Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Sumut, Binjai dan Langkat Terendam Banjir
Baca dalam 60 detik
- Banjir merendam dua wilayah di Sumatera Utara, yakni Kota Binjai dan Kabupaten Langkat, pada Senin (12/10) akibat curah hujan tinggi disertai angin kencang.
- BPBD Sumut menyatakan belum ada korban jiwa, namun jumlah pengungsi dan rumah terdampak masih dalam proses pendataan.
- Tim gabungan BPBD masih bersiaga di lokasi untuk evakuasi dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat guna mempercepat penanganan darurat.

Bencana hidrometeorologi kembali menghantam Sumatera Utara. Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang menyebabkan banjir di dua kabupaten/kota, yakni Kota Binjai dan Kabupaten Langkat, pada Senin (12/10). Peristiwa ini menambah daftar panjang wilayah rawan banjir di kawasan tersebut, terutama saat musim hujan tiba.
Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengungkapkan bahwa di Kabupaten Langkat, banjir melanda Kecamatan Besitang, tepatnya Desa Sekoci. "Curah hujan yang cukup tinggi memicu banjir di wilayah tersebut. Hingga kini, tim BPBD Langkat masih berada di lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan," ujarnya saat dihubungi, Senin siang.
Sementara itu, di Kota Binjai, banjir terjadi di Kecamatan Binjai Timur, Kelurahan Mencirim. Meskipun belum ada laporan korban meninggal dunia, jumlah pengungsi masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan. "Kami belum menerima informasi adanya korban jiwa. Saat ini fokus kami adalah memastikan warga aman dan mendata dampak yang timbul," tambah Sri.
BPBD Sumut bersama BPBD Kabupaten Langkat dan Kota Binjai telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan asesmen cepat di lokasi terdampak. Langkah ini penting untuk menentukan kebutuhan darurat, seperti tenda pengungsian, logistik, dan peralatan evakuasi. Menurut Sri, tim tetap berada di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi banjir susulan.
Banjir di Binjai dan Langkat bukanlah kejadian pertama. Kedua daerah ini kerap dilanda banjir saat musim penghujan, terutama karena topografi sebagian wilayah yang berada di dataran rendah dan dekat dengan aliran sungai. Kombinasi drainase yang kurang optimal dan curah hujan ekstrem sering memperparah genangan. Pemerintah daerah menghadapi tantangan berulang: memastikan sistem peringatan dini berfungsi dan infrastruktur pengendalian air memadai.
Dalam konteks yang lebih luas, kejadian ini menyoroti perlunya penguatan mitigasi bencana di Sumatera Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memprediksi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia seiring masuknya musim hujan. Namun, kesiapsiagaan di tingkat lokal masih menjadi titik lemah. Koordinasi lintas instansi, mulai dari BPBD, pemerintah desa, hingga relawan, menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material.
Meski belum ada laporan korban meninggal, dampak ekonomi dan sosial dari banjir ini tetap signifikan. Rumah yang terendam, akses jalan yang terganggu, dan aktivitas warga yang terhenti dapat menimbulkan kerugian jangka pendek. Pendataan yang tengah dilakukan akan menentukan besaran bantuan yang diperlukan. Pemerintah daerah diharapkan bergerak cepat, tidak hanya saat tanggap darurat, tetapi juga dalam pemulihan pascabanjir.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah peristiwa ini akan mendorong perbaikan tata kelola air dan penataan ruang di wilayah rawan banjir. Tanpa langkah struktural, banjir akan terus berulang setiap tahun. Masyarakat pun menanti apakah pemerintah pusat dan daerah mampu mengubah pola respons dari sekadar reaktif menjadi preventif. Hanya dengan begitu, risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan secara berkelanjutan.



