Time Season 3: Ketika Jimmy McGovern Membongkar Sistem Pemasyarakatan Anak yang Retak
Baca dalam 60 detik
- Serial antologi BBC One garapan Jimmy McGovern kembali dengan musim ketiga yang menyoroti kehidupan narapidana remaja di lembaga pemasyarakatan anak fiktif HMP Alderwick.
- David Tennant berperan sebagai petugas lapas veteran yang kehilangan ilusi terhadap sistem yang dinilainya lebih mementingkan penindasan ketimbang rehabilitasi.
- Kritik McGovern terhadap pemotongan anggaran dan praktik kurungan 23 jam membuka diskusi tentang arah kebijakan peradilan anak di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Setelah dua musim yang mengupas kehidupan di lembaga pemasyarakatan pria dan wanita, penulis skenario kenamaan Inggris Jimmy McGovern mengarahkan lensanya ke kelompok yang paling rentan: narapidana anak. Musim ketiga serial antologi Time yang tayang di BBC One ini berlatar di Lembaga Pemasyarakatan Anak (Young Offender Institution/YOI) fiktif HMP Alderwick, menghadirkan David Tennant sebagai petugas lapas senior bernama Bailey yang mulai meragukan seluruh sistem yang telah ia abdi selama 35 tahun.
McGovern, yang dikenal lewat drama Hillsborough (1996) dan seri Cracker, tidak menampilkan narasi penjara sebagai sekadar latar cerita kriminal. Ia menyoroti bagaimana kebijakan penghematan anggaran sejak pandemi Covid-19 mempercepat praktik kurungan isolasi 23 jam dan pemisahan kelompok berbasis kode pos—langkah yang semula dianggap jalan terakhir, kini menjadi rutinitas. Menurut McGovern, praktik ini menghambat interaksi sosial yang justru dibutuhkan remaja untuk belajar mengelola konflik tanpa kekerasan.
Dalam salah satu adegan, Bailey diberi tahu bahwa para tahanan remaja harus tetap dikurung sepanjang hari akibat kekurangan staf. "Mereka akan mengamuk," ujarnya, menggambarkan frustrasi yang makin sulit disembunyikan. McGovern menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk pengabaian sistematis terhadap generasi muda yang seharusnya dibina, bukan dibuang.
Bagi McGovern, persoalan ini bukan sekadar soal anggaran. Ia menyoroti paradoks kebijakan publik yang selalu menemukan dana untuk perang, tetapi kesulitan mengalokasikan sumber daya bagi pembinaan narapidana. "Mengapa kita tidak bisa menemukan dana untuk penjara?" tanyanya, mengkritik prioritas fiskal yang menurutnya mencerminkan kegagalan moral kolektif.
"Jika kita bercita-cita menjadi masyarakat yang beradab, maka kita harus membantu anggota masyarakat yang paling rusak. Tanggung jawab kita bukan sekadar mengunci orang agar tidak perlu melihat mereka, melainkan membantu mereka menemukan masa depan yang lebih baik." — David Tennant, aktor
Pemeran pendukung Siobhan Finneran, yang kembali sebagai pendeta Marie-Louise, menggambarkan tokohnya sebagai sosok yang hancur setelah perselingkuhannya dengan seorang pastor Katolik berakhir. Meski demikian, ia tetap menjadi jangkar moral di tengah kekacauan. Finneran mengaku sempat berbincang dengan seorang pendeta lapas sungguhan yang mengatakan bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih dibutuhkan selain menjadi pendamping rohani di tempat seperti itu.
Para aktor muda yang sebagian besar baru pertama kali berakting—seperti Chukwubuikem Molokwu dan Louis McCartney—mengaku pengalaman syuting di penjara sungguhan mengubah cara pandang mereka. Molokwu, yang memerankan remaja Kenya bernama Christopher, melihat paralel antara dirinya dan karakter tersebut: keduanya berasal dari negara dengan keterbatasan peluang. Bedanya, Molokwu tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih, sementara Christopher harus bergulat dengan gagap dan masa kecil di panti asuhan.
McCartney, satu-satunya pemeran muda dengan nominasi Tony, mengisahkan pengalaman bertemu narapidana remaja yang baru saja dijatuhi hukuman seumur hidup. "Setiap kilau harapan di matanya telah padam," kenangnya. Ia sengaja menurunkan posisi tubuhnya agar sejajar dengan mata narapidana itu—sebuah gestur sederhana yang, menurutnya, mengubah dinamika percakapan secara mendalam.
Serial ini juga menyinggung soal reformasi kebijakan yang lebih luas. McGovern berharap Andy Burnham, politikus yang ia kenal melalui kampanye Hillsborough, dapat mendorong perubahan dalam sistem pemasyarakatan. Namun ia pesimistis: menurutnya, institusi sering kali lebih sibuk melindungi dirinya sendiri ketimbang menjalankan prinsip yang mendasarinya. "Di dalam lembaga pemasyarakatan anak, kita tidak bisa mengatakan kebenaran karena akan menimbulkan masalah bagi institusi," ujarnya. "Itu masalah besar yang seharusnya diatasi, tetapi tidak akan pernah."
Kritik McGovern terhadap sistem peradilan anak tidak hanya relevan bagi Inggris. Di Indonesia, persoalan serupa mengemuka: kapasitas lembaga pemasyarakatan khusus anak (LPKA) yang terbatas, minimnya program pembinaan, serta tingginya angka anak yang berhadapan dengan hukum. Data Kementerian Hukum dan HAM menunjukkan bahwa sebagian besar LPKA mengalami kelebihan kapasitas, dengan akses terhadap pendidikan dan keterampilan yang jauh dari memadai. Alih-alih menjadi tempat rehabilitasi, banyak LPKA berfungsi sebagai penampungan sementara tanpa arah pembinaan yang jelas.
Pertanyaannya, apakah serial seperti Time mampu mendorong perubahan kebijakan yang nyata, atau hanya menjadi tontonan yang menggugah emosi sesaat? McGovern sendiri tidak berhenti pada pesimisme. Ia terus menulis, membawa penonton turun ke level mata para narapidana, dan menantang kita untuk tidak berpaling. Namun tanpa tekanan publik yang berkelanjutan dan kemauan politik, nasib remaja di balik jeruji besi—baik di Inggris maupun Indonesia—akan tetap menjadi catatan kaki dalam anggaran negara.



