Steiner Blak-blakan: Ferrari Ogah Akui Salah, Strategi Bahrain Jadi Bukti
Baca dalam 60 detik
- Mantan bos Haas, Guenther Steiner, menilai Ferrari enggan mengakui kesalahan strategi, yang berdampak pada performa di lintasan.
- Keputusan memakai ban slick saat hujan di Bahrain membuat Hamilton dan Leclerc terpuruk, meski akhirnya finis ketiga dan keempat.
- Steiner membandingkan Ferrari dengan McLaren yang lebih cepat mengoreksi kesalahan, menyoroti budaya tim yang menghambat perbaikan.

Guenther Steiner, mantan principal tim Haas, melontarkan kritik pedas terhadap Ferrari. Menurutnya, budaya tim yang enggan mengakui kesalahan strategi telah menjadi penghambat utama performa di lintasan. Kritik ini muncul setelah insiden di Grand Prix Bahrain, di mana Ferrari memilih ban slick meski kondisi trek basah.
Dalam podcast The Red Flags, Steiner menganalisis keputusan kontroversial tersebut. Ia menyoroti bagaimana Ferrari bersikeras mempertahankan pilihan ban slick, sementara McLaren dengan cepat beralih ke ban intermediate untuk Oscar Piastri. Perbedaan respons ini, kata Steiner, mencerminkan perbedaan budaya tim dalam menghadapi kesalahan.
"Di McLaren, mereka berkata, 'Oke, kita salah, mari perbaiki.' Di Ferrari, mereka berpikir, 'Tidak, kita harus tunjukkan bahwa keputusan kita benar, meskipun salah, karena kita tidak bisa mengakui kesalahan,'" ujar Steiner.
Akibatnya, Lewis Hamilton dan Charles Leclerc terpuruk ke belakang pada lap-lap awal. Meski keduanya mampu bangkit dan finis di posisi ketiga dan keempat, insiden ini menyisakan pertanyaan besar tentang manajemen strategi Ferrari. Hamilton sendiri mengaku memiliki perasaan campur aduk usai balapan.
"Saya sangat bersyukur bisa kembali ke podium, tetapi di sisi lain, melihat ban slick terpasang dan trek yang berbahaya, hati saya sempat hancur. Saya pikir balapan sudah berakhir," tutur Hamilton kepada Sky Sports F1. "Namun tim melakukan pekerjaan baik di pit stop. Saya berharap ada lebih banyak waktu dan kesempatan untuk maju. Safety car di akhir benar-benar berkah."
Kritik Steiner menyoroti masalah budaya tim yang lebih dalam. Dalam olahraga kompetitif seperti F1, kemampuan untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan adalah kunci. Ferrari, dengan sejarah panjang dan tekanan publik yang besar, sering kali terjebak dalam ego untuk mempertahankan keputusan yang jelas keliru. Hal ini tidak hanya merugikan pembalap tetapi juga menghambat pengembangan tim secara keseluruhan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika internal Ferrari ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya evaluasi diri dan adaptasi cepat. Meskipun tidak ada kaitan langsung dengan industri otomotif nasional, prinsip manajemen risiko dan pengambilan keputusan yang efektif dapat diterapkan dalam berbagai konteks, termasuk dalam pengelolaan tim olahraga atau bisnis.
Ke depan, Ferrari perlu merenungkan pendekatan mereka jika ingin kembali bersaing di puncak. Apakah mereka akan mengubah budaya tim untuk lebih terbuka terhadap kesalahan, atau terus terjebak dalam siklus yang sama? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan dari publik dan ekspektasi tinggi bisa menjadi katalis perubahan.



