Solana Pangkas Waktu Blok Jadi 200 Milidetik, Upgrade Terakhir Dimulai Jumat
Baca dalam 60 detik
- Solana akan menurunkan target waktu blok dari 250 menjadi 200 milidetik pada Jumat, menandai tahap akhir dari rangkaian upgrade yang dimulai Agustus lalu.
- Perubahan ini memungkinkan lima peluang produksi blok per detik, tetapi juga memperberat beban validator dan mempersempit jendela validitas blockhash.
- Keberhasilan transisi di mainnet akan bergantung pada kondisi jaringan, khususnya tingkat kegagalan validator dalam memproduksi blok tepat waktu.

Solana bersiap memangkas waktu antarblok menjadi 200 milidetik pada Jumat (9/10), menyelesaikan rangkaian peningkatan yang telah memotong separuh target produksi blok jaringan sejak Agustus. Menurut Anza, pengembang perangkat lunak validator Agave yang banyak digunakan di Solana, penurunan final dari 250 milidetik ini dijadwalkan berlaku pada epoch 1053, sekitar pukul 15.00 UTC.
Langkah ini menandai titik akhir dari serangkaian penyesuaian yang dimulai pada 21 Agustus, ketika Solana beralih ke 350 milidetik, lalu turun ke 300 milidetik pada 28 Agustus, dan 250 milidetik pada 18 September. Dengan konfigurasi 200 milidetik, blockchain ini menargetkan lima peluang produksi blok setiap detik, naik dari 2,5 peluang pada pengaturan awal 400 milidetik.
Slot adalah jendela singkat ketika validator terpilih dapat menambahkan transaksi ke blockchain. Semakin pendek slot, semakin sering aplikasi perdagangan, dompet, dan bursa menerima informasi terbaru, sehingga waktu tunggu transaksi yang dikirim pun berkurang. Namun, percepatan ini juga membawa konsekuensi teknis yang tidak bisa diabaikan.
Proposal teknis yang dikenal sebagai SIMD-0525 turut membatasi seberapa banyak beban komputasi yang dapat dimuat validator ke dalam setiap blok. Pada 200 milidetik, setiap blok hanya boleh membawa maksimal 30 juta unit komputasi, turun dari 37,5 juta unit pada 250 milidetik. Blok datang lebih sering, tetapi masing-masing membawa pekerjaan yang lebih sedikit, sehingga kapasitas pemrosesan teoretis jaringan secara keseluruhan relatif tidak berubah.
Validator akan tetap memproduksi blok dalam kelompok empat slot berturut-turut. Jendela tanpa gangguan mereka untuk mengurutkan transaksi akan menyusut dari 1,6 detik pada konfigurasi awal menjadi 800 milidetik. Hal ini berpotensi mengurangi peluang menunda transaksi atau memanfaatkan pergerakan harga di bursa lain sebelum Solana menyesuaikan diri.
Di sisi lain, jam yang lebih cepat menimbulkan biaya tambahan. Validator yang mengirim suara pada setiap slot harus melakukannya sekitar dua kali lebih sering dibandingkan konfigurasi awal, sehingga pengeluaran untuk voting meningkat dan tekanan pada koneksi jaringan bertambah. Dompet dan aplikasi lain juga memiliki waktu lebih singkat untuk menggunakan blockhash terbaru, referensi yang disertakan dalam transaksi untuk mencegah pengulangan. Jendela validitas yang lebih pendek dapat menyulitkan transaksi yang memerlukan persetujuan manual atau tanda tangan offline.
Data dari Solana Compass menunjukkan konfigurasi 250 milidetik sebelumnya menghasilkan rata-rata waktu slot sekitar 266 hingga 269 milidetik pada epoch-epoch terakhir, sedikit lebih lambat dari target. Penurunan final telah diuji di testnet dan devnet Solana. Para pengembang menyatakan peluncuran di mainnet bergantung pada kondisi jaringan, terutama seberapa sering validator melewatkan kesempatan produksi blok yang ditugaskan kepada mereka.
"Peluncuran di mainnet akan sangat bergantung pada kondisi jaringan, khususnya tingkat kegagalan validator dalam memproduksi blok tepat waktu," ujar pengembang Solana, seperti dikutip dari pengumuman resmi.
Transisi diperkirakan terjadi pada batas epoch 1053 hari Jumat. Bagi ekosistem kripto global, langkah ini menegaskan ambisi Solana untuk bersaing dengan Ethereum dan jaringan layer-1 lainnya dalam hal kecepatan dan efisiensi biaya. Namun, dampaknya bagi pasar Indonesia perlu dicermati. Pengguna dan pengembang lokal yang aktif di Solana—mulai dari platform DeFi, NFT, hingga aplikasi pembayaran berbasis stablecoin—akan merasakan langsung perubahan ini. Transaksi yang lebih cepat dapat meningkatkan pengalaman pengguna, tetapi juga menuntut infrastruktur node yang lebih andal dan pemahaman baru tentang batas validitas blockhash.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah percepatan ini benar-benar mendorong adopsi di sektor keuangan terregulasi, termasuk di Asia Pasifik yang disebut sebagai medan uji bagi stablecoin. Jika validator mampu beradaptasi, Solana berpotensi memperkuat posisinya sebagai blockchain berperforma tinggi. Sebaliknya, jika tingkat kegagalan produksi blok meningkat, kepercayaan pasar bisa terguncang. Semua mata kini tertuju pada epoch 1053.



