Peringatan 'Bunker Mode': AI Diprediksi Bisa Bobol Dompet Kripto dalam Hitungan Bulan
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Ethereum, Justin Drake, mendesak industri blockchain bersiap menghadapi skenario terburuk di mana AI mampu memecahkan kriptografi dompet Bitcoin dan Ether.
- Kekhawatiran ini muncul setelah OpenAI merilis 722 manuskrip matematika yang dihasilkan model AI, memicu spekulasi bahwa kemajuan AI dapat mempercepat serangan terhadap elliptic curve.
- Vitalik Buterin mengakui risiko tersebut namun memperingatkan agar pemegang aset tidak terburu-buru bermigrasi karena kesalahan teknis bisa menyebabkan kerugian lebih besar.

Industri mata uang kripto diminta bersiap menghadapi ancaman yang selama ini dianggap skenario fiksi ilmiah. Justin Drake, peneliti dari Ethereum Foundation, menyerukan agar para pemegang aset besar segera merancang protokol darurat—yang ia sebut "bunker mode"—untuk mengantisipasi kemungkinan kecerdasan buatan (AI) memecahkan matematika yang melindungi dompet Bitcoin dan Ether. Peringatan ini bukan tanpa dasar: Drake memprediksi dalam skenario terburuk, terobosan tersebut bisa terjadi "dalam hitungan bulan, bukan tahun."
Seruan tersebut disampaikan Drake melalui platform X pada Rabu, sehari setelah OpenAI merilis 722 manuskrip matematika yang dihasilkan oleh model AI yang belum dirilis. Model itu diuji pada sekitar 4.000 masalah riset, dan beberapa temuannya bahkan telah diverifikasi oleh peneliti independen. Menurut Drake, kemampuan AI dalam menemukan pola matematis yang rumit dapat dieksploitasi untuk menyerang elliptic curve—fondasi kriptografi yang digunakan oleh dompet Bitcoin dan Ethereum. Ia menilai kurva eliptik memiliki keteraturan yang, jika dipelajari oleh AI yang cukup kuat, bisa menjadi celah untuk membalikkan proses enkripsi dan mengungkap kunci privat.
Ancaman ini berbeda dari kekhawatiran lama tentang komputer kuantum. Selama ini, industri kripto bersiap menghadapi serangan kuantum yang membutuhkan perangkat keras khusus dan mahal. Namun, Drake memperingatkan bahwa AI dapat menemukan jalan pintas yang memungkinkan penyerang membobol dompet hanya dengan komputer biasa. Jika itu terjadi, jutaan Bitcoin yang tersimpan di alamat dengan kunci publik yang sudah terlihat di blockchain akan berada dalam jangkauan. Di Ethereum, setiap akun yang pernah mengirim transaksi telah mengungkap kunci publiknya, termasuk stablecoin dan dana tokenisasi yang dikendalikan melalui sistem tanda tangan yang sama.
Meski belum ada serangan praktis yang berhasil mendobrak kunci dompet Bitcoin atau Ethereum, sejumlah insiden menunjukkan AI mulai digunakan untuk mempercepat pencarian celah keamanan. Desember lalu, peneliti Anthropic menunjukkan bahwa model AI canggih mampu menulis eksploit yang berfungsi terhadap salinan simulasi kontrak DeFi. Pada akhir Juli, kelompok sukarelawan Bitcoin Red Team menggunakan model AI untuk memindai 390 proyek perangkat lunak Bitcoin dalam waktu sekitar 27 jam, mencatat hampir 5.000 potensi kelemahan, 85 di antaranya tergolong kritis. Serangan terhadap Coldcard pada 30 Juli lalu diduga turut memanfaatkan bantuan AI, dan beberapa insiden lain di ekosistem Lightning Network juga bermula dari audit berbantuan AI.
Vitalik Buterin, salah satu pendiri Ethereum, mengakui risiko ini nyata dan memperluasnya ke beberapa solusi pengganti yang selama ini diandalkan. Ia menyoroti kriptografi berbasis lattice—yang menjadi dasar standar tanda tangan digital NIST—sebagai area yang rentan terhadap kemajuan AI. "Ada kemungkinan besar keamanan konkret lattice akan mendapat pukulan serius dari matematika AI dalam dua tahun ke depan," tulis Buterin di X. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika AI mampu menghasilkan 50 tahun kemajuan matematika dalam dua tahun, peningkatan tersebut bisa mencakup kemampuan memecahkan lattice.
"Saya pribadi lebih banyak kehilangan uang karena migrasi yang gagal dibandingkan dari semua peretasan yang pernah terjadi." — Vitalik Buterin
Menghadapi dilema ini, Drake menyarankan pemegang aset canggih untuk bergerak lebih dulu, memindahkan dana ke alamat yang kunci publiknya belum pernah muncul di blockchain. Langkah ini menghilangkan titik awal yang dibutuhkan penyerang. Namun, Buterin mendukung pengurangan eksposur kunci publik secara praktis, tetapi mengingatkan agar pemegang aset tidak terburu-buru. Menurutnya, kesalahan selama migrasi justru bisa menyebabkan kerugian yang tidak perlu. Ia mengaku pernah kehilangan lebih banyak uang akibat proses migrasi yang gagal dibandingkan dari semua peretasan yang digabungkan.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi relevan mengingat semakin banyaknya investor ritel dan institusi yang menyimpan aset kripto. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti perlu mempertimbangkan aspek keamanan siber dalam regulasi aset kripto, termasuk mendorong penggunaan dompet dengan kunci publik yang belum terekspos. Selain itu, exchange lokal dituntut untuk meningkatkan standar audit keamanan, terutama menghadapi ancaman yang semakin canggih berbasis AI. Tanpa kesiapan ini, kepercayaan pasar yang sedang tumbuh bisa terguncang oleh insiden keamanan besar.
Dengan garis waktu yang tidak sejalan—Ethereum baru menargetkan migrasi ke kriptografi tahan kuantum pada 2029, sementara Drake memprediksi serangan klasik bisa terjadi jauh lebih awal—industri berada di persimpangan. Pertanyaannya, apakah para pemegang aset akan menunggu hingga ancaman menjadi nyata, atau mulai mengambil langkah mitigasi sejak sekarang?



