan sekadar gimmick. Dalam wawancara dengan director sekaligus CEO S-Game, Soulframe Liang, ia menegaskan bahwa pihaknya ingin menghadirkan seni bela diri Tiongkok atau wuxia secara autentik ke dalam medium interaktif. "Jika Anda menonton banyak film kung fu era keemasan Hong Kong, Anda akan merasakan semua gerakan pedang dalam kung fu Tiongkok. Mereka menyerang sambil bertahan, jadi itu terjadi bersamaan," ujarnya.
Selama ini, game aksi arus utama menganut filosofi "giliranmu, giliranmu"โpemain menghindar atau menangkis serangan musuh, lalu membalas saat musuh lengah. Namun, dalam Phantom Blade 0, batas antara menyerang dan bertahan sengaja dikaburkan. Pemain dapat melancarkan rangkaian serangan tanpa harus berkomitmen penuh, dan setelah melakukan parry, mereka bisa melanjutkan combo yang terputus. Ini menciptakan alur tempur yang lebih mengalir, menyerupai koreografi tari daripada sekadar pertukaran pukulan.
Menurut Liang, tantangan terbesarnya adalah menjaga aksesibilitas tanpa mengorbankan kreativitas. "Kami harus memastikan pemain memahami sistem tempur ini. Mereka bisa menggunakan penilaian intuitif untuk melakukan semua keterampilan dan pertarungan," jelasnya. "Ada konflik antara aksesibilitas dan kreativitas. Tapi kami menemukan titik keseimbangan untuk mempertahankan nuansa menyerang sambil bertahan."
Bagi pemain yang terbiasa dengan game seperti Ninja Gaiden atau Wuchang: Fallen Feathers, penyesuaian ini mungkin terasa asing. Namun, setelah membuang kebiasaan lama, pertarungan terasa lebih membebaskan. Musuh pun dapat melakukan parry, sehingga pemain dituntut untuk tetap waspada. Kesalahan kecil dalam timing parry bisa menguras Sha Chi, sementara parry yang gagal total akan membuat karakter terjatuh dan menghentikan serangan.
"Sebelumnya tidak banyak game dari Tiongkok yang membawa otentisitas kung fu Tiongkok dan gameplay Tiongkok ke industri game. Jadi dengan bantuan Donnie Yen dan timnya, kami membangun semuanya dari awal," kata Liang.
Keputusan untuk mengintegrasikan sistem kompleks ini bukan tanpa alasan. Di pasar game aksi yang semakin padat, diferensiasi menjadi kunci. S-Game ingin Phantom Blade 0 tidak hanya menonjol dari segi visual, tetapi juga dari pengalaman bertarung yang benar-benar berbeda. Meski demikian, tidak semua pemain langsung memahami mekanik ini. Dalam acara hands-on, beberapa peserta bahkan tidak menyadari keberadaannya.
Bagi industri game Indonesia, pendekatan semacam ini bisa menjadi pelajaran berharga. Pengembang lokal yang ingin bersaing di kancah global perlu mempertimbangkan cara mengangkat budaya lokal ke dalam mekanik permainan, bukan sekadar sebagai latar belakang. Dengan populasi gamer yang besar dan kekayaan budaya, Indonesia berpotensi menciptakan sistem tempur unik yang mengakar pada tradisi pencak silat, misalnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemain global siap menerima kurva pembelajaran yang lebih curam demi pengalaman yang lebih otentik. Jika Phantom Blade 0 sukses, bukan tidak mungkin gelombang game aksi berikutnya akan mulai meninggalkan pola "giliranmu, giliranku" dan beralih ke pertarungan yang lebih cair. S-Game telah membuka pintu itu, dan sekarang bola ada di tangan pemain.



