Pangeran Harry Akui Bertahun-tahun Percaya Diana Akan Kembali Menjemputnya
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry mengungkap bahwa ia lama meyakini ibunya, Putri Diana, tidak benar-benar wafat dan akan kembali menjemputnya dengan penyamaran.
- Dalam kelas master bertema duka, ia mengaku sempat merasa bersalah jika bahagia tanpa Diana, sebelum akhirnya mengalami pergeseran cara pandang.
- Kisah ini menyoroti bagaimana otak manusia mempertahankan ikatan dengan orang yang telah tiada, dan relevan bagi diskusi kesehatan mental di Indonesia.

Pangeran Harry mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun setelah kematian tragis ibunya, Putri Diana, ia hidup dengan keyakinan bahwa sang ibu masih hidup dan akan datang menjemputnya. Dalam sebuah kelas master daring bertajuk Redefining Grief: Building Resilience Through Loss, Harry berbicara kepada neuroscientist Dr. Mary-Frances O’Connor tentang masa-masa sulit setelah kehilangan Diana pada kecelakaan mobil di Paris tahun 1997, saat ia baru berusia 12 tahun.
Harry mengaku sempat berpikir bahwa kepergian Diana adalah semacam pelarian dari tekanan hidup, dan bahwa ibunya akan kembali dengan penyamaran untuk membawanya bersama Pangeran William pergi. “Saya percaya bahwa dia menciptakan jalan keluar untuk menjauh dari segala hal yang menghancurkan hidupnya, dan dia akan kembali dalam suatu penyamaran lalu menjemput saya dan saudara saya,” ujarnya dalam sesi tersebut.
Dr. O’Connor menegaskan bahwa keyakinan semacam itu bukanlah tanda kegilaan. Menurutnya, ikatan emosional yang kuat—seperti hubungan orang tua dan anak—tertanam di otak sebagai konsep “kita” yang menuntut kehadiran satu sama lain. “Ketika orang yang kita cintai meninggal, otak tidak serta-merta melepaskan keyakinan bahwa mereka abadi. Kita masih merasa mereka ada di luar sana, hanya tersesat, dan kita merindukan mereka karena kita masih berharap mereka akan masuk melalui pintu,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa bagian otak yang mempertahankan ikatan lekat itulah yang membuat seseorang terus merasa terhubung dengan yang telah tiada.
Harry, yang kini berusia 42 tahun dan memiliki dua anak dari pernikahannya dengan Meghan Markle, mengaku sempat terperangkap dalam rasa bersalah karena bisa bahagia tanpa Diana. “Saya merasa tidak setia dan bersalah jika bahagia tanpa dia. Saya pikir saya harus sedih dan mati rasa untuk membuktikan bahwa saya merindukannya,” tuturnya. Namun, ia kemudian menyadari bahwa Diana justru menginginkan kebahagiaan untuknya. “Itu adalah pergeseran besar dalam pikiran saya. Itu membebaskan saya dan memberi saya pandangan hidup yang sama sekali berbeda,” tambahnya.
Pengalaman Harry mencerminkan fenomena psikologis yang umum terjadi pada individu yang kehilangan orang terdekat. Di Indonesia, di mana budaya kolektivis sangat menekankan ikatan keluarga, proses berduka sering kali diwarnai ekspektasi sosial untuk terus menunjukkan kesedihan. Banyak orang merasa berdosa jika mulai menikmati hidup setelah kehilangan, sehingga berisiko mengalami depresi berkepanjangan. Pemahaman bahwa otak secara alami mempertahankan ikatan dengan almarhum dapat membantu mengurangi stigma dan mendorong pencarian bantuan profesional.
“Dengan duka datang pula tanggung jawab—bukan sekadar beban, melainkan membawa sosok yang hilang sepanjang hidup. Ada elemen membawa ibu saya dalam diri saya yang pada akhirnya memberi energi untuk pekerjaan yang saya lakukan.” — Pangeran Harry
Harry juga menyebut bahwa segala upayanya, terutama di bidang amal, didorong oleh keinginan membuat ibunya bangga. Ia menyadari bahwa pekerjaan yang ia geluti sangat mirip dengan yang dilakukan Diana, dan hal itu memberinya kekuatan untuk terus melanjutkan warisannya. “Saya berharap ibu saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak menyadari bahwa pekerjaan yang saya pilih ternyata sangat mirip dengan yang dia lakukan,” ujarnya.
Kisah Harry ini bukan hanya tentang duka pribadi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memandang proses berduka. Di Indonesia, layanan konseling dan dukungan kesehatan mental masih terbatas, terutama di daerah. Kisah publik figur seperti Harry dapat menjadi pintu masuk untuk membahas pentingnya pendampingan psikologis bagi mereka yang kehilangan. Apakah sudah saatnya kita lebih terbuka membicarakan duka dan mencari bantuan profesional tanpa rasa malu?



