Bonnie Blue Luncurkan Kembar Digital AI, Tembus 73 Juta Pengguna di Platform Candy AI
Baca dalam 60 detik
- Bonnie Blue, bintang OnlyFans kontroversial, meluncurkan replika AI yang mereplikasi suara dan penampilannya untuk berinteraksi dengan pengguna di seluruh dunia.
- Langkah ini memungkinkannya tetap hadir di negara-negara yang melarangnya, termasuk Indonesia, setelah deportasi dari Bali.
- Dengan lebih dari 73 juta pengguna Candy AI, ia berharap dapat mempelajari perilaku pengguna untuk menginspirasi aksi live-nya di masa depan.

Bonnie Blue, figur kontroversial di industri hiburan dewasa, resmi meluncurkan "kembar digital" berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui platform Candy AI. Replika virtual ini dikembangkan dari suara dan penampilan aslinya, memungkinkan interaksi maya dengan pengguna di berbagai belahan dunia, termasuk negara-negara yang sebelumnya melarang kehadirannya secara fisik.
Langkah ini menandai babak baru dalam strategi monetisasi industri konten dewasa, di mana batas geografis dan regulasi lokal dapat dilewati melalui teknologi. Bonnie, yang sempat dideportasi dari Bali beberapa waktu lalu, melihat AI sebagai solusi untuk tetap eksis di pasar yang menutup aksesnya. "Saya bergabung dengan Candy AI untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Kembar digital saya akan membuat ulang video-video saya yang paling terkenal, sekaligus menawarkan hal-hal yang belum saya lakukan," ujarnya.
Platform Candy AI sendiri mengklaim memiliki lebih dari 73 juta pengguna aktif. Angka ini menjadi magnet bagi Bonnie untuk memperluas jangkauan sekaligus mengumpulkan data perilaku pengguna. Ia berencana mempelajari interaksi tersebut untuk merancang aksi-aksi live yang lebih berani. "Saya punya pikiran kotor, tapi saya yakin 73 juta pengguna memiliki imajinasi yang lebih liar. Saya akan menggunakan kembar digital saya untuk mendapatkan inspirasi untuk acara berikutnya," tambahnya.
Fenomena ini tidak lepas dari konteks Indonesia. Deportasi Bonnie dari Bali menjadi sorotan media nasional, memicu diskusi tentang etika pariwisata dan penegakan hukum terhadap konten dewasa. Kehadiran kembar digitalnya justru berpotensi menimbulkan dilema baru: meskipun secara fisik ia dilarang, representasi digitalnya dapat diakses dengan mudah melalui internet. Otoritas Indonesia mungkin perlu mempertimbangkan regulasi konten AI yang menyerupai manusia, terutama yang berkaitan dengan moralitas dan perlindungan konsumen.
Dalam wawancara terpisah, sopir bus kontroversialnya, yang dikenal sebagai Bang Bus, mengungkapkan pengalaman menegangkan selama di Bali. "Kami dikuntit, diikuti, dan drone terbang di atas vila kami. Saat ditangkap, kami tidak mendapat bantuan di awal. Berada di negara dunia ketiga bukanlah hal yang ideal, jadi itu momen yang sangat menakutkan," kenangnya. Ia juga menceritakan bagaimana penggemar sering mengejar bus mereka, bahkan di Australia saat Schoolies, seseorang meneriakkan nama Bonnie Blue di sepanjang Surfers Paradise.
"Saya ingin jutaan orang menggunakan saya sebagai mainan tanpa kekhawatiran yang mereka miliki secara langsung," ujar Bonnie Blue.
Meski menuai kritik, langkah Bonnie ini mencerminkan tren yang lebih besar: adopsi AI dalam industri hiburan dewasa untuk efisiensi dan skalabilitas. Beberapa platform telah menawarkan layanan serupa, memungkinkan kreator untuk tetap produktif tanpa kehadiran fisik. Namun, pertanyaan etis muncul: sejauh mana batas antara fantasi dan realitas ketika AI dapat mereplikasi manusia secara sempurna?
Ke depan, kesuksesan kembar digital Bonnie akan bergantung pada penerimaan pengguna dan kemampuan platform menjaga privasi serta keamanan data. Jika berhasil, model ini bisa menjadi cetak biru bagi kreator lain yang menghadapi hambatan serupa. Bagaimana regulator di Indonesia dan negara lain akan merespons kehadiran AI yang menyerupai manusia dengan konten eksplisit? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: batas antara dunia nyata dan virtual semakin kabur.



