Mantan Napi yang Dulu Bekerja untuk 'Wolf of Wall Street' Luncurkan Startup AI untuk Kaum Eks-Narapidana
Baca dalam 60 detik
- Richard Bronson, mantan partner Stratton Oakmont, membangun Commissary Club, platform pencarian kerja berbasis AI yang menyasar eks-narapidana.
- Model bisnisnya berbayar: sepuluh lamaran pertama gratis, selanjutnya Rp2,3 juta per sepuluh lamaran atau Rp230 ribu per lamaran.
- Langkah ini menyoroti celah pasar tenaga kerja yang kerap diabaikan industri teknologi, dengan pendekatan yang menimbulkan pertanyaan etis.

Richard Bronson, seorang pengusaha yang pernah mendekam di penjara federal karena pelanggaran sekuritas, kini meluncurkan Commissary Club, sebuah platform media sosial berbasis kecerdasan buatan yang secara khusus menyasar pasar yang jarang dilirik: para mantan narapidana yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal setelah bebas.
Latar belakang Bronson memang tidak biasa. Pada 1980-an, ia sempat menjadi partner di Stratton Oakmont, perusahaan pialang yang dikenal karena skandal korupsi dan dipimpin oleh Jordan Belfort—figur yang menginspirasi film The Wolf of Wall Street. Setelah setahun, Bronson keluar dan mendirikan firma sendiri di Florida Selatan. Bisnisnya berkembang pesat hingga bernilai USD100 juta, tetapi sebagian kesuksesan itu diraih dengan melanggar hukum pasar modal. Ia akhirnya kehilangan segalanya, termasuk kebebasan, dan menjalani hukuman penjara beberapa tahun.
Pengalaman itulah yang membentuk visi Commissary Club. Sepulang dari penjara, Bronson menyadari betapa sulitnya mendapat pekerjaan meski memiliki pendidikan dan pengalaman kerja. "Tidak ada yang mau mempekerjakan saya. Saya seperti radioaktif," kenangnya. Kondisi itu diperparah dengan minimnya dukungan bagi mantan narapidana yang tidak memiliki keterampilan atau pengalaman kerja. "Jika saya saja kesulitan, bagaimana dengan teman-teman saya yang pendidikannya rendah?" ujarnya.
Commissary Club menawarkan solusi melalui teknologi. Situs ini menggunakan AI untuk membantu pengguna menavigasi proses pencarian kerja dan perumahan yang sering membingungkan. Selain itu, ada komponen sosial yang memungkinkan pengguna berinteraksi, mirip Facebook, untuk menemukan komunitas—sesuatu yang menurut Bronson sangat penting karena banyak eks-narapidana merasa terisolasi. Platform ini juga tampaknya dirancang sebagai jaringan rujukan dan bahkan menyediakan fitur kencan.
Meski misinya sosial, Commissary Club adalah perusahaan profit. Bronson menegaskan bahwa ini bukan organisasi nirlaba. "Ada komponen misi yang kuat, tetapi kami mengejar pasar besar yang tidak ada orang lain sentuh," tegasnya. Ia juga menyoroti paradoks AI: alih-alih menghilangkan pekerjaan, teknologinya justru menciptakan peluang bagi mereka yang tersisih. "Kami membangun AI yang menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang yang ditinggalkan masyarakat," tambahnya.
"Saya mendedikasikan hidup saya untuk membantu saudara-saudara saya yang memiliki catatan kriminal. Sebagian karena penyesalan atas perbuatan saya dulu. Saya masih menyesal setiap hari." — Richard Bronson
Pendekatan Bronson menuai sorotan. Di satu sisi, ia mengisi celah yang diabaikan banyak pengusaha teknologi. Di sisi lain, model berbayar untuk kelompok rentan bisa menuai kritik, terutama karena eks-narapidana sering kali tidak memiliki sumber daya finansial. Namun, Bronson melihatnya sebagai win-win solution: bisnis yang menghasilkan keuntungan sekaligus membantu komunitas yang terpinggirkan.
Kisah Commissary Club mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi, di mana AI semakin digunakan untuk mengatasi masalah sosial. Namun, pertanyaan etis tetap muncul: sejauh mana pendekatan komersial dapat diterapkan pada kelompok yang membutuhkan bantuan? Ke depan, keberhasilan platform ini akan bergantung pada apakah pengguna benar-benar mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal, bukan sekadar janji teknologi.



