John Herdman Bongkar Rahasia Persiapan Penalti Timnas Indonesia: Simulasi 40 Staf Berteriak di Belakang Gawang
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengungkap proses seleksi eksekutor penalti yang tidak dilakukan secara spontan, melainkan berdasarkan data dan pengalaman pemain.
- Simulasi tekanan ekstrem diterapkan dengan memutar musik riuh dan menempatkan sekitar 40 staf di belakang gawang untuk meniru atmosfer Stadion Gelora Bung Karno.
- Keputusan taktis dalam pertandingan, termasuk pergantian pemain, turut mempertimbangkan potensi adu penalti, menunjukkan perencanaan menyeluruh menghadapi skenario terburuk.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, membeberkan pendekatan terencana dalam menghadapi kemungkinan adu penalti kontra Thailand pada final FIFA ASEAN Cup 2026. Ia menegaskan bahwa penunjukan algojo bukan keputusan instan, melainkan hasil evaluasi ketat terhadap rekam jejak dan ketangguhan mental para pemain.
Dalam wawancara eksklusif dengan Liputan6 Sport, Herdman menjelaskan bahwa tim pelatih menyaring kandidat berdasarkan dua parameter utama: pengalaman mengambil penalti di level klub dan kontribusi bagi Timnas Indonesia. Nama Kevin Diks, bek yang akrab dengan peran eksekutor di klubnya, disebut sebagai salah satu yang masuk radar. Namun, aspek psikologis juga menjadi pertimbangan dominan.
Staf pelatih kiper sekaligus spesialis bola mati, Andy, ditugaskan mengompilasi data tersebut. Hasilnya kemudian dipresentasikan ke seluruh staf teknis sehari sebelum laga untuk memastikan pemain yang dipilih benar-benar siap secara mental. "Kami melihat siapa yang punya pengalaman, persentase penalti yang baik, dan rasa percaya diri. Itulah yang kami butuhkan," ujar Herdman.
Persiapan tidak berhenti pada aspek teknis. Herdman dan stafnya merancang latihan yang secara sengaja menciptakan ketidaknyamanan. Setelah sesi utama, para calon eksekutor menjalani latihan penalti dengan gangguan suara dan tekanan verbal dari puluhan staf yang berdiri di belakang gawang. "Kami menciptakan suasana seperti di GBK yang penuh sesak," kata pelatih asal Inggris itu.
Tujuan simulasi ini adalah melatih pemain mengendalikan emosi dan tetap setia pada rencana awal. Herdman menekankan pentingnya komitmen: eksekutor tidak boleh mengubah arah tendangan hanya karena membaca gerakan kiper. "Kuncinya adalah tidak mengubah pikiran. Anda harus tetap pada proses," tegasnya.
"Kami sangat hati-hati dengan momen tersebut. Orang mungkin tidak mengerti detailnya ketika kami mengatakan semuanya adalah sebuah proses."
โ John Herdman, Pelatih Timnas Indonesia
Menariknya, simulasi tersebut mengadopsi sistem eliminasi. Pemain yang gagal diberi kesempatan tambahan untuk membuktikan ketangguhan mereka. Mereka yang mampu melewati tahap ini dianggap sebagai kandidat terpercaya jika pertandingan benar-benar berlanjut ke adu penalti.
Herdman juga mengungkap bahwa keputusan pergantian pemain selama pertandingan tidak lepas dari perhitungan adu penalti. Ada pemain yang tetap dipertahankan di lapangan karena perannya krusial dalam permainan, meski namanya masuk daftar eksekutor terbaik. "Kami membutuhkan mereka selama 15 menit pertandingan. Kami harus percaya bahwa mereka akan memenangkan duel, dan salah satunya melakukannya," jelasnya.
Bagi Herdman, seluruh persiapan ini merupakan bagian dari keseimbangan antara strategi pertandingan dan antisipasi skenario terburuk. "Semua sudah dipersiapkan," pungkasnya.
Langkah yang ditempuh Herdman mencerminkan pergeseran pendekatan di sepak bola modern, di mana detail kecil sering menjadi pembeda antara juara dan runner-up. Dengan tekanan sebesar final ASEAN Cup, kemampuan mengeksekusi penalti di bawah tekanan bisa menjadi faktor penentu. Publik Indonesia kini menanti apakah persiapan obsesif ini akan berbuah manis di lapangan.



