Hamilton Sebut Generasi Muda F1 Makin Ragu Balapan di Hujan, Singapura Jadi Ujian
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menilai pembalap muda F1 kini lebih berhati-hati saat balapan dalam kondisi hujan dibanding generasi sebelumnya.
- Insiden di Malaysia memperlihatkan kombinasi masalah ban intermediate dan gangguan perangkat lunak pada mobil era 2026.
- Balapan di Singapura berpotensi menjadi ajang pembuktian apakah budaya balap di kondisi ekstrem masih terjaga.

Lewis Hamilton menyoroti perbedaan pendekatan antargenerasi pembalap Formula 1 dalam menghadapi balapan di lintasan basah. Juara dunia tujuh kali itu menilai pembalap muda saat ini cenderung lebih berhati-hati, bahkan enggan mengambil risiko ketika hujan turun. Pernyataan ini muncul setelah balapan di Sirkuit Sepang, Malaysia, yang sempat tertunda 40 menit akibat hujan deras sebelum start.
Hamilton, yang kini berusia 41 tahun, mengingat pengalamannya pada 2008 sebagai salah satu balapan hujan terbaik dalam kariernya. Ia menilai perbedaan utama bukan sekadar soal nyali, melainkan juga berkurangnya sesi pengujian dan karakter ban hujan yang berbeda dari era Bridgestone. Menurutnya, pembalap senior dan junior kini menerima informasi yang berbeda dari tim, sehingga memunculkan dua kubu: yang ingin segera balapan dan yang memilih menunggu kondisi lebih aman.
“Saya pribadi menyukai balapan di hujan. Tapi penyelenggara kini jauh lebih berhati-hati, dan pembalap muda juga semakin berhati-hati,” ujar Hamilton, seperti dikutip Motorsport.com. “Pembalap senior berpikir ‘ayo balapan’, sementara banyak yang muda berpikir ‘jangan dulu’. Di situlah saya ingin segera memacu mobil dalam kondisi ekstrem, karena di situlah kami benar-benar diuji. Apakah lebih berisiko? Tentu saja.”
Carlos Sainz menilai keputusan race direction di Malaysia sudah tepat. Pembalap Spanyol berusia 32 tahun itu menegaskan bahwa hujan saat itu memang terlalu deras untuk memulai balapan, dan waktu pemberian lampu hijau sudah sesuai. Ia menyebut kegagalan yang terjadi bukan karena pembalap menolak balapan di kondisi basah, melainkan akibat faktor eksternal seperti perangkat lunak. “Jika hujan turun, saya menyambutnya karena itu memberi peluang lebih besar untuk tampil kompetitif,” kata Sainz.
Berbeda dengan Sainz, pembalap muda Isack Hadjar justru menyoroti kesulitan teknis. Pembalap Prancis berusia 22 tahun itu sempat keluar lintasan ke gravel pada putaran formasi. Menurutnya, ada dua masalah utama: perangkat lunak yang membuat pembalap tidak tahu kapan tenaga akan muncul, serta ban intermediate yang tidak mampu menangani genangan air. “Saya tumbuh dengan pemahaman bahwa ban hujan dipakai di lintasan basah dan tinggal dikendarai. Sekarang saya harus menghindari genangan tertentu. Kami butuh ban yang lebih baik,” ujarnya.
Masalah ban hujan penuh memang klasik. Ban jenis ini biasanya tidak sekencang ban intermediate, sementara kondisi yang benar-benar membutuhkannya justru dianggap terlalu basah untuk balapan. Akibatnya, pembalap sering terjebak di zona abu-abu: lintasan terlalu basah untuk ban kering, tetapi terlalu kering untuk ban hujan penuh.
Soal gangguan perangkat lunak, Sergio Perez tidak sependapat bahwa itu masalah besar. Pembalap berusia 36 tahun itu menjelaskan bahwa pengemudi masih bisa mengontrol besaran kilowatt yang dialirkan. “Ini lebih mudah dari yang saya kira karena Anda bisa mengatur seberapa besar tenaga yang muncul. Bisa dari 350kW, 250kW, hingga 200kW. Terserah pembalap,” kata Perez, yang membalap untuk Cadillac bertenaga Ferrari, sementara Hadjar menggunakan unit daya Red Bull Ford.
“Balapan hujan tidak lagi sama seperti dulu. Saya menyukai tantangannya, tetapi penyelenggara dan pembalap muda kini jauh lebih berhati-hati.” — Lewis Hamilton
Perdebatan ini menjadi relevan menjelang Grand Prix Singapura akhir pekan ini. Prakiraan cuaca menunjukkan peluang hujan yang kecil namun tidak bisa diabaikan sepanjang balapan. Jika hujan benar-benar turun, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang tercepat, melainkan apakah budaya balap di kondisi ekstrem masih menjadi bagian dari DNA Formula 1, atau justru perlahan tergeser oleh protokol keselamatan dan keterbatasan teknis.
Bagi penggemar di Indonesia, isu ini juga menyentuh sisi lain: regulasi teknis dan keselamatan yang semakin ketat kerap diadopsi oleh ajang balap nasional, termasuk kejuaraan lokal yang mulai menggunakan mobil bertenaga hibrida. Jika F1 saja masih bergulat dengan keseimbangan antara keberanian dan keamanan, bagaimana nasib balapan hujan di sirkuit-sirkuit Indonesia yang infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung? Jawabannya mungkin akan terlihat di Singapura nanti.



