Kopi Gayo 3 Ditanam di Lereng Merapi, Klaten Incar Panen Premium
Baca dalam 60 detik
- Pemkab Klaten menyalurkan bibit kopi arabika varietas Gayo 3 kepada empat kelompok petani di Kecamatan Kemalang, lereng Gunung Merapi.
- Varietas unggulan nasional ini diharapkan meningkatkan produktivitas dan kualitas panen kopi Klaten yang sempat meredup.
- Kerja sama dengan Gayo Lues, Aceh, menjadi bagian dari strategi diversifikasi pertanian Klaten pascapenurunan minat pada komoditas padi.

Pemerintah Kabupaten Klaten resmi memulai babak baru pengembangan kopi di lereng Gunung Merapi dengan mendistribusikan bibit arabika varietas Gayo 3 kepada empat kelompok tani di Kecamatan Kemalang. Langkah ini menandai realisasi kerja sama dengan Kabupaten Gayo Lues, Aceh, yang telah disepakati sejak Juli lalu. Penyerahan bibit dilakukan langsung oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Kamis (8/10), bersamaan dengan simulasi evakuasi bencana erupsi.
Bibit Gayo 3, yang juga dikenal sebagai Ateng Super, merupakan varietas unggulan nasional dengan produktivitas tinggi dan kemampuan adaptasi baik di dataran tinggi vulkanik. Keempat kelompok tani penerima berasal dari Desa Panggang, Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. Menurut Sukiman, perwakilan petani Desa Sidorejo, bibit tersebut akan disemaikan dan dikembangkan selama tiga tahun ke depan. "Harapannya panennya juga banyak sehingga meningkatkan produktivitas petani kopi di lereng Merapi," ujarnya.
Bupati Hamenang menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya mengembalikan kejayaan kopi Klaten. "Kami berharap kopi Klaten semakin maju dan kembali berjaya, apalagi mengingat saat ini perkembangan di industri kopi saat ini sangat pesat," katanya. Sebelumnya, empat desa di lereng Merapi telah mengembangkan varietas Lini S, Typica, dan Abissinia. Kehadiran Gayo 3 menambah keragaman varietas kopi arabika di wilayah tersebut.
Kerja sama ini berangkat dari nota kesepahaman yang ditandatangani Bupati Klaten dan Bupati Gayo Lues, Suhaidi, pada peringatan Hari Jadi Klaten ke-222 di Alun-alun Klaten, Juli lalu. Kesepakatan mencakup pengembangan pertanian padi, pengelolaan lahan persawahan, serta perkebunan kopi. Bagi Klaten, diversifikasi komoditas menjadi krusial di tengah tekanan terhadap sektor pertanian tradisional, sementara kopi menawarkan nilai tambah yang lebih tinggi dan permintaan pasar yang terus tumbuh.
Langkah Klaten ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di daerah-daerah dataran tinggi Indonesia: mengalihkan fokus ke komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kopi spesialti. Lereng Merapi memiliki potensi tanah vulkanik subur yang cocok untuk arabika. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait perubahan iklim, akses pasar, dan konsistensi kualitas pascapanen. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada pendampingan teknis berkelanjutan dan kemampuan petani mengelola pascapanen.
Jika berhasil, kopi Gayo 3 di lereng Merapi tidak hanya memperkuat identitas kopi Klaten, tetapi juga membuka peluang ekspor dan meningkatkan pendapatan petani. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa bibit yang disalurkan diikuti dengan pelatihan budidaya, akses pupuk, dan jaminan pembelian hasil panen. Tanpa ekosistem pendukung, bibit unggul pun bisa berakhir tanpa hasil optimal. Dalam tiga tahun ke depan, apakah kopi Klaten mampu bersaing di pasar nasional dan internasional? Waktu yang akan membuktikan, tetapi langkah awal telah dimulai.



