Zcash Siapkan Pertahanan Kunci dari Serangan AI dan Kuantum, Mulai Januari
Baca dalam 60 detik
- Zakura, pengembang node penuh Zcash, mengumumkan rencana mengimplementasikan opcode tanda tangan pasca-kuantum pada Januari mendatang.
- Pendekatan ini menggabungkan rotasi alamat transparan dan tanda tangan berbasis hash WOTS untuk menghindari kerentanan matematika kurva eliptik.
- Langkah ini merespons kekhawatiran peneliti Ethereum bahwa AI dapat memecahkan enkripsi ECDSA dalam hitungan bulan, bukan tahun.

Zakura, tim di balik pengembangan node penuh Zcash, mengumumkan bahwa mereka akan mengaktifkan opcode tanda tangan pasca-kuantum pada Januari 2027. Opcode ini merupakan instruksi tingkat rendah yang memungkinkan jaringan memverifikasi jenis tanda tangan baru yang tahan terhadap serangan komputer kuantum dan kecerdasan buatan. Langkah ini menjadikan Zcash sebagai salah satu jaringan blockchain pertama yang secara konkret mengadopsi solusi kriptografi pasca-kuantum, jauh sebelum ancaman tersebut menjadi nyata.
Dalam sebuah postingan teknis, insinyur Zakura, Roman Akhtariev, menjelaskan bahwa target mereka adalah "transparent pools yang sepenuhnya aman pasca-kuantum dengan tanda tangan berbasis hash". Zcash sendiri mendukung dua jenis pembayaran: shielded yang menyembunyikan pengirim, penerima, dan jumlah, serta transparent yang dapat dilihat publik seperti pada Bitcoin. Alamat transparan berisi hash dari kunci publik yang tetap tersembunyi hingga pemiliknya membelanjakan dana dan mengungkap kunci tersebut di rantai.
Pendekatan Zakura menggabungkan dua lapisan pertahanan. Pertama, dompet akan secara otomatis beralih ke alamat baru setelah setiap transaksi, sehingga kunci publik tidak pernah terekspos. Kedua, mereka menambahkan tanda tangan cadangan berbasis hash yang dikenal sebagai WOTS. Skema berbasis hash ini menghindari matematika kurva eliptik yang oleh para peneliti dikhawatirkan dapat dipecahkan oleh AI atau komputer kuantum di masa depan.
Namun, rotasi alamat menimbulkan masalah privasi. Ketika dompet meminta server untuk memeriksa saldo di banyak alamat, server dapat mengetahui bahwa alamat-alamat tersebut milik pengguna yang sama. Zakura mengatasi ini dengan teknik kriptografi bernama private information retrieval (PIR), yang memungkinkan dompet mengambil catatan tanpa mengungkapkan catatan mana yang diminta. Fitur ini mulai diluncurkan minggu ini di dompet Vizor, dan pengguna dapat mengujinya dengan mengaktifkan "private queries" di pengaturan.
"Sementara yang lain mengkhawatirkan kelayakan rotasi alamat transparan, kami sudah memecahkan masalah keterkaitan," tulis Zakura di X.
Pernyataan ini merupakan respons terhadap peneliti Ethereum Foundation, Justin Drake, yang pekan ini mendesak para pemegang aset untuk dengan tenang memindahkan dana ke alamat baru. Drake memperingatkan bahwa matematika yang digerakkan AI dapat memecahkan tanda tangan ECDSA yang mengamankan Bitcoin dan Ethereum sebelum komputer kuantum melakukannya, "dalam kasus terburuk dalam hitungan bulan, bukan tahun". Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, kemudian turut berkomentar dan menilai "masuk akal" jika kemajuan matematika yang digerakkan AI dapat memecahkan enkripsi dalam dua tahun ke depan.
Rencana Zakura hanya mencakup sisi transparan Zcash, dan postingan tersebut tidak menyebutkan bagaimana atau kapan opcode akan diaktifkan di seluruh jaringan. Meski demikian, langkah ini muncul saat Zcash menarik minat institusi yang tumbuh, termasuk proposal ETF AS yang terkait dengan kembar Winklevoss dan ETP Zcash pertama di Eropa. Ini juga menyusul peningkatan yang membuat pembayaran privat tiga kali lebih cepat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa ancaman kuantum dan AI terhadap keamanan digital bukan lagi wacana masa depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia perlu mulai memasukkan kesiapan pasca-kuantum dalam peta jalan keamanan siber sektor keuangan. Pelaku industri kripto dan blockchain di Tanah Air juga dituntut untuk tidak hanya berfokus pada aspek legalitas, tetapi juga pada ketahanan infrastruktur terhadap serangan yang belum terjadi. Tanpa persiapan, adopsi aset digital bisa berisiko tinggi di kemudian hari.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah komputer kuantum akan tiba, melainkan seberapa cepat ekosistem kripto global dan nasional mampu bertransisi ke standar yang aman. Zcash telah mengambil langkah awal, tetapi masih banyak yang harus dibuktikan, terutama dalam hal adopsi jaringan dan interoperabilitas dengan protokol lain. Jika berhasil, ini bisa menjadi cetak biru bagi mata uang kripto lain, termasuk yang sedang dikembangkan di Indonesia.



