Peringatan Emin Gün Sirer: AI Akan Bobol Kode Kripto Sebelum Kriptografi Jebol
Baca dalam 60 detik
- Pendiri Avalanche menilai ancaman nyata kripto bukanlah kehancuran ECDSA, melainkan celah perangkat lunak yang bisa ditemukan AI lebih cepat dari manusia.
- XRP Ledger tengah disorot setelah pembaruan darurat 25 September dirilis tanpa kode sumber, memicu pertanyaan tentang transparansi dan keamanan.
- Perdebatan di kalangan pemimpin kripto terbelah: sebagian memprediksi AI mampu menyerang kriptografi dalam dua tahun, sebagian menyebutnya spekulasi tanpa dasar matematis.

Pendiri Avalanche, Emin Gün Sirer, melontarkan peringatan yang mengubah arah diskusi keamanan blockchain: ancaman terbesar bagi industri kripto bukanlah keruntuhan algoritma kriptografi seperti ECDSA, melainkan kemampuan kecerdasan buatan (AI) menemukan celah perangkat lunak yang selama ini luput dari pengawasan manusia. Pernyataan itu muncul di tengah sorotan baru terhadap XRP Ledger yang baru saja merilis pembaruan darurat tanpa menyertakan kode sumbernya.
Melalui unggahan di platform X, Sirer menegaskan bahwa AI akan mengeksploitasi bug tingkat sistem jauh sebelum ECDSA—metode tanda tangan transaksi yang menjadi tulang punggung banyak jaringan kripto—menjadi usang. Menurutnya, model AI canggih berpotensi mengidentifikasi kelemahan pada kode blockchain, pustaka perangkat lunak, dan dompet digital yang tidak terdeteksi dalam audit manusia. Serangan semacam itu, katanya, bisa mencuri miliaran dolar sebelum kriptografi konvensional benar-benar runtuh.
Yang menarik, Sirer tidak menunjuk kerentanan tertentu yang belum ditambal di XRP Ledger, juga tidak mendemonstrasikan serangan AI terhadap jaringan tersebut. Argumennya lebih bersifat peringatan strategis daripada laporan eksploitasi yang terdokumentasi. Namun, ia menyoroti bahwa fokus komunitas seharusnya beralih dari kekhawatiran akan masa depan kriptografi ke kualitas kode yang berjalan hari ini. Dalam pandangannya, penyerang akan lebih dulu memanfaatkan bug yang belum ditemukan daripada menunggu terobosan matematis yang mematahkan enkripsi.
"Debat tentang ancaman AI bagi kripto sebagian besar hanya omong kosong. Kita akan melihat AI mengeksploitasi bug tingkat sistem jauh sebelum ECDSA jatuh," tulis Sirer, seraya menambahkan bahwa AI akan menemukan celah di kode sistem, pustaka, dan dompet yang memungkinkan penyerang mencuri miliaran dolar.
Pernyataan ini memperuncing perpecahan di antara tokoh kripto. Salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, sebelumnya memperingatkan bahwa penemuan matematis yang digerakkan AI dapat mengancam kriptografi berbasis lattice dalam dua tahun ke depan. Sementara itu, pendiri Cardano, Charles Hoskinson, menilai kekhawatiran tersebut spekulatif dan menegaskan bahwa matematika belum bisa membuktikan prediksi semacam itu. Peneliti Ethereum, Justin Drake, juga menyuarakan kekhawatiran bahwa AI pada akhirnya mampu menyerang ECDSA. Sirer sendiri mengakui ancaman terhadap kriptografi tidak bisa diabaikan sepenuhnya, tetapi ia bersikeras bahwa kerentanan perangkat lunak yang sudah ada harus menjadi prioritas utama.
Konteks XRP Ledger menambah urgensi. Pada 25 September, pengembang merilis pembaruan perangkat lunak darurat yang mencakup perbaikan Batch dan peningkatan stabilitas. Namun, perbaikan keamanan awal dirilis tanpa kode sumber, memicu pertanyaan tentang transparansi dan potensi risiko yang belum terungkap. Tim pengembang berjanji akan mempublikasikan kode tersebut beserta retrospektif teknis. Meski demikian, langkah ini menunjukkan bahwa bahkan jaringan mapan pun dapat menghadapi tekanan untuk merespons celah keamanan dengan cepat, sering kali dengan keterbatasan informasi publik.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Adopsi aset kripto di Tanah Air terus tumbuh, dengan Bappebti mencatat peningkatan jumlah investor dan nilai transaksi. Jika AI benar-benar mempercepat penemuan celah perangkat lunak, maka platform pertukaran lokal dan dompet digital yang menyimpan aset pengguna menjadi garis depan yang rentan. Regulator dan pelaku industri perlu memperkuat audit kode, menerapkan pembaruan keamanan secara disiplin, serta meningkatkan literasi risiko di kalangan investor ritel. Tanpa itu, kepercayaan terhadap ekosistem kripto domestik bisa tergerus oleh insiden yang berasal dari kelemahan teknis, bukan dari fluktuasi harga semata.
Ketegangan antara Sirer dan CEO Ripple, Brad Garlinghouse, juga menambah dimensi politik pada perdebatan ini. Sebelumnya, Garlinghouse mengkritik Sirer terkait klaim tentang penetrasi Ripple di kalangan bank. Kini, Sirer membingkai ulang diskusi ke arah keamanan perangkat lunak, bukan sekadar perang narasi antarproyek. Pertanyaannya, apakah komunitas kripto akan mengalihkan sumber daya untuk menguji kode secara agresif dengan bantuan AI, atau tetap terjebak dalam debat teoretis tentang masa depan kriptografi? Jawabannya akan menentukan seberapa siap industri menghadapi serangan yang mungkin datang lebih cepat dari perkiraan.



