Goldman Naikkan Target Harga SpaceX, Cramer: Sinyal Visi Musk Mulai Terwujud
Baca dalam 60 detik
- Goldman Sachs menaikkan target harga SpaceX dari $220 ke $230 per saham dengan peringkat beli, mengimplikasikan potensi kenaikan sekitar 37% dari harga penutupan Rabu.
- Jim Cramer menilai langkah Goldman tersebut memvalidasi valuasi SpaceX yang sebelumnya dianggap terlalu ambisius, terutama setelah saham sempat jatuh ke level $104,83 pada Agustus.
- SpaceX dilaporkan tengah mencari pendanaan tambahan senilai $40 miliar untuk membeli lebih banyak chip Nvidia dan memperluas bisnis komputasi, yang berpotensi menjadikannya klien terbesar Nvidia.

Goldman Sachs menaikkan target harga untuk SpaceX dari $220 menjadi $230 per saham pada Selasa (6/10/2026), mempertahankan peringkat beli. Langkah ini dianggap oleh analis CNBC, Jim Cramer, sebagai sinyal bahwa visi ambisius Elon Musk untuk perusahaan antariksa tersebut mulai terwujud lebih cepat dari perkiraan pasar.
Target baru itu menyiratkan potensi kenaikan sekitar 37% dari harga penutupan Rabu, dan berada sekitar $5 di atas rekor tertinggi saham SpaceX sebesar $225,64 yang dicapai pada 16 Juni, hanya beberapa hari setelah penawaran umum perdana (IPO) yang memecahkan rekor. Bagi Cramer, makna dari keputusan Goldman jauh melampaui kenaikan $10 itu sendiri.
Setelah mencapai puncak tersebut, saham SpaceX sempat terpuruk. Ketika diperdagangkan serendah $104,83 pada awal Agustus, Cramer menilai target awal Goldman di $220 lebih bersifat aspirasional ketimbang analitis. Namun, keputusan firma itu untuk menaikkan target saat harga saham masih jauh di bawahnya menunjukkan bahwa valuasi awal tersebut mulai mendapat pembenaran. "Kenaikan $10 dari $220 ke $230 meratifikasi angka $220 sebelumnya, yang berarti sesuatu ketika saham berada di $167," ujar Cramer. "Mungkin memang ada ketelitian dalam analisis ini."
Cramer secara konsisten membela SpaceX dari kritik yang menganggapnya sebagai saham mahal yang disukai investor ritel. Ia menilai valuasi tersebut mencerminkan perusahaan dengan beragam jalur pertumbuhan, mulai dari jaringan internet satelit Starlink dan bisnis roket yang dapat digunakan ulang, hingga ambisi jangka panjang di sektor pusat data. SpaceX juga menghasilkan pendapatan dengan menyewakan kelebihan daya komputasi kepada perusahaan seperti Anthropic dan Google milik Alphabet.
Bisnis komputasi itu tampaknya akan menjadi bagian yang lebih besar dari tesis bullish, terbukti dari laporan media bahwa SpaceX tengah berupaya mengumpulkan tambahan $40 miliar untuk membeli lebih banyak chip Nvidia dan memperluas operasinya. Financial Times, yang pertama melaporkan hal ini, menyebut kesepakatan tersebut dapat mencakup $10 miliar pinjaman bank dan $30 miliar utang investasi.
"Mengapa tidak? Musk dapat segera memonetisasi chip-chip ini. SpaceX bisa menjadi klien terbesar Nvidia dengan laju seperti ini. Itu kabar fantastis bagi kedua belah pihak," kata Cramer.
Meski demikian, Cramer belum memasukkan SpaceX ke dalam portofolio Charitable Trust-nya, yang digunakan oleh CNBC Investing Club. Ia menegaskan bahwa saham tersebut masih terlalu spekulatif untuk portofolio tersebut. Namun, ia mengakui bahwa kemajuan perusahaan membuat potensinya yang dulunya ambisius semakin nyata. "Anggota Club, pantau terus, karena semakin mungkin SpaceX bisa terwujud jauh lebih cepat daripada Tesla," ujarnya.
Nvidia sendiri telah lama menjadi holding di portofolio Club. Dalam Morning Meeting Club sebelumnya, Cramer menyatakan bahwa penggalangan dana SpaceX juga akan menguntungkan Nvidia. "Musk melakukan apa yang digariskan [CEO Nvidia] Jensen Huang, yaitu 'Beli komputasi kami, lalu pinjamkan, dan Anda akan menghasilkan banyak uang'," tambahnya.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menawarkan perspektif tentang bagaimana ekosistem teknologi global bergerak semakin erat antara perusahaan antariksa, penyedia chip, dan raksasa teknologi. Meskipun SpaceX belum dapat diakses langsung di Bursa Efek Indonesia, dampak tidak langsungnya terhadap rantai pasok semikonduktor dan perusahaan teknologi dalam negeri patut dicermati. Pemerintah Indonesia yang tengah mendorong pengembangan ekosistem digital dan pusat data juga dapat mengambil pelajaran dari model bisnis komputasi yang dijalankan SpaceX, terutama dalam hal monetisasi infrastruktur dan kemitraan strategis.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah lonjakan target harga ini akan diikuti oleh fundamental yang solid, atau justru menjadi puncak euforia sebelum koreksi. Dengan valuasi yang sudah sangat tinggi dan ketergantungan pada ekspansi bisnis komputasi, SpaceX berada di persimpangan antara menjadi pemain dominan di industri antariksa dan komputasi, atau menghadapi koreksi tajam jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi.



