Pangeran Harry Ungkap Depresi Setelah Pindah ke Kanada: "Saya Tidak Bisa Berfungsi Tanpa Adrenalin"
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry mengungkap pengalaman depresi selama dua minggu setelah pindah ke Kanada pada 2019, yang ia sebut sebagai "adrenaline crash".
- Dalam kelas MasterClass bertema duka, ia menceritakan bagaimana stres kronis dan adrenalin menjadi mekanisme bertahan hidup sejak remaja.
- Kelas tersebut dirilis menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia dan mendukung dua badan amal duka.

Pangeran Harry, Duke of Sussex, mengungkap bahwa ia mengalami depresi selama sekitar dua minggu setelah pindah ke Kanada pada 2019. Dalam sesi MasterClass terbaru bertajuk Redefining Grief: Building Resilience Through Loss, ia menceritakan bagaimana perpindahan dari lingkungan penuh tekanan di Inggris memicu apa yang ia sebut sebagai "adrenaline crash"โkondisi di mana tubuhnya yang terbiasa dipacu adrenalin tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Harry dan istrinya, Meghan Markle, pindah ke Kanada beberapa bulan setelah kelahiran putra mereka, Archie, pada Mei 2019. Keputusan itu diambil untuk memberi ruang bagi pasangan tersebut berpikir jernih setelah bertahun-tahun hidup di bawah sorotan kerajaan. Namun, menurut Harry, justru di sana ia merasakan kehampaan yang mendalam. "Dalam dua atau tiga hari, saya mengalami kejatuhan adrenalin yang belum pernah saya rasakan sebelumnya," ujarnya. "Saya seperti membutuhkan stres untuk memicu adrenalin agar otak saya berfungsi. Saya jadi tidak berguna di rumah. Saya benar-benar terpuruk dalam depresi selama sekitar dua minggu."
Pengalaman ini bukan yang pertama ia bagikan. Harry telah lama terbuka tentang kesehatan mentalnya, terutama setelah kehilangan ibunya, Putri Diana, saat ia berusia 12 tahun. Ia mengaku bahwa keinginannya bergabung dengan militer pada usia 20 dipicu oleh kebutuhan akan adrenalin dan pelarian dari rasa duka. "Selama 15 hingga 20 tahun, ketika ditanya 'Apakah kamu baik-baik saja?', jawaban saya selalu 'Saya baik'. Itu mati rasa, penutupan emosi," tuturnya kepada neuroscientist Dr. Mary-Frances O'Connor dalam kelas tersebut.
Setelah kembali dari tur militernya di Afghanistan pada 2013, Harry mulai menyadari bahwa pengalaman traumatis di medan perang membangkitkan luka lama. "Hal-hal yang saya lihat dan alami tampaknya menjadi pemicu trauma lain yang tersimpan dalam diri saya," katanya. Ia menggambarkan bagaimana mengenakan kemeja formal dengan kerah ketat bisa membuatnya merasa tercekik, dan serangan panik muncul saat ia dalam perjalanan ke kantor. "Saat itulah saya sadar ada sesuatu yang lebih besar yang perlu saya telusuri."
"Saya tidak bisa berfungsi tanpa adrenalin. Saya butuh stres untuk merasa hidup." โ Pangeran Harry
Kelas MasterClass ini merupakan hasil pendekatan yang dilakukan MasterClass kepada Harry pada tahun lalu, dan direkam di California pada musim panas 2024. Peluncurannya bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, dengan sebagian hasil disumbangkan ke dua organisasi yang mendukung anak-anak berduka, Comfort Zone Camp dan Scotty's Little Soldiers.
Kisah Harry menyoroti fenomena yang kerap dialami individu dengan trauma kompleks: ketergantungan pada adrenalin sebagai mekanisme bertahan hidup. Psikolog klinis di Indonesia, Dr. Ratih Ibrahim, menilai bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa stres kronis dapat menjadi "obat" sementara yang membuat mereka merasa produktif. "Ketika sumber stres dihilangkan, tubuh bisa mengalami kejatuhan hebat karena tidak lagi memproduksi adrenalin dalam jumlah tinggi. Ini sering disalahartikan sebagai depresi berat, padahal bisa jadi fase penyesuaian," ujarnya saat dihubungi LyndHub.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental masih menghadapi tantangan, terutama di kalangan laki-laki. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi depresi di Indonesia mencapai 6,1% dari populasi, namun hanya sekitar 9% yang mengakses layanan kesehatan mental. Stigma dan norma maskulinitas yang menuntut pria untuk selalu tampak kuat menjadi penghalang utama. Kisah Harry, yang secara terbuka membicarakan kerapuhannya, bisa menjadi cermin bagi banyak pria Indonesia yang merasa terisolasi dalam diam.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana Harry pulih, tetapi bagaimana masyarakat luas dapat memahami bahwa kerentanan bukanlah kelemahan. Dengan semakin banyak figur publik yang berani bicara, diharapkan ruang untuk diskusi kesehatan mental semakin terbuka, termasuk di Indonesia. Apakah kita siap mendengarkan tanpa menghakimi?



