Russell T Davies Ungkap Tiga Naskah Doctor Who yang Batal: Ada Horor Trypophobia hingga Dalek Empat Bagian
Baca dalam 60 detik
- Russell T Davies mengungkap tiga naskah Doctor Who yang sudah rampung ditulis namun tak pernah diproduksi karena BBC mengalihkan produksi ke tender kompetitif.
- Naskah-naskah tersebut mencakup cerita Great Fire of London, horor trypophobia di stasiun antariksa, dan episode di perumahan Manchester, plus rencana kembalinya Jonathan Groff sebagai Rogue.
- Sejumlah studio besar seperti HTM milik Jed Mercurio dan STV Studios dikabarkan bersaing mengambil alih produksi, menandai babak baru waralaba yang sudah berusia enam dekade.

Russell T Davies, showrunner yang membawa Doctor Who kembali ke layar kaca pada 2023, mengungkap detail tiga episode yang sudah ditulis penuh namun tidak akan pernah diproduksi. Dalam memoar terbarunya, The Queerest of Folk, penulis berusia 63 tahun itu mengungkapkan kekecewaannya karena naskah-naskah tersebut tidak akan pernah dilihat publik.
Ketiga naskah itu disiapkan untuk musim ketiga era baru Doctor Who di bawah kendali Davies. Salah satunya ditulis bersama Jack Thorne, kreator di balik serial This Is England, His Dark Materials, dan Adolescence. Episode tersebut berlatar peristiwa Great Fire of London tahun 1666, lengkap dengan adegan api dan kepanikan massal. Davies menyebut naskah itu sebagai "cerita brilian" yang sayangnya tidak mendapat anggaran memadai untuk dieksekusi secara layak.
Dua episode lain juga memiliki konsep yang tak biasa. Naskah kedua, karya Lydia Adetunji, merupakan kisah horor brutal yang berlatar stasiun antariksa mirip NASA dan berpusat pada trypophobia—fobia terhadap pola lubang yang pernah dieksplorasi serial American Horror Story. Davies menggambarkannya sebagai cerita yang membuat penonton merinding. Sementara episode ketiga, ditulis Sharma Angel-Walfall, mengambil latar sebuah perumahan dewan di Manchester. Davies menyebutnya sebagai tempat paling tepat untuk membawa The Doctor, dan membandingkannya dengan film Rocks.
Davies juga sempat menjajaki kolaborasi dengan Juno Dawson dan Kate Herron, dua penulis yang sudah berkontribusi pada episode The Interstellar Song Content dan Rogue. Rencananya, Jonathan Groff akan kembali memerankan karakter Rogue dalam cerita bertema dekade 1980-an, kemungkinan besar berlatar Blackpool dengan pusat cerita di arkade video. Davies bahkan menyebut adanya rencana epik empat bagian yang melibatkan Dalek sebagai penutup musim. "Kami sudah siap berangkat," tulisnya dalam memoar tersebut.
"Tiga naskah sudah ditulis lengkap, dan itu menghancurkan hati saya karena tidak akan pernah dilihat." — Russell T Davies
Namun semua rencana itu pupus setelah BBC memutuskan menempatkan Doctor Who dalam skema tender kompetitif. Keputusan ini menandai pergeseran besar dalam tata kelola produksi waralaba yang pertama kali mengudara pada 1963 tersebut. BBC tidak lagi memproduksi sendiri secara internal, melainkan membuka peluang bagi rumah produksi eksternal untuk mengambil alih. Batas waktu pengajuan proposal telah lewat, dan sejumlah nama besar dikabarkan ikut serta.
Menurut laporan Deadline, peminat tender tersebut antara lain HTM milik Jed Mercurio—kreator di balik Line of Duty—serta World Productions yang juga memproduksi Line of Duty, dan STV Studios dari Skotlandia. Dua label internal BBC Studios juga diperkirakan akan ikut bersaing. BBC sebelumnya mendorong calon produser untuk "berinovasi dan mengejutkan" dengan menyeimbangkan antara fiksi ilmiah berkonsep tinggi dan narasi emosional yang kuat.
Dalam pernyataan resminya, BBC menegaskan mencari visi kreatif yang merangkul luasnya potensi Doctor Who. Mereka menyebut serial ini sebagai acara yang telah memicu percakapan, mengambil risiko, dan menginspirasi penonton selama puluhan tahun. "Beranilah, bersenang-senanglah, dan kami menantikan kabar dari Anda," tulis BBC.
Bagi penggemar di Indonesia, keputusan tender ini bisa berdampak pada arah kreatif dan ketersediaan Doctor Who di platform streaming. Selama ini, serial tersebut dapat diakses melalui layanan seperti Disney+ di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia. Jika produksi berpindah ke rumah produksi baru, distribusi global bisa ikut berubah—termasuk kemungkinan penundaan rilis atau pergeseran mitra streaming. Penggemar Tanah Air yang telah mengikuti era Davies sejak 2023 mungkin harus bersiap dengan wajah baru Doctor Who di masa depan.
Yang jelas, era Davies yang penuh ambisi kini memasuki babak akhirnya tanpa sempat menuntaskan visi yang sudah ia rancang. Pertanyaannya, akankah studio yang menang tender mampu mempertahankan semangat eksperimental yang selama ini menjadi ciri khas Doctor Who, atau justru membawanya ke arah yang lebih aman secara komersial?



