Manus Kantongi Dana Segar US$500 Juta Usai Ditinggal Meta, Valuasi Tembus US$4 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Manus mengumpulkan lebih dari US$500 juta dalam putaran pendanaan pertama setelah Meta membatalkan akuisisi senilai US$2 miliar akibat larangan regulator China.
- Dana dipimpin Boyu Capital dan IDG Capital, dengan partisipasi Tencent, HSG, dan ZhenFund, menandakan investor tetap percaya pada sektor agen AI meski persaingan model dasar memanas.
- Tantangan berikutnya bagi Manus adalah membuktikan profitabilitas, skala, dan kepatuhan regulasi sebelum berpotensi melantai di bursa saham.

Perusahaan rintisan agen kecerdasan artifisial Manus resmi mengantongi lebih dari US$500 juta (sekitar Rp7,8 triliun) dalam putaran pendanaan pertama sejak Meta Platforms dipaksa membatalkan akuisisi senilai US$2 miliar. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa investor tidak gentar terhadap intervensi regulator China yang sebelumnya menggagalkan transaksi tersebut.
Butterfly Effect, induk usaha Manus, mengumumkan bahwa putaran tersebut dipimpin oleh Boyu Capital dan IDG Capital, dengan suntikan lanjutan dari pemegang saham eksisting seperti Tencent, HSG, dan ZhenFund. Meski nilai valuasi pasca-pendanaan tidak diungkap, laporan Bloomberg bulan lalu menyebut Manus berpotensi menggandakan valuasinya menjadi US$4 miliar—angka yang akan menempatkannya sebagai pembuat agen AI paling bernilai di China.
Keputusan Beijing memblokir akuisisi Meta sempat dianggap sebagai pukulan telak. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China secara tegas melarang investasi asing dalam proyek Manus, tepat ketika Meta mulai mengintegrasikan tim dan teknologi Manus ke dalam sistemnya. Namun, alih-alih lumpuh, Manus justru bangkit dengan pendanaan besar yang menunjukkan bahwa pasar masih melihat prospek komersial agen AI sebagai mesin pertumbuhan baru.
Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group, menilai bahwa keberhasilan pendanaan ini membuktikan dampak jangka pendek dari kasus Meta telah terisolasi. "Investor bersedia mendukung Manus sebagai perusahaan independen," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kepercayaan terhadap potensi komersial agen AI kembali menguat. Senada, Han Lin dari The Asia Group menegaskan bahwa tugas mendesak Manus kini adalah membuktikan skala, profitabilitas, dan kepatuhan terhadap regulasi China.
Sejak berpisah dari Meta, Manus tidak tinggal diam. Perusahaan meluncurkan Manus 2.0 yang dibangun di atas sistem eksekusi internal bernama Cascade, serta memperkenalkan Cue—aplikasi agen personal mandiri yang setiap agennya memiliki alamat email, nomor telepon, dan dompet digital sendiri. Meta pun terus melaju dengan agen AI personalnya, Muse, yang diluncurkan awal September dan mengadopsi pendekatan open-source OpenClaw.
"Integrasi erat dengan Manus tidak hilang begitu transaksi dibatalkan. Anda bisa memisahkan perusahaan, tetapi Anda tidak bisa membuat para insinyur melupakan apa yang telah mereka pelajari," kata Matthias Hendrichs, penasihat perusahaan AI global yang berbasis di Singapura.
Bagi Indonesia, dinamika Manus menjadi cermin penting. Ketika adopsi AI generatif di dalam negeri terus melesat—terutama di sektor jasa keuangan, e-commerce, dan layanan publik—ketergantungan pada teknologi asing semakin terlihat. Pemerintah Indonesia perlu mempercepat regulasi yang tidak hanya mengatur etika AI, tetapi juga mendorong lahirnya pemain lokal yang mampu bersaing. Tanpa itu, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumen, bukan pusat inovasi.
Ke depan, Manus disebut-sebut mengincar penawaran umum perdana (IPO). Namun, jalan menuju bursa tidak mudah: perusahaan harus merapikan struktur bisnis dan kepemilikan agar sejalan dengan persyaratan regulator, sekaligus meyakinkan investor akan profitabilitas berkelanjutan. Pertanyaannya, akankah Manus menjadi preseden bagi startup China lain yang terjepit di antara kepentingan geopolitik, atau justru sebaliknya—membuktikan bahwa inovasi tetap bisa tumbuh meski tanpa raksasa teknologi?



