Krisis Kepemimpinan Polanski: Partai Hijau di Pusaran Kontroversi Zionisme
Baca dalam 60 detik
- Zack Polanski menghadapi tekanan terbesar dalam kepemimpinannya setelah mosi kontroversial Partai Hijau yang menyebut Zionisme sebagai bentuk rasisme.
- Kemenangan Partai Buruh di Holborn and St Pancras menutupi gejolak internal Partai Hijau yang kini terbelah antara fokus lingkungan dan agenda Timur Tengah.
- Kritik dari tokoh senior seperti Caroline Lucas dan komunitas Yahudi Inggris mempertanyakan kemampuan Polanski memimpin dan menyatukan partai.

Zack Polanski, pemimpin Partai Hijau Inggris dan Wales, kini berada di pusat badai politik setelah partainya meloloskan mosi yang mendefinisikan Zionisme sebagai bentuk rasisme. Mosi tersebut, yang disahkan dalam konferensi partai di Brighton akhir pekan lalu, tidak hanya memicu kemarahan internal tetapi juga kecaman luas dari komunitas Yahudi dan partai-partai Hijau di Eropa. Krisis ini mencuat tepat setelah pemilihan sela di Holborn and St Pancras, di mana Partai Buruh mempertahankan kursi aman mereka, namun perhatian media justru tertuju pada Polanski dan kontroversi yang membelitnya.
Mosi yang disahkan aktivis Partai Hijau itu mendefinisikan Zionisme sebagai ideologi yang mendukung "negara Yahudi etnonasionalis" dan mendukung "satu negara demokratis Palestina di seluruh Palestina historis", yang mencakup Israel modern. Polanski, yang tidak menghadiri pemungutan suara karena memilih berkampanye di Holborn and St Pancras, enggan mengomentari mosi tersebut secara eksplisit. Ia berulang kali menolak wawancara saat tekanan meningkat, memicu spekulasi tentang kepemimpinannya. Seorang tokoh Partai Hijau menggambarkan situasi ini sebagai "monster yang diciptakan Polanski dan tidak bisa atau tidak mau dikendalikannya".
Kontroversi ini bukan sekadar perdebatan ideologis. Partai Hijau telah mengalami lonjakan anggota lebih dari tiga kali lipat dalam setahun terakhir, dan kritikus internal menilai pertumbuhan itu didorong oleh aktivis kiri garis keras yang lebih fokus pada isu Timur Tengah ketimbang agenda lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang arah partai yang selama ini identik dengan perjuangan iklim. Polanski, yang berasal dari komunitas Yahudi, bahkan telah dilarang masuk Israel. Dewan Kepemimpinan Yahudi dan Dewan Deputi Yahudi Inggris menyatakan kritik tajam, diikuti oleh partai-partai Hijau di Eropa yang menyuarakan keprihatinan serupa.
Yang paling menohok, mantan pemimpin Partai Hijau Caroline Lucas—sosok sentral dalam gerakan lingkungan generasinya—menyatakan kepada BBC Newsnight bahwa Polanski gagal menunjukkan kepemimpinan dalam isu ini. Lucas juga tidak memberikan dukungan bagi Polanski untuk melanjutkan jabatannya. Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa krisis yang dihadapi Polanski bukan hanya serangan dari luar, tetapi juga pemberontakan terbuka dari dalam partai. Ketika ditanya wartawan apakah ia bisa terus memimpin, Polanski bersikeras, "Tentu saja saya bisa melanjutkan." Namun, ia tidak secara tegas menolak mosi partainya, malah menyebut adanya "genosida yang sedang berlangsung dan pengungsian rakyat Palestina" dan menambahkan, "Saya percaya itu jelas rasisme." Israel telah berulang kali membantah tuduhan genosida atas tindakannya di Gaza.
"Sudah menjadi tugas saya untuk meyakinkan orang dan memastikan kami menyatukan partai. Tidak ada yang akan dikucilkan di Partai Hijau berdasarkan keyakinan dan agama," ujar Polanski.
Krisis ini juga menyoroti dilema partai-partai Hijau di Eropa, yang semakin terbelah antara fokus tradisional pada lingkungan dan tekanan untuk terlibat dalam isu geopolitik. Di Inggris, Partai Hijau menghadapi ujian apakah mereka dapat mempertahankan identitas lingkungan sambil mengakomodasi beragam pandangan anggotanya. Bagi Polanski, ini adalah ujian kepemimpinan terberat sejak ia mengambil alih jabatan lebih dari setahun lalu. Ia harus menavigasi tekanan dari dalam dan luar partai, sambil menjaga kohesi di tengah perpecahan yang semakin dalam.
Meskipun pemilihan sela di Holborn and St Pancras berakhir dengan kemenangan Partai Buruh—sebuah hasil yang melegakan Downing Street—bayang-bayang kontroversi Partai Hijau tetap menghantui. Partai Buruh sendiri mungkin akan memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisi mereka sebagai kekuatan politik yang stabil dan moderat. Sementara itu, Partai Hijau di bawah Polanski harus segera mencari jalan keluar dari krisis internal yang mengancam elektabilitas mereka di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Polanski mampu menenangkan kritik dan menyatukan kembali partainya, atau apakah ia akan menjadi korban dari gelombang radikalisasi yang ia sendiri tidak mampu kendalikan. Dengan pemilihan umum yang mungkin semakin dekat, Partai Hijau tidak punya banyak waktu untuk menyelesaikan perpecahan ini. Jika tidak, mereka berisiko kehilangan dukungan dari pemilih moderat yang peduli lingkungan namun enggan terseret ke dalam kontroversi ideologis yang memecah belah.



